BPBD Garut Waspadai 22 Kecamatan Rawan Gerakan Tanah dan Banjir Bandang

BPBD Garut Waspadai 22 Kecamatan Rawan Gerakan Tanah dan Banjir Bandang
Foto: Zainulmukhtar

INILAH, Garut - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Garut mengingatkan masyarakat supaya mengenali munculnya gejala-gejala awal potensi bencana terutama pergerakan tanah atau longsor di masing-masing wilayahnya untuk menghindari bencana seperti sering terjadi setiap musim hujan.

Gejala awal  pergerakan tanah tersebut semisal terjadinya retakan pada tanah dan bangunan.

Jika masyarakat menemukan gejala awal gerakan tanah tersebut maka secepatnya melapor ke BPBD atau melalui pengurus RT, RW, Desa/Kelurahan hingga Kecamatan agar segera dapat ditindaklanjuti.

Hal itu ditegaskan Kepala Pelaksana BPBD Garut Firman Karyadin sebagaimana sempat diimbau Bupati Garut Rudy Gunawan beberapa waktu lalu mengenai kesiapsiagaan menghadapi musim hujan sekarang. Terlebih, hampir semua wilayah Kabupaten Garut terbilang rawan terkena gerakan tanah atau longsor.

Firman mengatakan, pada November ini kewaspadaan tinggi mesti dilakukan. Terutama bagi warga yang berada di kawasan terdapat retakan tanah. Seperti di Kecamatan Malangbong, Cigedug, dan Cikajang.

“Kemarin, PMVBG (Pusat Mitigasi Vulkanologi Bencana Geologi) survei ke lokasi tanah retak. Belum ada rincian hasilnya. Belum ada rencana warga terancam untuk direlokasi,” kata Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Tb Agus Sopyan, Kamis (7/11/2019).

Kendati demikian, Agus menyarankan warga yang tinggal di dekat titik retakan tanah sebaiknya selalu siap melakukan evakuasi mandiri bila sewaktu-waktu kondisi retakan tanahnya kian mengkhawatirkan. Apalagi jika hujan turun berlangsung lama lebih tiga jam.

Berdasarkan peringatan PVMBG, pada Nopember 2019 ini seluruh wilayah kecamatan di Garut masuk zona kerentanan gerakan tanah tinggi.

Dari 42 kecamatan tersebut, sebanyak 22 kecamatan di antaranya bahkan juga berpotensi terjadi banjir bandang yang membawa material lain seperti tanah, bantu, dan kayu akibat terjadi longsoran tanah di kawasan hulu. Termasuk kecamatan di kawasan perkotaan, yakni Kecamatan Garut Kota, Tarogong Kidul, Tarogong Kaler, Karangpawitan, Cilawu, dan Banyuresmi.

Camat Malangbong Teten Sundara menyebutkan, retakan tanah di Malangbong terdeteksi saat ini terjadi di Kampung Cipeugeng Desa Kutanagara, Kampung Lewo Kulon Desa Lewo Baru, dan Kampung Ciranca Desa Mekarmulya.

“Kalau di Mekarmulya, retakan tanahnya di areal kebun bambu. Diduga terjadi akibat rumpun bambu tertarik tiupan angin kencang. Tidak terlalu mengancam penduduk. Tapi kalau retakan tanah di Lewo Baru memang mengancam penduduk, bahkan ada enam rumah terkena, dan bangunannya retak-retak. Sementara tidak ada rencana relokasi. Tapi kita himbau supaya tetap waspada, dan hati-hati,” ujarnya.

Sebagian mereka diakuinya sudah bersiap mengungsi dan sudah mengamankan sebagian barang berharganya ke rumah tetangga atau kerabatnya yang dinilai aman. Serupa dengan warga terancam retakan tanah di Kampung Baru Kai RT 01 RW 04 Desa/Kecamatan Cigedug.

“Sementara ini warga terancam masih dihimbau terus waspada. Kecuali yang terdampak retakan langsung, kita imbau untuk pindah,” kata Camat Cigedug Mia Herlina. (Zainulmukhtar)

Loading...