Desa Marquez

Desa Marquez

TAK ada desa fiktif di Jawa Barat. Desa sangat tertinggal pun praktis bisa dientaskan. Yang ada kini desa Marquez?

Kenapa Marc Marquez dengan mudah meraih gelar juara dunia MotoGP tahun ini? Jawaban yang tersurat tentu karena dia memenangkan banyak balapan dan meraih poin tertinggi. Dia sudah memastikannya ketika balapan masih tersisa empat seri lagi.

Marquez memang luar biasa tahun ini. Sebelas balapan dia menangkan. Dari 18 balapan, naik podium 17 kali. Torehan poinnya yang 395 –dan masih mungkin bertambah—jadi rekor terbanyak dunia.

Kenapa Marquez mudah memenangkan gelar kali ini? Tersiratnya: karena dia lebih dewasa, matang, dan ditambah dengan teknologi motor yang kian prima.

Bukti kedewasaan dan kematangannya: dia hanya sekali mengalami kecelakaan dalam balapan. Sekali-kalinya di Austin, Amerika Serikat. Kedewasaannya kian terlihat dalam beberapa balapan terakhir. Dia tak ngotot di depan sejak awal. Dia tahu, menyalip lawan menjelang finis adalah pertarungan yang lebih sedikit risikonya. Setidaknya begitu dia memenangkan balapan di Jepang dan Australia. Strateginya sangat mengesankan.

Desa di Jawa Barat, sedang dibangun dengan cara-cara seperti itu. Cara seperti bagaimana Honda dan tim pelatih Marquez menjadikan pembalap Catalunya itu menjadi juara dunia dengan meyakinkan. Cepat, taktis, dan strategis.

Menghadirkan desa fiktif untuk mendapatkan dana desa, bukan cara Jawa Barat. Cara Jawa Barat adalah mengkolaborasikan program desa dari pemerintah pusat dengan program yang dimiliki Pemprov Jawa Barat.

Program pemerintah pusat adalah bagaimana desa-desa bisa berdikari secara ekonomi. Tapi, langkah semacam itu takkan terakselerasi tanpa dorongan pemerintah daerah: provinsi atau kabupaten. Pemprov Jawa Barat mendorong percepatan pembangunan dana desa itu dengan sejumlah programnya.

Ada sejumlah program baru diluncurkan Pemprov Jabar. Dari one village one product (OVOP), pusat digital desa (Talesa), hingga Patriot Desa. Semuanya berbasis pada pengembangan sumber daya manusia dan infrastruktur digital untuk mempercepat perkembangan desa.

OVOP, umpamanya, diarahkan bagaimana sebuah desa memiliki produktivitas berdasarkan potensi sumber dayanya yang khusus. Artinya, sebagaimana Honda merancang motor yang pas buat Marquez, OVOP juga ditujukan bagaimana sebuah desa produk yang pas untuk pengembangannya.

Pun dengan Patriot Desa, ada harapan anak-anak muda dari generasi millenial, terutama di desa-desa, mampu menjadi Alberto Puig, manajer Repsol Honda. Mereka diharapkan jadi CEO yang mumpuni bagi Bumdes-bumdes yang berkembang dan berprestasi. Kabarnya, sudah ada 110 pemuda yang siap jadi CEO-CEO Bumdes di Jabar.

Tetapi, sumber daya dan SDM saja tentu tak cukup untuk mempercepat pembangunan desa. Desa harus berjalan mengikuti perkembangan kemajuan dunia. Jembatannya adalah digitalisasi. Itulah peran yang dimainkan Talesa. Nantinya, desa-desa di Jawa Barat akan terkoneksi satu sama lainnya dengan jaringan internet yang kencang.

Strategi-strategi semacam itu, tentu, tak bisa seketika memacu desa-desa menjadi desa maju, atau tak semuanya segera naik satu-dua kelas. Secara alamiah, dia akan naik sesuai kelasnya. Dari desa sangat tertinggal menjadi tertinggal, desa tertinggal jadi desa berkembang, begitu seterusnya hingga jadi desa mandiri.

Meski belum maksimal, kemajuannya sudah mulai terasa. Penilaian Kemendes membuktikan itu. Tahun ini, 48 desa yang tahun lalu sangat tertinggal, sudah tak ada lagi. Desa tertinggal pun turun dari 929 menjadi 326 desa. Desa berkembang naik dari 3.603 menjadi 3.656 desa. Desa maju meningkat pesat dari 695 menjadi 1.232 desa. Yang lebih menggembirakan, desa mandiri naik hampir tiga kali lipat, dari 37 desa jadi 98 desa.

Tidakkah hal-hal semacam itu menyerupai apa yang dilakukan Honda bersama Marquez? Makin kencang, makin strategis, dan makin maju? (zulfirman tanjung)
 

Loading...