Menuju Kedaulatan Pangan Berbasis Keragaman

Menuju Kedaulatan Pangan Berbasis Keragaman
(Istimewa)

SEJAK dulu, Indonesia dikenal sebagai negeri yang dikaruniai kekayaan alam melimpah ruah. salah satunya bahan pangan pokok beraneka ragam.

Berbagai jenis sumber daya pangan lokal seperti jagung, sagu, umbi-umbian, singkong, berkembang dan dibudidayakan sesuai dengan kondisi geografis alam dan sosial budaya masyarakat setempat.

Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian mencatat Indonesia memiliki kekayaan keanekaragaman hayati terbesar kedua di dunia setelah Brasil di mana terdapat sekitar 800 spesies tanaman sumber bahan pangan, termasuk sagu.

Masyarakat di Pulau Madura Jawa Timur ataupun Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur dengan kondisi geografis yang berupa tanah kering, sejak dulu dikenal sebagai pengkonsumsi jagung sebagai makanan pokok. Sementara masyarakat di Kepulauan Maluku ataupun di Pulau Papua memanfaatkan sagu sebagai sumber pangan utama.

Program pemerintah menjadikan beras sebagai makanan pokok di Indonesia, yang digalakkan sejak kepemimpinan Presiden Suharto, sayangnya justru mematikan kekayaan pangan lokal yang telah turun-temurun selama ratusan tahun berkembang di nusantara.

Beras akhirnya menjadi satu-satunya sumber pangan yang dimanfaatkan sebagai pangan pokok seluruh masyarakat, bahkan hingga muncul anggapan "jika tidak makan nasi (beras) sama saja belum makan".

Ketergantungan yang sangat tinggi pada beras akhirnya membuat Indonesia harus mengimpor untuk mencukupi kebutuhan pangan 250 juta jiwa hingga mencapai 1,8 juta ton pada 2018.

Menyadari betapa tingginya potensi sumber daya pangan lokal untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat, pemerintahpun kembali melirik kekayaan alam nusantara tersebut untuk dikembangkan dan dibudidayakan.(*)

Loading...