Ayo, Berani Mengakui Kesalahan

Ayo, Berani Mengakui Kesalahan
KH Abdullah Gymnastiar

Saudaraku, banyak kekacauan terjadi di kehidupan ini karena ada yang tidak punya keberanian mengakui kesalahan. Ketika seseorang tak berani mengakui kesalahan, maka suatu permasalahan yang terjadi tidak akan bisa diurai dan diselesaikan. Masalah yang tidak diselesaikan dengan baik itu bagaikan ranjau yang sewaktu-waktu bisa meledak, dan menimbulkan masalah yang lebih rumit lagi.

Tiada yang lebih mengancam kita daripada keburukan kita sendiri. Kita pasti punya kesalahan, kita pasti tidak suci dari dosa. Tetapi yang lebih berbahaya adalah kalau kita tidak mau jujur mengakui kita berbuat kesalahan. Kalau kita kehilangan kemampuan untuk jujur, maka kita kehilangan kemampuan untuk memperbaiki diri. Dan, kalau kita tidak bisa memperbaiki diri, maka hidup kita senantiasa terancam oleh keburukan diri kita. 

Kita bukanlah manusia yang suci dari dosa, itu pasti. Tetapi ketika kita tidak berani mengakui kesalahan, maka itu adalah petaka yang lebih pahit. Kenapa orang tidak mau jujur pada diri sendiri? Karena orang suka terjebak oleh topeng berupa pangkat, kedudukan, kekayaan, gelar, popularitas. Padahal semua itu sama sekali tidak identik dengan kemuliaan. Hanya karena merasa kaya raya, merasa bergelar banyak, merasa terkenal kemudian ia merasa selalu benar, padahal tidaklah demikian. 

Nah saudaraku, keberanian menyadari diri kita tidak mungkin luput dari salah dan dosa akan hadir jika kita punya kerendahan hati. Rendah hati berakar dari keimanan yang kuat kepada Allah SWT. Rasulullah saw bersabda, “Setiap anak Adam pasti berbuat kesalahan, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah yang mau bertobat.” (HR. Ibn Majah)

Ketika seseorang tidak berani mengakui kesalahan dirinya sendiri, maka timbullah permasalahan dengan sesama manusia. Demikian pula manakala seseorang tidak mau mengakui kesalahan atau dosa dirinya kepada Allah. Ini keadaan yang jauh lebih berbahaya dan menimbulkan masalah yang jauh lebih besar lagi. 

Orang yang tidak berani mengakui kesalahan dirinya terhadap Allah, maka ia akan jauh dari tobat sehingga jauh dari ampunan Allah SWT. Akan semakin jauh ia tersesat, tenggelam dalam lumpur kesombongan dan semakin bergelimang dosa. Na’dzubillaahimindzalik! 

Keberanian mengakui kesalahan sudah dicontohkan oleh para nabi dan rasul. Nabi Adam dan Siti Hawa pernah melakukan kesalahan, namun kemudian keduanya mengakui kesalahan tersebut dan memohon ampunan kepada Allah dengan berdoa kepada-Nya sebagaimana tertulis dalam al-Quran. “Keduanya berkata: ‘Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, maka niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.’” (QS. al-A’raaf [7]: 23)

Ketika kita melakukan sebuah kesalahan lalu kita menyembunyikan diri dari kesalahan itu, tidak mengakuinya, maka selama kita menyembunyikannya selama itu pula kita akan diikuti perasaan tidak tenang. Mengapa? Karena demikianlah tabiat dari manusia, hati tidak pernah bisa dibohongi kecuali hati yang sudah benar-benar hitam legam oleh dosa yang tidak ditobati. 

Memang rasanya berat mengakui kesalahan, dan seringkali syaitan menghembus-hembuskan tipu dayanya agar kita merasa gengsi untuk mengaku salah. Padahal jika kita menuruti gengsi, maka kita tidak akan pernah bisa belajar dan tidak bisa memperbaiki diri. Gengsi mengakui kesalahan adalah cerminan hawa nafsu yang tidak terkendali dan dituruti. Tidak ada yang akan kita dapatkan dari keadaan seperti ini selain dari kerugian. 

Nabi Musa pernah melakukan kesalahan, yaitu ketika beliau secara tidak sengaja membunuh seseorang dengan cara yang tidak dibenarkan. Nabi Musa mengakui kesalahan itu dan memohon ampun dari Allah SWT.

Mengakui kesalahan adalah bukti keberanian. Yakni berani menghadapi dan mengendalikan musuh terbesar dalam hidup kita, yaitu hawa nafsu kita sendiri. Mengakui kesalahan juga merupakan jalan menuju hidup yang harmoni dengan sesama manusia. Serta pintu untuk datangnya ampunan dari Allah SWT. (KH Abdullah Gymnastiar)

Loading...