Sikap Kami: Apa Salah Cadar?

Sikap Kami: Apa Salah Cadar?

TAK bisa dipungkiri, Menteri Agama Fachrul Razi jadi menteri paling membuat berita hingga saat ini. Sejak pertama kali dilantik, hingga hari ini. Jika di hari pelantikan kapasitasnya dipertanyakan sejumlah ormas Islam, kali ini pernyataannya soal wacana pelarangan pemakaian cadar (belakangan disebut rekomendasi) di instansi pemerintah.

Kesan yang muncul adalah seolah cadar menjadi masalah besar di negeri ini. Padahal, tak ada –atau setidaknya belum ada bukti valid—pemakai cadar adalah pembuat rusuh negeri ini. Perusuh bukanlah siapa yang memakai apa, melainkan hati dan perbuatannya yang busuk.

Cara berpikir seperti ini hanya bisa membuat kita senyum-senyum simpul. Di sebagian daerah, misalnya, seorang pencuri biasa mengenakan kupluk panjang untuk menutupi wajahnya, lalu apakah dengan begitu kupluk akan kita larang juga? Aneh bukan?

Pernyataan Menteri Agama, juga kita nilai aneh, jika mengaitkan cadar dengan soal wajib atau larangan dalam agama. Sederhana saja, jika tak wajib, tak pula dilarang, artinya boleh saja orang menggunakan cadar, toh tak ada larangan. Tergantung keyakinannya. Sangat personal.

Apalagi jika mengaitkannya dengan aksi radikalisme yang melanda mantan Menteri Wiranto, kita anggap tidak nyambung sama sekali. Tanpa mengurangi empati kita kepada Wiranto, mengaitkan peristiwa itu dengan cadar sungguh menyederhanakan persoalan. Ada dua persoalan utama penyebab peristiwa itu: pengamanan yang kendor dan tindak kriminal yang diperbuat pelakunya. Jadi bukan karena cadar.

Kadang-kadang, kita terlalu asyik mengurusi simbol-simbol, bahkan kadang melupakan hal lain yang urgensinya untuk masyarakat lebih tinggi. Kita bercuriga terhadap mereka yang mengenakan cadar, bercelana cungkring, berjenggot. Padahal, kejahatan bukan berasal dari hal-hal tersebut. Tengok saja pertandingan bola di televisi, banyak pemain berjenggot, apakah kita curiga terhadap mereka hanya karena memelihara jenggot? Atau, tengok juga foto-foto dr Azahari, gembong teroris yang ditumpas Kapolri baru Komjen Idham Aziz di Batu, Malang, bertahun-tahun lalu, wajahnya klimis tanpa jenggot.

Kembali ke cadar, jika pemerintah hendak menertibkan pakaian ASN di pemerintahan, lakukanlah dengan baik-baik, dengan kajian dan pertimbangan yang sangat matang, dan tak perlu mencari alasan pembenaran yang lucu-lucu. (*)
 

Loading...