Sikap Kami: Antara Calon dan Calo

Sikap Kami: Antara Calon dan Calo

PEMERINTAH sudah mengumumkan alokasi penerimaan calon pegawai negeri sipil (CPNS) tahun 2019. Maka, mulai sekarang, calo-calo sudah mulai bergerak. Jangan percaya mereka.

Alokasi formasi yang terbuka tahun ini cukup besar, termasuk di wilayah Jawa Barat. Kota Bandung saja, misalnya, kebagian 868 formasi. Itu artinya sekitar 5% dari jumlah ASN Pemkot Bandung saat ini. Kabupaten Garut juga kebagian 838 formasi, cukup besar.

Dengan tingkat kesejahteraan yang makin baik, ditambah masa tua yang lebih terjamin, pekerjaan sebagai PNS kembali menarik minat masyarakat. Pesertanya dipastikan membludak. Bisa jadi, satu kursi CPNS akan diperebutkan ratusan peminat.

Maka di tengah minat yang tinggi itu, biasanya selalu ada yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Dalam hal rekrutmen CPNS ini, biasanya yang ikut bermain adalah calo.

Namanya calo, dia akan datang dengan bujukan dan rayuan maut. Belum akan berhenti meyakinkan calon korbannya sampai percaya dan memanfaatkan jasa calo. Padahal, jasa itu sebenarnya sudah tak berlaku lagi di tengah transparansi proses rekrutmen saat ini.

Kita perlu mengingatkan para peminat CPNS untuk tidak percaya pada bujuk rayu maut para calo. Setidaknya, ada dua alasan. Pertama adalah seseorang lulus jadi CPNS adalah orang-orang yang memang kredibel, selain bernasib baik. 

Sebab, negeri ini memang butuh CPNS yang kualifaid. Pemerintahan perlu memiliki ASN yang punya kompetensi tinggi, keinginan yang kuat, dan percaya pada kemampuannya sebagai pelayan rakyat.

Hanya calon-calon teruji yang bisa memenuhi tuntutan pekerjaan PNS di kemudian hari itu. Bukan calon-calon yang mengandalkan calo.

Kedua, karena calo itu sejatinya hanyalah memanfaatkan situasi. Modusnya biasanya seperti ini, menjanjikan bisa membantu meloloskan, menerima sejumlah uang atas jasa, dan kemudian mengembalikan kalau ternyata gagal lolos.

Percayalah, itu modus kuno. Itu hanya perjudian para calo untuk memanfaatkan situasi demi meraih keuntungan fulus. Duit lenyap saat calon dinyatakan lulus, padahal sejatinya dia lulus karena kompetensi dan nasib baiknya.

Maka, yang dibutuhkan para pemburu kursi CPNS sejatinya adalah tingkat kepercayaan diri, mempersiapkan diri sebaik-baiknya, mengikuti proses seleksi, dan berserah diri sambil berdoa. Tak ada lain. Tak perlu percaya ada yang bisa membantu segala, apalagi memastikan bisa diterima. (*)