Rektor USB YPKP: Mencetak Generasi Berkarakter Entrepreneurship

Rektor USB YPKP: Mencetak Generasi Berkarakter Entrepreneurship
Rektor Universitas Sangga Buana YPKP Bandung Dr H Asep Effendi SE MSi PIA CFrA CRBC. (agus sn)

INILAH, Bandung - Universitas Sangga Buana (USB) YPKP Bandung menjadi salah satu perguruan tinggi yang unggul dan terkemuka di ibu kota Jawa Barat, Kota Bandung. Pancarannya diperhatikan banyak pihak, baik lembaga pendidikan maupun para pengusaha dari dalam dan luar negeri.

Hal tersebut merupakan hasil kerja keras, inovasi, dan tangan dingin Rektor Universitas Sangga Buana Dr H Asep Effendi SE MSi PIA CFrA CRBC. Rektor yang juga berhasil mendobrak aturan lama perguruan tinggi ini dengan menjabat rektor dalam kurun waktu tiga periode.

Namun, dari semua hal hingga pencapaian yang sudah diraih kampus yang berkantor pusat di Jalan Mustofa, Kota Bandung ini adalah pada inovasi serta program yang digulirkan untuk mencetak lulusan-lulusan yang berkarakter entrepreneurship.

Inovasi di Era Teknologi Digital

Berbagai langkah brilian ditempuh oleh Asep Effendi untuk bisa merealisasikan visi dan misinya. Alhasil, Universitas Sangga Buana (USB) YPKP Bandung kini telah berhasil bekerja sama dengan beberapa perguruan tinggi dari luar negeri, salah satunya Universitas Malaysia.

Tak hanya itu, Universitas Sangga Buana (USB) YPKP telah menandatangani kerja sama dengan Asosiasi Pengusaha Singapura. Sebanyak 26 pengusaha Singapura hadir untuk menandatangani nota kerja sama dan bersinergi dengan USB YPKP, belum lama ini.

Kerja sama tersebut tentu menjadi langkah positif bagi lulusan-lulusan USB YPKP agar bisa menjadi entrepreneur yang mampu berkompetensi tidak hanya di tingkat nasional, namun juga di kancah internasional.

Rektor USB YPKP yang menjalankan tugas di periode ketiga ini mengungkapkan, perguruan tinggi sebagai lembaga penyelenggara pendidikan memiliki tugas menghasilkan lulusan yang memiliki keahlian, kompetensi, dan kemampuan yang mumpuni untuk bisa masuk ke dunia kerja atau dunia bisnis.

"Konsep pentahelix yang sedang dikembangkan pemerintah menghasilkan keterikatan antara pemerintah sebagai regulator, peran industri, dan kita sebagai akademisi yang dijadikan satu model dalam bentuk kerja sama yang konkret," ungkap Asep dalam wawancara eksklusif dengan INILAH di Gedung A, Universitas Sangga Buana YPKP, Jalan PHH Mustofa, Bandung, Jumat (8/11/2019).

Asep menjelaskan, ada wacana ke depan, karena dosen juga dituntut untuk bisa memahami tentang dunia praktisi bukan hanya akademisi. Maka dosen pun bisa diterjunkan pada industri, baik sebagai konsultan  ataupun advisor di perusahaan-perusahaan yang telah bekerja sama.

"Dosen- dosen di kita (USB YPKP) harus punya nilai lebih. Sebagai dosen pernah menyumbangkan ilmu apa? Pernah mengerjakan bidang apa? Nah kemampuan itu dibawa ke kelas, jadi bukan hanya dari kemampuan mahasiswanya," jelas Asep.

Kompetensi Dosen dalam Teori dan Praktik Seimbang

Dalam pembangunan vokasi, pihaknya ingin dosen pun dilibatkan, jadi dosen memiliki nilai lebih dalam praktik dan mahasiswanya pun bisa ikut praktik agar bisa match, sehingga antara pendidikan dan industri bisa sejalan.

