Gung Adigung: MWA Hasilkan Rektor Dambaan Civitas Academica ITB?

Gung Adigung: MWA Hasilkan Rektor Dambaan Civitas Academica ITB?
Sepuluh Calon Rektor ITB (istimewa)

Gonjang-ganjing pada hajat pemilihan rektor ITB semakin panas mendekati hari-hari yang menegangkan menjelang dilangsungkannya pemilihan oleh Majelis Wali Amanat (MWA) yaitu pada hari Kamis tanggal 7 November 2019.

Lembaga MWA ini adalah lembaga tertinggi di suatu Perguruan Tinggi (PT) dalam hal ini PT Badan Hukum Milik Negara (BHMN) Institut Teknologi Bandung (ITB). Salah satunya kewenangan MWA adalah berhak memilih dan mengangkat rektor seperti tercantum dalam statuta ITB.

Tentunya dengan tugas yang teramat keramat ini, civitas academica seyogianya mengenal lebih dekat MWA agar dapat bersama sama mengawal setiap tahapan menuju pilihannya.

Salah satu komponen anggota MWA adalah perwakilan dari senat akademik (SA). Pada saat ini anggota MWA yang merupakan wakil dari senat akademik berjumlah 4 (empat) orang.

Komponen lain yang menjadi unsur anggota MWA adalah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Gubernur Jawa Barat, 1 (satu) orang perwakilan alumni, 1 (satu) orang perwakilan dari mahasiswa dan 1 (satu) perwakilan dari karyawan atau tenaga pendidikan serta 3 (tiga) orang perwakilan dari komponen tokoh masyarakat yang terpandang dan memiliki perhatian yang besar bagi pengembangan ITB.

Menarik untuk dicermati bahwa komposisi 4 (empat) orang yang berasal dari senat akademik hanya merepresentasikan 1/3 (sepertiga) suara dari total 12 (dua belas) suara MWA. Persentase ini akan terasa menjadi semakin kecil karena Menteri memiliki hak luar biasa dan istimewa sebesar 35 (tiga puluh lima) persen suara.

Kendati perlu diketahui juga bahwa para anggota MWA yang berasal dari komponen masyarakat sebenarnya dipilih oleh anggota senat akademik juga. Dengan demikian semestinya  integritas dari yang bersangkutan sudah ditera melalui track record masing-masing oleh senat akademik ITB.

Berangkat dari komposisi semacam itu maka sangat dikhawatirkan berkembangnya potensi pertimbangan politik yang akan mendominasi proses pengambilan keputusan oleh MWA.

Apabila menelaah Peraturan MWA 003/P/I1-MWA/2015, Pasal 4a, tertera bahwa: Anggota senat salah satunya harus memiliki integritas.

Integritas adalah suatu sifat/karakter yang menjunjung tinggi objektivitas dan kejujuran dalam menyikapi suatu masalah. Integritas juga berarti bertanggung jawab dalam bertindak serta teguh membela kebenaran.

Sementara berdasarkan peraturan MWA nomor 001/I1-MWA/ 2014 Bab 3 pasal 6, anggota MWA mempunyai kewajiban:

1. hadir dalam rapat-rapat MWA, kecuali ada halangan yang sah;

2. menaati nilai-nilai dan kode etik ITB;

3. menjaga nilai-nilai dan etika dalam hubungan kerja dengan orang dan atau lembaga lain;

4. menyerap, menghimpun, dan menindaklanjuti aspirasi komunitas ITB;

5. memberikan pertanggungjawaban secara moral kepada komunitas ITB.

Pada sisi lain berdasarkan peraturan MWA no 006/PER/I1-MWA/OT/2019. Pasal 8 poin 3 bahwa pemilihan rektor dilakukan secara musyawarah. Artinya sebagai anggota MWA meski pun berhak memilih salah satu dari 3 (tiga) calon, maka anggota MWA harus menjelaskan mengapa menjatuhkan pilihan kepada yang bersangkutan. Hal ini menyebabkan tiap anggota MWA dapat menunjukkan integritasnya.

'Keterbukaan' pada akhirnya menjadi cermin objektivitas dan integritas.

Dalam kilas balik berkaitan dengan pemilu rektor, sudah diketahui publik bahwa di tiap tahapan pemilihan oleh senat angka-angka yang keluar mengerucut pada 3 (tiga) nama yang mencerminkan acceptability senat akademik dan popularitas pegawai dosen mahasiswa dan tenaga pendidikan.

Sesuai angka-angka tersebut ranking pertama diberikan kepada KS, ranking kedua kepada JS,  ranking ketiga di berikan kepada RDW. Civitas academica tentu cukup cerdas menilai kembali ketiganya berdasarkan track record prestasi dan program mereka yang bertaburan di dunia maya (via YouTube, Facebook, Instagram, dan Twitter).

Berdasarkan  ranking dan data-data yang ada sudah semestinya MWA telah mendapatkan gambaran yang sangat jelas mengenai aspirasi civitas academica.

Dengan demikian, apabila sesuai dengan kewajiban MWA poin 4 dan 5 peraturan 001/I1-MWA/ 2014 Bab 3 pasal 6, maka dengan segera kita sudah dapat menduga siapa yang akan menjadi rektor.

Di atas segalanya Allah Azza wa Jalla memiliki hak prerogatif menentukan nasib ITB. Jika MWA bekerja menjalankan amanah 'ummat' dengan baik, insya Allah ITB akan optimis memandang masa depannya. Or else... wallahu a'lam bisshawab.

La hawla walaaa quwwata illabillah aliyyil adziim. Semoga 'Adi Gung' berujung pada keberkahan dan keselamatan.

Aamiin yaa Mujiib as saa iliin.

(SS dan TR) Bandung, Sore hari menjelang Magrib, 6 November 2019.

Loading...