BBKSDA Lepasliarkan Tiga Ekor Kukang Jawa di Garut

BBKSDA Lepasliarkan Tiga Ekor Kukang Jawa di Garut
(Foto: Zainulmukhtar)

INILAH, Garut- Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat Seksi Wilayah V Garut melepasliarkan sebanyak tiga ekor kukang jawa (Nycticebus Javaniscus), Selasa (5/11/2019).

Rencananya, ketiga ekor kukang dilepasliarkan di kawasan Pusat Konservasi Elang Kamojang Jalan Raya Kamojang Desa Sukakarya Kecamatan Samarang pada pukul 20.00 WIB. Dihadiri unsur Dinas Lingkungan Hidup Garut, Dinas Kehutanan Jabar, dan Perum Perhutani Kawasan Pemangku Hutan (KPH) Garut.

Kepala Seksi Konservasi Wilayah V Garut Dodi Arisandi mengatakan, semula ada empat ekor kukang mau dilepasliarkan. Namun setelah dilakukan pemeriksaan lanjutan, hanya tiga ekor kukang dinyatakan dapat dilepasliarkan.

Keempat ekor kukang merupakan hasil penyerahan warga masyarakat. Yakni dari Siti Rokhyah di Kampung Walahir Kecamatan Karangpawitan, Pahmi Setia di Kampung Jambansari Kecamatan Bayongbong, M. Alif Bimo di Perum Kondang Regency Kecamatan Selaawi, dan Rizki Fauzi di Kampung Cimerang Baru Kecamatan Garut Kota.

“Kita bergembira karena dengan penyerahan kukang dari masyarakat ini menandakan ada kesadaran masyarakat Garut terhadap kelestarian satwa dilindungi untuk bisa hidup di habitatnya. Kita berharap, langkah seperti ini diikuti warga lainnya yang menemukan, maupun masih memelihara satwa dilindungi,” kata Dodi.

Dia menyebutkan, sebelum dilepasliarkan, keempat ekor kukang hasil penyerahan dari masyarakat itu dikarantina di kandang di kantor Seksi Wilayah V Garut. Setelah diperiksa tim dokter hewan, kukang-kukang tersebut dinilai berkondisi umum baik, dan sehat dengan menunjukkan nafsu makan baik, serta beraktivitas nomal.

Akan tetapi tim dokter hewan mendapati hanya tiga dari empat ekor kukang jawa tersebut dapat dilepasliarkan. Sedangkan yang seekor lagi masih menunjukkan gejala kurang sehat, sehingga masih perlu ditangani tim dokter untuk direhabilitasi kondisinya.

Kukang merupakan primata nokturnal endemik jawa dilindungi, sesuai peraturan perundang-undangan Republik Indonesia, dan lembaga internasional.

Populasi kukang saat ini mengalami penurunan dengan cepat akibat hilangnya habitat asli mereka, dan dijadikan komoditas perdagangan hewan peliharaan oleh pihak tak bertanggungjawab.

“Beberapa waktu lalu, banyak ditemukan di youtube mengenai video yang memperlihatkan kukang sebagai peliharaan. Ini menjadi salah satu faktor pendorong terjadinya perdagangan hewan tersebut sebagai peliharaan,” sesal Dodi.

Namun begitu, Dodi optimis orang-orang secara perlahan kini mulai menyadari terjadinya penurunan populasi kukang jawa secara drastis, padahal betapa pentingnya keberadaan kukang jawa tersebut dalam ekosistem alam.

Hal itu tak terlepas dari upaya BBKSDA bersama organisasi konservasi gencar melakukan sosialisasi termasuk melalui sosial media. Sehingga banyak pemilik mulai melaporkan temuan, dan menyerahkan kukang ke BBKSDA secara sukarela.(zainulmukhtar)