Ratusan Warga Korban Longsor di Desa Sukamulya Masih Terisolasi

Ratusan Warga Korban Longsor di Desa Sukamulya Masih Terisolasi
Foto: Reza Zurifwan

INILAH, Sukamakmur - Hanya berjarak sejauh 25 km dari pusat pemerintahan Kabupaten Bogor, tepatnya di Kampung Mulyasari RT 05 RW 01 Desa Sukamulya, Kecamatan Sukamakmur hingga kini ternyata masih ada desa terisolir.

Desa terisolir ini merupakan salah satu dari 45 desa terisolir yang ada di Bumi Tegar Beriman. Bukti terisolirnya Kampung Mulyasari itu tampak dari aliran listrik yang baru masuk pada awal 2019 ini. 

Berdasarkan informasi yang dihimpun, tiga ratus jiwa warga Kampung Mulyasari itu awalnya pengungsi. Sebelumnya, mereka adalah warga Kampung Gunung Sanggar, Desa Mulyasari, Sukamakmur Kabupaten Bogor yang menjadi korban bencana longsor pada 2010 lalu.

"Sebelum kami mengungsi atau pindah menetap ke Kampung Mulyasari kami adalah korban bencana longsor di Gunung Sanggar. Dulu Pemkab Bogor menawarkan kami membangun hunian sementara di Gunung Hanjawong tapi kami tolak karena aksesnya lebih parah dari ini," ucap Ketua RT 05 Kampung Mulyasari Mamat kepada wartawan, Senin (11/11/2019).

Dia menambahkan, untuk pindah ke Kampung Mulyasari warga secara swadaya membeli hak garap dari petani yang menggarap lahan milik KPH Perhutani Bogor.

"Kami tidak mendapatkan bantuan dari pemerintah daerah dan secara swadaya membeli hak garap lahan serta membangun rumah, dulu warga korban longsor hanya 28 kepala keluarga dan setelah sembilan tahun karena banyak yang menikah jumlah kepala keluarga ada 60," tambah pria berusia 23 tahun ini.

Mengenai listrik, Mamat menjelaskan sebelum teraliri listrik dari PLN warga mengandalkan kincir air atau Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) atau Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) hasil Corporate Social Responsibility (CSR) salah satu perusahaan asuransi.

"Dulu waktu listrik dari PLTA atau PLTS penggunaan listrik hanya malam hari, dengan adanya listrik dari PLN penggunaannya bisa 24 jam. Alhamdulillah, sekarang anak-anak bisa belajar di setiap waktu," jelas Mamat.

Dia memaparkan, akibat kampungnya terisolir itu tak sedikit anak-anak mereka yang hanya lulusan SD. Jumlah anak-anak lulusan SMA di sana bisa dihitung dengan jari.

"Mayoritas anak-anak Kampung Mulyasari ini adalah lulusan SD. Kalau mau hingga lulus SMA atau sederajat kami menyekolahkan anak kami ke pondok pesantren. Karena tak ada akses jalan setiap ibu yang melahirkan ditanggani dukun beranak. Hasil pertanian ataupun perkebunan pun terpaksa kami jual ke tengkulak dengan harga yang rendah karena akses jalan ke kampung kami yang setapak hanya bisa ditempuh dengan motor trail," jelas Mamat.

Waluya, rekan sekampungnya menuturkan, mayoritas warga di kampungnya memiliki mata pencaharian sebagai petani. Dia mengaku, penghasilan yang didapat itu hanya cukup membiayai keperluan sehari-hari. Agar anak-anak bisa sekolah hingga tingkat SMA atau sederajat itu membutuhkan perjuangan lebih.

"Mayoritas  petani di Kampung Mulyasari ini petani garap karena sawah-sawah banyak yang sudah dimiliki warga DKI Jakarta atau luar Kabupaten Bogor. Tambahan penghasilan kami paling hanya dari ternak unggas, kerbau, atau ikan. Jadi, mustahil bagi kita untuk membiayai sekolah anak-anak hingga bangku kuliah," ucap Waluya. (Reza Zurifwan)

Loading...