Mungkinkah Rektor ITB Terpilih dengan Perolehan Suara Rendah?

Mungkinkah Rektor ITB Terpilih dengan Perolehan Suara Rendah?
Sepuluh Calon Rektor ITB (istimewa)

Kiwari, setiap pribadi berhak dan bebas mengemukakan pendapatnya. Di era medsos (media sosial), apalagi di Indonesia, tampaknya tidak ada lagi yang bersifat 'rahasia', yang ada adalah 'rahasia umum'.

Medsos lantas menjadikan dunia yang praktis, transparan, dan tiada sekat. Sejatinya memang, tetap harus disertai dengan responsibility dan accountability agar tidak menjadi alat fitnah dan blackmail, bagi siapapun.

Maka tidak heran, dengan segera berseliweran informasi-informasi terkini yang memenuhi jagat media sosial, termasuk yang berkaitan dengan Pemilihan Rektor ITB yang sedang menjadi perbincangan hangat di kampus 'cap gajah' Ganesha.

Misalnya, kendati aturan dan keputusan SA kukuh menyatakan sifatnya yang rahasia, informasi begitu mulusnya menyeruak ke ruang publik tanpa halangan dari yang kuasa mengendalikan. Sebagian di antara mereka barangkali lupa bahwa penampilan angka-angka voting itu teramat sangat menggoda untuk dipublikasikan, apalagi isu transparansi menjadi primadona dalam setiap event publik, seperti pemilihan rektor.

Mereka mesti diingatkan bahwa yang bound to commitment itu hanyalah anggota senat, sementara kami dan sebagian pengamat yang lain adalah anggota civitas academica yang perlu berita bukan prasangka, kan?

Berita di media sosial dan bahkan sebagian 'angka' juga telah dipublikasikan di media cetak elektronik publik regional (Jawa Barat) menampilkan keterangan sebagai berikut:

a. Jumat pagi (1/11/2019), Senat Akademik ITB telah memilih 6 (enam) calon rektor dengan pemungutan suara. Hasil yang terpampang adalah:

KS: 45, JS: 25, DL: 18, ETB: 16, BS: 16, RDW: 16.

b. Jumat siang (1/11/2019), Senat Akademik ITB telah memilih 3 (tiga) calon dengan pemungutan suara kedua, yang beroleh hasil:

KS: 28, JS: 10, RDW: 10.

c. Sabtu (2/11/2019), MWA kemudian menyelenggarakan sosialisasi bagi ketiga calon rektor dan menyelenggarakan debat terbuka sekaligus menjaring suara melalui popular vote, dengan hasil:

KS: 358, JS: 150, dan RDW: 81.

d. Tahap berikutnya pemilihan oleh MWA dari 3 (tiga) calon yang diajukan oleh SA.

Pada butir 'd' inilah 'pertaruhan' sebenarnya akan berlangsung. Runtutan perolehan suara yang begitu transparan kasatmata sebagai amanah para pemilik suara sejati, yaitu civitas academica ITB tanpa kecuali, akan dibawa ke mana?

Kekhawatiran tentu wajar adanya, apalagi 'gestur' kepentingan pribadi atau kelompok kadang nampak dan sulit disembunyikan kendati 'sumpah' wakil masyarakat adalah mewakili suara umat.

Tanda tanya besar berikutnya kian menjadi rumit manakala terpublikasi di medsos bahwa akan ada:

e. Rencana hearing dengan Mendikbud di Jakarta pada tanggal 6 November 2019.

Butir 'e' ini membangun sebuah teori teka-teki karena umumnya khalayak mafhum dengan begitu powerfully-nya suara sang menteri (35%) dari total suara.

Sementara itu, civitas academica ITB paham betul bahwa sang menteri yang terbilang belia ini bukan berasal dari jalur akademik dan memperoleh jabatan dan wewenangnya kebetulan secara politik.

Sejurus saja akan mudah ditebak pertanyaan-pertanyaan di benak sebagian di antara pemilik hak suara sejati (civitas academica), akankah calon yang memperoleh suara rendah malah menjadi pilihan?

Adakah yang salah jika itu berlaku? Atau mungkin sistemnya yang perlu dibenahi sehingga jauh dari peluang mencederai nurani para pemilik suara. Karena sesungguhnya, jabatan Rektor ITB ini sangat strategis bagi bangsa dan negara ini.

Wajar saja jika posisi strategis ini menjadi ajang perebutan dan kompetisi. Tiada yang salah dari kompetisi itu, sepanjang semangatnya adalah berlomba-lomba meraih kebaikan dan 'kebenaran'. Harap diingat, yang baik pun belum tentu benar, tapi yang benar pasti baik-nya.

Kepada Pak Menteri-lah keyakinan akan mengambil keputusan yang benar kami percayakan, sebagai sosok yang visioner terhadap dunia pendidikan bagi bangsa ini di masa depan.

Semoga ITB direzekikan-Nya rektor  dengan kapasitas dan kualitas yang terbaik dan sesuai dengan 'fitrah' harapan civitas academica ITB. (SS dan TR)

Loading...