Ratusan Konsumen Diduga Menjadi Korban Penipuan Investasi Bodong Kampoeng Kurma

Ratusan Konsumen Diduga Menjadi Korban Penipuan Investasi Bodong Kampoeng Kurma
Foto: Rizki Mauludi

INILAH, Bogor - Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bogor resmi membuka Posko Pengaduan Konsumen Kampoeng Kurma Bogor di Jalan KH R Abdullah bin Nuh Kav 23, Taman Yasmin, Kota Bogor, Senin (11/11/2019) kemarin. 

Usai diresmikan, seorang konsumen Kampoeng Kurma mengadu ke Polresta Bogor Kota perihal dugaan penipuan investasi Kampoeng Kurma tersebut. Paur Humas Polresta Bogor Kota Ipda Desty Irianti mengatakan, dari data yang diperoleh pada Selasa (12/11/2019) siang pihaknya menerima satu aduan. 

"Saat ini satu konsumen tersebut hanya melakukan aduan, belum dilakukan pelaporan dan BAP," kata Desty kepada INILAH. 

Dia mengatakan, pihaknya belum bisa bicara banyak soal kasus tersebut dikarenakan belum ada keterangan lengkap dari pihak korban.

Sementara itu, Direktur Eksekutif LBH Bogor Zentoni mengatakan pembukaan posko itu dimaksudkan untuk menampung aspirasi para konsumen yang membeli lunas Kavling Kampoeng Kurma Bogor. Namun, PT Kampoeng Kurma selaku pemilik proyek hingga kini belum melakukan serah terima.

"Kita menduga, tindakan PT Kampoeng Kurma itu adalah perbuatan wanprestasi atau ingkar janji sebagaimana diatur dalam Pasal 1238, 1243 KUHP," ujarnya.

Untuk itu, LBH Bogor mengimbau kepada konsumen proyek Kampoeng Kurma Bogor agar melapor ke posko. Pihaknya berjanji akan bersama-sama melakukan upaya hukum baik perdata, pidana, dan kepailitan terhadap PT Kampoeng Kurma. 

Salah satu konsumen asal Jakarta Irvan Nasrun menuturkan dirinya pernah bersama korban lainnya sempat menggeruduk kantor PT Kampoeng Kurma di Kelurahan Tanah Baru, Bogor Utara, Kota Bogor, Sabtu (9/11/2019) lalu. Namun, saat itu mereka tidak berhasil menemui Direktur Utama PT Kampoeng Kurma Arfah Husaifah Arshad dengan alasan sedang ke luar kota. Mereka hanya ditemui istrinya, Sari Kurniawati.

"Kampoeng Kurma Group sendiri menjual kavling seluas 400-500 m2 dengan ditanami pohon Kurma sebanyak lima pohon dan ada juga kavling Kurma dengan kolam lele 10 ribu bibit. Kampoeng Kurma menjanjikan hasil yang besar dengan pengelolaan dan perawatan pohon oleh Kampoeng Kurma selama lima tahun dan pembeli akan dapat bagi hasil secara syariah," tutur Irvan.

Bersama ratusan orang korban lainnya, dia sepakat hanya 25 orang dulu yang akan membuat laporan. Sebab, kalau terlalu banyak dikhawatirkan tidak sesuai dengan tuntutan pengembalian asetnya.

"Nah, ini kita juga sedang konsutasi dulu dengan kuasa hukum untuk mendata terkait aset-aset Kampoeng Kurma ini," ujarnya. 

Sedangkan, Camat Bogor Utara Rahmat Hidayat mengatakan Yayasan Kampoeng Kurma sejauh ini mengantongi keterangan domisili usaha. Yayasan yang didirikan pada 20 Juni 2017 itu dipimpin Arafah Hudaidah juga bergerak di bidang sosial.

"Sampai saat ini belum bergerak di bidang sosial keagamaan. Untuk pemasaran pun kita belum mengetahui. Ini kan yayasan, jumlah karyawannya hanya dua orang," terangnya.

Sementara itu, dari pihak manajemen PT Kampoeng Kurma tidak ada satupun yang bersedia memberikan pernyataan. Kantornya berlokasi di Jalan Pangeran Ashogiri, RT 01/05, Kampung/Kelurahan Tanah Baru, Bogor Utara.

"Kami tidak bisa memberi keterangan atau diwawancara kalau tidak ada surat tugasnya. Jadi, mohon maaf saja. Besok, pukul 13.00 WIB akan dilakukan keterangan pers," ucap seorang pegawai PT Kampoeng Kurma yang enggan menyebutkan namanya. (Rizki Mauludi)

Loading...