Aparat Hukum Nakal 'Gigit' Kepala Daerah, Jokowi Ancam 'Gigit' Balik

Aparat Hukum Nakal 'Gigit' Kepala Daerah, Jokowi Ancam 'Gigit' Balik
foto: INILAH/Reza Zurifwan

INILAH, Bogor - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengancam 'gigit' balik aparat kepolisian maupun jaksa yang nakal dan 'menggigit' kepala daerah karena ada kekeliruan dalam mengambil suatu kebijakan.

"Kalau ada kebijakan Bupati, Wali Kota maupun Gubernur yang keliru itu jangan dipidanakan karena itu belum tentu ada niat jahat atau buruk didalamnya. Kalau ada aparat kepolisian atau jaksa yang nakal dan 'menggigitnya' atau pura - pura 'tergigit' dengan tujuan memeras maka saya akan 'gigit' balik bisa dengan cara membisiki KPK atau aparat kepolisian dan kejaksaan," tegas Jokowi dalam sambutannya di Acara Rapat Kordinasi Nasional (Rakornas) antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah di SICC, Babakan  Madang, Kabupaten Bogor Rabu, (13/11/2019).

Presiden Jokowi meminta  aparat kepolisian dan kejaksaan untuk menjaga harmonisasi dan kerukunan dengan Bupati, Wali Kota maupun gubernur di wilayahnya masing - masing.

"Misalnya ada Bupati, Wali Kota dan Gubernur ada kesalahan menyusun Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (RAPBD) itu harus diingatkan  dan bukannya malah sengaja dibiarkan kejeblos," pintanya.

Jokowi memaparkan pentingnya kerukunan antar pimpinan daerah, kepada aparat hukum terutama kepolisian dia mengingatkan agar berhati - hati dalam menangani suatu kasus  walaupun kecil karena bisa berimbas terhadap resesi atau kemerotan ekonomi.

"Resesi ini menjadi ancaman hampir di seluruh negara dan ada yang gara - gara hal sepele atau permasalahan sosial seperti di Negara Hongkong maka bisa menjadi penyebab resesi atau kemerosotan ekonomi,: papar Jokowi.

Ia melanjutkan warga Indonesia patut bersyukur angka produk domestik bruto (GDpnya) stabil diangka 5 persen karena ada negara lainnya yang berada di bawah 4 persen papar Jokowi. 

"Saya sudah bertemu Managing Director IMF dan beberapa presiden negara lainnya bahwa di negara lain bahwa GDP negara maju ada yang minus dari 7 persen ke angka lebih kecil atau turun dari 9 persen menjadi 6 persen. Oleh karena itu GDP Indonesia yang stabil di angka 5 persen ini patut kita syukuri," lanjutnya. (Reza Zutifwan)

Loading...