Polusi Udara Picu Serangan Jantung dan Stroke

Polusi Udara Picu Serangan Jantung dan Stroke
istimewa

INILAH, London-Angka penderita serangan jantung dan stroke meningkat akibat tingginya polusi udara di beberapa kota di Inggris.

The Guardian melaporkan, sejumlah anak-anak dan orang dewasa telah dilarikan ke rumah sakit akibat kondisi tersebut.

Pada kondisi polusi yang tinggi, rumah sakit menerima tambahan pasien lebih dari 120 kasus serangan jantung, 230 kasus stroke, dan hampir 200 kasus asma yang memerlukan penanganan darurat.

Kepala Layanan Kesehatan Inggris (NHS) Simon Stevens mengatakan bahwa iklim yang buruk berpotensi memicu kesehatan yang buruk.

"Angka terbaru menunjukkan polusi udara menyebabkan ribuan korban stroke, gagal jantung, dan asma, jadi sangat jelas bahwa keadaan darurat iklim juga keadaan darurat kesehatan. Kita harus bertindak sekarang, bukan 2025 atau 2050," ujarnya.

Studi sebelumnya membuktikan, ada lonjakan kunjungan dan pelayanan rumah sakit karena polusi udara.

Hasil tersebut kemudian dilengkapi oleh riset terbaru yang memberi seberapa banyak jumlah pasien yang terdampak polusi udara dan mengalami serangan jantung, stroke, hingga penyakit pernapasan lain.

Menurut laporan yang akan diterbitkan bulan depan, tim dari King's College London (KCL) membagi satu tahun menjadi dua kelompok.

Kelompok pertama merupakan bulan-bulan dengan kualitas udara buruk, sementara kelompok kedua berisi bulan-bulan dengan kualitas udara normal.

Mereka menemukan, ketika kualitas udara sangat buruk pihak rumah sakit mendapat tambahan 388 pasien dengan keluhan sakit pada pernapasan, serangan jantung, hingga stroke.

Hal ini membuktikan, polusi udara tak hanya memberi efek buruk untuk jangka panjang seperti penurunan kognitif, pertumbuhan anak-anak terhambat, hingga kematian dini. Namun, polusi udara juga menyebabkan berbagai penyakit serius muncul lebih cepat

"Banyak orang yang mungkin tidak menyadari betapa bahayanya paparan polusi udara dengan level tinggi. Padahal, hal ini dapat memicu serangan jantung, stroke, dan asma serta memiliki efek panjang pada kesehatan," papar Jenny Bates, aktivis lingkungan Friends of the Earth.

Menurut dia, angka tersebut dapat menjadi peringatan bagi para pengambil kebijakan untuk mengambil tindakan.

Ahli kesehatan sekaligus anggota tim riset KCL Heather Walton mengatakan, penelitian ini bermaksud untuk memberi gambaran lebih detail terkait dampak buruk polusi udara untuk kesehatan manusia.

Para peneliti melakukan riset dengan cara ikut melakukan rawat inap untuk memberikan gambaran lebih jelas mengenai dampak polusi udara terhadap pasien darurat.

"Hasil pengamatan memberikan bukti tambahan tentang perlunya tindakan lebih lanjut untuk mengurangi polusi udara," kata Walton.

Sementara menurut Bates, zona udara bersih sangatlah dibutuhkan. Salah satunya dengan upaya untuk mengurangi penggunaan kendaraan bermotor.

"Upaya mengurangi penggunaan kendaraan bermotor diperlukan karena semua kendaraan menghasilkan polusi udara partikel mematikan yang mematikan dari rem dan keausan ban. Dengan cara ini krisis kesehatan polusi udara dan darurat iklim dapat diatasi bersama, juga membantu menjadikan kota-kota kita lebih sehat dan lebih menarik," ujar dia. (inilah.com)