(Sikap Kami) Perlukah Sumpah Pemuda II?

(Sikap Kami) Perlukah Sumpah Pemuda II?
Ilustrasi/Antara Foto

KEMARIN, seluruh negeri ini, terutama anak-anak muda, memperingati Hari Sumpah Pemuda. Peringatan ini takkan memberi makna apa-apa jika para pemuda masih terpolarisasi tajam akibat kepentingan politik sesaat.

Ketika 91 tahun lalu, para pemuda berkumpul dan menyampaikan tekadnya, situasinya mungkin lebih berat, tapi tak selicin saat ini. Ketika itu jelas, persatuan dibangun dalam intaian penjajah. Semua menyatukan tekad, bersatu menghadapi lawan yang jelas dan terang-benderang.

Kini, “lawan” yang muncul adalah remang-remang. Dia bisa ada di belakang, di samping kiri-kanan, atau bahkan sejengkal di depan. Lawannya, ya anak-anak muda yang terkontaminasi politik hanya untuk membela politisi, bukan membela negara-bangsa.

Betapa terbelahnya para pemuda karena politik, jelas terlihat melalui penunjukan sikap yang terpolarisasi sebagai kubu A atau B. Saling kecam, saling caci, saling maki, adalah keseharian yang kita hadapi. Media sosial pun memupuk mentalitas yang jahat bagi anak muda. Saat ini yang mencuat adalah jika tak sependapat, berarti lawan. Sehitam putih itu.

Proklamator Bung Karno ada benarnya. Sekali waktu, dia bilang kira-kira begini: perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih berat karena melawan bangsamu sendiri.

Situasi itu diperparah karena bangsa ini kemudian juga abai pada budayanya sendiri, soal akhlak yang baik. Kini, perbuatan mencaci seseorang, termasuk mencaci pemimpin, orang tua, menjadi sesuatu yang biasa, bahkan menjadi kebanggaan. Tak ada lagi saling menghormati, menghargai.

Perselisihan ini, bibit perpecahan itu, hanya akan bisa diselesaikan jika kita kembali kepada cita-cita murni kemerdekaan. Cita-cita bersatu untuk membangun negeri dengan tangan sendiri. Cita-cita membangun bangsa untuk kesejahteraan semua, sebuah negara yang adil dan beradab.

Hari-hari ini, ketika kita memperingati Sumpah Pemuda, fakta yang sebenarnya terjadi adalah kita sudah melupakannya dalam kehidupan sehari-hari kita. Kita hanya peduli pada ego, kepentingan diri sendiri, keluarga kita, kelompok kita, dan bukan pada kepentingan kita sebagai bangsa. Haruskah kita bersumpah untuk bersatu kembali, seperti yang dilakukan para pemuda 91 tahun lalu? (*)