White Tea Asal Purwakarta Dilirik Pasar Asia dan Eropa

White Tea Asal Purwakarta Dilirik Pasar Asia dan Eropa
istimewa

INILAH, Purwakarta - Buah manggis selama ini bisa dikatakan primadona komoditas buah di Purwakarta yang menjadi unggulan untuk pasar luar negeri. Akan tetapi hari ini bukan hanya manggis ternyata produk olahan teh Purwakarta mulai dilirik pasar Asia dan Eropa.

Salah satu jenis produk teh yang dilirik pasar luar negeri yakni white tea. Ketua Poktan Sindangpanon Kecamatan Bojong Purwakarta Apud Suardie mengatakan, produk olahan yang jadi incaran yakni produk white tea.

"Dari Korea, India dan Belanda yang sudah ada ketertarikan white tea asal Purwakarta," kata Apud di Purwakarta, Jumat (8/11/2019).

Produk yang dikembangkan ternyata bukan hanya white tea, tetapi ada jenis green tea dan teh gelang. Kreativitas yang dibangunnya sejak 2014 ternyata memberikan hasil. 

Meskipun begitu, dirinya berharap ada stimulan dari Pemerintah terutama dalam hal packaging dan alat produksi. Untuk memenuhi pasar luar negeri itu tentu harus dengan produksi yang banyak untuk sekali pengiriman.

"Kendala sekarang hanya urusan packaging dan alat produksi, karena kita masih menggunakan alat tradisional, untuk hari ini kita terus dibantu untuk bibit dan budi dayanya," jelasnya.

Apalagi untuk memenuhi pasar luar negeri dibutuhkan kualitas teh yang baik, sehingga bersama Dinas Pertanian dan Pangan Purwakarta pihaknya terus gencar mensosialisasikan tanam teh secara organik.

"Kualitasnya harus bagus, apalagi disekitaran perkebunan teh tidak boleh ada sampah plastik jadi harus benar-benar organik," jelasnya.

Untuk menjadikan bisa diolah sendiri, tampaknya tidak semudah membalikkan tangan. Banyak tantangan yang dihadapinya, dimulai dari pola pikir petani teh yang masih belum terbuka hingga sikap pesimis dari beberapa petani teh.

"Ya kesulitan di awal-awal, masih banyak yang pesimis masalahnya hal pemasaran, tetapi hari ini alhamdullilah sudah mulai ada beberapa kelompok tani yang mengikuti pembuatan produksi teh sendiri," jelasnya.

Salah satu yang ditargetkan oleh dirinya bukan hanya bisa memasarkan teh hingga pasar luar negeri, tetapi menjadikan Desa Sindangpanon sebagai daerah Desa Teh.

"Tentu saja Desa Sindangpanon jadi desa teh sentra produksi teh organik target ke depannya, apalagi kita menargetkan 15 hektare perkebunan teh organik," katanya.

Sedangkan, Kepala Bidang Perkebunan dan Holtikultura Dispangtan Purwakarta Hadi mengatakan ke depan teh asal Purwakarta itu bisa bersaing dengan produk teh dalam negeri maupun luar negeri karena memiliki rasa dan ciri khas yang berbeda.

"Tentu saja ini menjadi salah satu komoditas unggulan," katanya.

Dengan jumlah luas perkebunan teh 9.527 Hektar, yang berada di wilayah Kiarapedes, Wanayasa, Bojong dan Darangdan. Pihaknya akan terus mendorong serta membantu para petani.

"Mungkin hari ini baru budi daya, bibit unggulnya serta penyuluhnya, untuk alat dan kemasan kita sudah ajukan di 2020, dan kita juga harapkan ada stimulan dari pemerintah pusat juga," jelasnya.

Harga kemasan untuk produksi teh gelang, white tea, green tea serta powder tea ternyata relatif terjangkau. Setiap kemasan itu dibanderol Rp50-100 ribu. (Adv)

Loading...