Asep menjelaskan, pihaknya melihat harapan pemerintah yang ingin produk atau lulusan perguruan tinggi yang harus mengikuti perkembangan dunia industri. Seperti di era teknologi 4.0 sekarang, perguruan tinggi diimbau untuk mendirikan program studi yang mampu mengikuti era digitalisasi ini.

"Saya kira tidak ada masalah dengan SDM, karena saya yakin SDM dari perguruan tinggi manapun  memiliki kemampuan di bidang IT (teknologi informasi) ini," jelas Asep.

Penerapan Model yang Tepat

Hal yang menjadi permasalahan dalam penerapan teknologi digital di perguruan tinggi adalah seperti apa modelnya? Perlu waktu untuk bisa mengetahui model yang tepat dan efektif sesuai harapan pemerintah ataupun dunia usaha.

Menurut Asep, setelah terus berkomunikasi dengan pemerintah dan dunia usaha kemudian mendapatkan model yang tepat dan efektif, perguruan tinggi juga perlu waktu untuk membuat model, menyiapkan kurikulum, juga menyediakan dosen-dosen yang berkompeten.

"Dunia pendidikan atau perguruan tinggi punya tugas melahirkan lulusan-lulusan yang punya kompetensi dan daya. Itulah yang terus menjadi PR kita (perguruan tinggi) untuk selalu berbenah dan merealisasikannya. Tentu saja, itu berkaitan juga dengan jaminan mutu, kualitas dosen, dan lain-lain," papar Asep.

Memperkuat Link and Match

Universitas Sangga Buana sebagai salah satu lembaga yang bergerak menyiapkan sumber daya manusia di lapangan yang unggul dituntut terus bisa mengikuti dunia industri.

Asep menuturkan, pihaknya mencoba membangun generasi berkarakter entrepreneurship dengan melakukan pemetaan terhadap anak didiknya. Patut disadari bahwa sebagian mahasiswa dan orang tua yang ingin setelah selesai kuliah bisa langsung bekerja.

"Meski begitu, kami juga menanamkan karakter entrepreneurship bagi mereka bagi mereka yang ingin menjadi pegawai. Yaitu, memiliki karakter kreatif dan inovatif di perusahaan tempat mereka bekerja," tutur Asep.

Di samping itu, lanjut Asep menjelaskan, konsep yang kedua adalah pihaknya betul- betul membangun dan menanamkan karakter kepada para mahasiswanya untuk menjadi generasi yang memiliki jiwa entrepreneur atau pengusaha.

"Praktiknya, kalau mahasiswa sudah punya produk, mereka akan digiring ke inkubator bisnis yang dimiliki USB YPKP, namanya Inkubator Bisnis Sangga Buana (IBIS). Di sana, mereka memperoleh pendampingan dan mendapat edukasi tambahan terkait dengan bisnis yang digeluti. Makanya, kita punya direktorat entrepreneurship," ujar Asep.

Dia berharap kepada pemerintah melalui kementerian-kementerian yang ingin membangun dan mempercepat tumbuhnya entrepreneur, bahwa di perguruan tinggi-perguruan tinggi inilah gudangnya para generasi calon entrepreneur.

"Jika kita ingin membangun entrepreneurship muda, kampus tempatnya. Karena, perguruan tinggi memiliki potensi besar untuk melahirkan entrepreneur muda, tinggal bagaimana pemerintah ingin menjadikan mereka seperti apa," tegas Asep.

Kemudian, Asep menambahkan, untuk kalangan industri agar lebih terbuka dan percaya pada mahasiswa yang magang di perusahaannya, berikan kesempatan agar generasi muda ini bisa mendapatkan keahlian dan kompetensi yang lebih besar.

"Untuk kalangan industri tidak perlu takut, kita juga punya kode etik dan telah menanamkan karakter pada mahasiswa agar bisa menjaga segala sesuatu yang dianggap sebagai rahasia perusahaan agar tidak keluar," pungkas Asep. (Agus SN)