Katirisan: Waktuna Hiber

Katirisan: Waktuna Hiber
Ustaz Evie Effendi (tengah) bersama Pengurus Perkumpulan Alumni SMA Pasundan 3 Bandung (Paspati) usai tausiah di acara Katirisan, Sabtu (9/11/2019). (suro prapanca)

Waktunya hijrah bersama (hiber). Titik balik atau hijrahnya penceramah kondang Ustaz Evie Effendi, adalah saat momen dirinya, bersimpuh dan bertanya kepada Sang Ibu.

INILAH, Bandung - Semua bangku di depan halaman kampus Sekolah Menengah Atas Pasundan 3 Bandung penuh terisi, bahkan sebagian terpaksa berdiri merapat di bawah naungan tenda. Mereka dengan khidmat dan fokus mendengarkan dan memperhatikan tausiah dari ustaz kondang asal Bandung.

Hari itu, Sabtu (9/11/2019), Paspati (Perkumpulan Alumni SMA Pasundan 3 Bandung) menggelar program unggulan di bidang keagamaan yang panitia pelaksana menyebutnya dengan Katirisan (Kajian Tiga Bulanan Islam di Pasundan).

Pada gelaran kedua Katirisan kali ini, panitia mengundang Ustaz Evie Effendi, ustaz kondang dari Bandung yang ungkapannya melekat betul di kalangan umat dan sering disampaikan di setiap tausiahnya, “Rek kitu wae bray?”. Ungkapan pengingat, bahkan bisa menjadi penggugah kesadaran bagi pendengarnya “Apa akan terus seperti itu (di jalan yang tidak diridai Allah?, red).

Tema kajian yang diusung panitia pelaksana adalah “Watuna Hiber”, waktunya untuk hijrah bersama. Kegiatan yang dimulai dari pukul 10.00 WIB ini, panitia merasa senang dan bangga harapan suksesnya acara dengan kehadiran para alumni SMA 3 Pasundan, terpenuhi. Tampak dari penuhnya kursi undangan, bahkan sampai ada yang rela berdiri merapat di sekeliling tenda, berusaha untuk menghindari sengatan matahari yang cukup terik, siang itu.

“Jadi, bila ingin tahu titik balik Saya, adalah momen ketika bersimpuh dan bertanya pada Sang Ibu. Dari situ, Ibunya berpesan ‘Ibu ingin Evie jadi anak soleh’,” cerita Ustaz Evie saat ditanya peserta kajian kapan titik balik Ustaz Evie berhijrah.

“Jadi, Ibu dan Bapak sekalian, momen tersebut juga bisa digunakan bagi siapa saja. Pulang dan datanglah ke Ibu masing-masing mohon rida dan doa Ibu. Bahkan, Nabi Muhammad saw berpesan pada umatnya, siapa yang mesti umatnya hormati? Jawab Beliau: ibumu, ibumu, ibumu sampai tiga kali diucapkan, baru kemudian bapakmu,” nasihat Ustaz Evie.

Selanjutnya, Ustaz Evie juga memberikan resep dan mengajak para hadirin peserta kajian, untuk mendidik generasi penerus atau anak-anak kita agar selalu hijrah dalam kebaikan dengan cara memberikan suri tauladan.

Resep mudah untuk menumbuhkan para generasi muda yang saleh dan salehah adalah suri tauladan dari orang tua mereka sendiri yang mencontohkan budi pekerti yang baik. Ditambah, orang tua khususnya para ibu, untuk hati-hati dan menjaga ucapan kepada anak-anaknya.

“Ucapan ibu adalah sebentuk doa yang akan dikabulkan Allah. Kalau ibu yang tidak sabar menghadapi dan merawat anaknya dengan menyebut, misalnya “Baong siah” (Nakal kamu), maka itu adalah doa yang membuat anak tersebut jadi nakal,” terang ustaz kondang dari Bandung ini.

Di samping itu, Ketua Umum Paspati Ofi Ismayani menambahkan, Katirisan (Kajian Tiga Bulanan Islam di Pasundan) ini selalu berbeda tema dalam setiap gelarannya. Kali ini panitia ingin menularkan tema Waktuna Hiber kepada semua alumni yang hadir untuk bersama-sama hijrah dalam kebaikan.

“Harapannya, kegiatan ini rutin dilaksanakan untuk terus menjalin silaturahmi antar almuni, menggali potensi, dan berkolaborasi untuk saling berbagi,” ujar Hery Sonjaya, Sekretaris Umum Paspati, sewaktu mendampingi Ofi Ismayani saat wawancara dengan INILAH.

Acara yang digelar di halaman parkir sekolah ini juga didukung oleh berbagai pihak, dari mulai Bapak Camat Andir juga oleh Polsek wilayah tersebut, serta dipenuhi para alumni dari mulai Angkatan 80-an, 90-an, sampai alumni tahun 2000-an.

“Jadi, ini akan rutin dengan konsep tematik dan tema yang berbeda. Alhamdulillah untuk kajian yang kedua ini lebih banyak dan mendapat respons meriah dan positif dari para alumni terbukti tingkat kehadiran mereka yang cukup antusias,” tambah Ketua Pelaksana Katirisan Waktuna Hiber, H Asep.

Semoga, kegiatan rutin ini dapat memberikan efek positif untuk semua khususnya alumni, agar dapat terus menjalin silaturahmi yang tidak akan pernah lekang oleh waktu.

“Katirisan ini menghidupkan adab baik berorganisasi  dan meningkatkan silaturahmi keluarga besar alumni. Ke depannya, kegiatan kajian ini banyak menyentuh dan bermanfaat bagi para alumni dan keluarga besarnya,” pungkas Ketua Komite IKA Paspati, Rd Yayat Sumirat. (sur)

Loading...