Bakesbangpol Kota Bandung Gelar Seminar Ketahanan Budaya

Bakesbangpol Kota Bandung Gelar Seminar Ketahanan Budaya
Bakesbangpol Kota Bandung Gelar Seminar Ketahanan Budaya

BADAN Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kota Bandung menggelar seminar ketahanan budaya bagi generasi milenial. Kegiatan tersebut tak lain untuk menanamkan nilai-nilai budaya kearifan lokal.

Keberagaman budaya Indonesia tercermin pada budaya- budaya lokal yang berkembang di masyarakat. Pada perkembangan budaya tidak hanya menjadi aset kekayaan Indonesia, juga berperan besar dalam menumbuhkan semangat nasionalisme. Namun, tidak bisa dimungkiri derasnya arus globalisasi, perlahan-lahan juga turut mengikis budaya-budaya lokal.

Melihat hal tersebut, Pemerintah Kota Bandung melalui Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kota Bandung menggelar Seminar Ketahanan Budaya di Oasis Hotel, Jalan Lombok No.10 Bandung, Selasa (12/11).

Seminar bertajuk 'Kearifan Lokal Untuk Generasi Milenial', ini dihadiri tak kurang 200 peserta dari dunia pendidikan, serta menghadirkan sejumlah pembicara kondang diantaranya Popong Otje Djundjunan dan Tedi Mutaqien.

Kepala Bidang Politik Dalam Negeri, Ketahanan Ekonomi, Seni Budaya dan Ormas Inci Dermaga Mustawan   menuturkan, penanaman dan edukasi budaya kearifan lokal digelar sebagai bagian dari amanat Undang-undang Nomor 25 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, Adat Istiadat, Bahasa, Pengetahuan dan Teknologi Lokal, Tradisi, Kearifan Lokal dan Seni.

Inci menjelaskan, seni budaya yang ada di tiap daerah itu mempunyai potensi masing-masing, juga penguatan dalam budaya masing-masing, siapa lagi yang akan mengiatkan budaya kalau bukan masyarakatnya. Jika tidak, maka akan runtuh ketahanan nasional dari sisi seni budaya. "Yang kami laksanakan siang ini, kami terus menggali dan berdiskusi dengan seluruh elemen masyarakat baik itu pelajar, masyarakat, generasi muda dan ormasnya," jelasnya.

Inci menjelaskan, pihaknya melibatkan pendidik, dari Wakil Kepala Sekolah bidang kesiswaan, elemen mahasiswa, dan guru bahasa sunda supaya bersatu bekerjasama, tentang bagaimana menguatkan ketahanan budaya terutama budaya sunda.

"Kita hadirkan Tedi Mutaqien akademisi dari Unpad dan Ceu Popong yang notabene dari segi pengalaman, senioritas, yang sudah malang melintang baik dalam politik maupun pengembangan budaya khususnya di Jabar dan nasional dengan memberikan wawasan supaya kita tetap waspada," jelas Inci.

Dia mengaku, di satu sisi perkembangan teknologi yang masuk semakin gencar, di lain pihak ada juga sisi ancaman terhadap budaya yang ada. "Saya kira penguatan harus dimulai dari diri sendiri, dari lingkungan keluarga sampai pada lingkup nasional," ujarnya.

Inci menuturkan, pihaknya melihat generasi muda saat ini lebih bangga terhadap budaya luar daripada budaya diri sendiri. "Kita mulai dari diri sendiri mendisiplinkan, memahami budaya lokal yang kita miliki dan perlu dikembangkan serata kita kuatkan untuk mempertahankan budaya lokal," ujar Inci.

Dikatakan Inci, masyarakat harus peka terhadap ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan. Kenapa?, Supaya bisa mempertahankan seni budaya yang dimiliki. "Arus budaya asing yang masuk ke negara kita bisa menggeser budaya yang ada. Solusinya kita harus saling bahu-membahu mempertahankan budaya kita," kata Inci.

Sementara itu, Popong Otje Djundjunan akrab disapa Ceu Popong dalam paparannya mengajak seluruh hadirin untuk kembali mengingat kembali nilai-nilai budaya.

 "Belajar dari sebuah ungkapan, 'Hilang Budayanya, Hilang Bangsanya', memang ada benarnya, bagaimana orang sunda akan mengatakan orang Sunda itu ada, kalau budayanya saja sudah tidak ada. Apakah itu keseniannya, busananya, kulinernya, atau filosofisnya, karena memang sudah tidak ada  bagaimana akan membuktikan jika Sunda itu ada. Jadi jawabannya, siapapun dia, suku bangsa apapun dia, dan etnis apapun dia, harus berusaha supaya ciri-cirinya itu tidak hilang, ciri budaya dalam arti luas," ungkap Ceu Popong.

"Kalau sudah hilang mau disebut apa?, alhamdulillah sekarang sudah ada Undang-undang tentang pemajuan kebudayaan dimana dalam UU itu jelas sekali, ada pasalnya, ada ayatnya, ada kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan baik provinsi, kota atau kabupaten. Maksudnya supaya budaya Indonesia tidak hilang, yang disebut budaya indonesia itu kumpulan budaya lokal," tutur Ceu Popong.

Ceu Popong menilai, solusinya sangat simpel, setiap etnis, setiap suku bangsa memelihara, dan mempertahankan budaya masing- masing, hanya dengan cara itu indonesia bisa langgeng dan bisa terus bisa ada.

Ceu Popong mengimbau, sekarang itu era globalisasi, ada positif ada negatif, negatifnya kalau globalisasi merangsek masuk ke budaya lokal sampai musnah. Positifnya apa yang baik dari budaya, apakah itu filosofinya, apakah budayanya, harus diglobalkan kepada negara lain.

Di era globalisasi, lanjut Ceu Popong menerangkan, dirinya semua pihak mengangkat sisi positifnya, karena sifatnya universal, itu kan filosofi Sunda, kalau selama ini dansa sudah merebak, kenapa tidak jaipong mulai globalkan, kenapa tidak pencak silat diglobalkan. "Ini peranan pendidikan yang sangat penting, baik di lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat, kalau tanpa melalui pendidikan, jangan mimpi budaya kita terawat dengan baik," terang Ceu Popong. (agus sn/adv).

 

Loading...