Kesbangpol Kota Bandung: Tanamkan Budaya Lokal lewat Pendidikan

Kesbangpol Kota Bandung: Tanamkan Budaya Lokal lewat Pendidikan
Kepala Bidang Politik Dalam Negeri, Ketahanan Ekonomi, Seni Budaya, dan Ormas Kesbangpol Kota Bandung, Inci Dermaga Mustawan. (agus sn)

INILAH, Bandung - Keberagaman budaya Indonesia tercermin pada budaya-budaya lokal yang berkembang di masyarakat.

Tidak saja tumbuh secara internal, juga karena pengaruh yang membentuk suatu budaya. Perkembangan budaya tersebut juga memiliki peranan besar dalam menumbuhkan semangat nasionalisme.

Namun, tidak bisa dimungkiri derasnya arus globalisasi secara positif memberikan kemajuan pesat terhadap budaya, di sisi lain budaya ada yang ikut tergerus dan luntur oleh pesatnya kemajuan teknologi.

Melihat hal tersebut, Pemerintah Kota Bandung melalui Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) menggelar Seminar Ketahanan Budaya di Oasis Hotel, Jalan Lombok No 10 Bandung, Selasa (12/11/2019).

Seminar bertajuk Kearifan Lokal untuk Generasi Milenial ini dihadiri tak kurang 200 partisipan dari dunia pendidikan, serta menghadirkan sejumlah pembicara kondang tokoh Jawa Barat yang menasional, di antaranya Popong Otje Djundjunan dan Tedi Mutaqien.

Kepala Bidang Politik Dalam Negeri, Ketahanan Ekonomi, Seni Budaya, dan Ormas Inci Dermaga Mustawan menuturkan, pihaknya menggelar kegiatan ini sesuai dengan tupoksi Bakesbangpol Kota Bandung yang termaktub dalam Undang-undang Nomor 25 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, Adat Istiadat, Bahasa, Pengetahuan dan Teknologi Lokal, Tradisi, Kearifan Lokal dan Seni.

Selain itu, tertuang juga pada Peraturan Daerah (Perda) Nomor 8 Tahun 2016 tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah. "Ini memang bagian dari tugas kami, kita lihat bahwa ketahanan nasional itu banyak unsurnya, ketahanan nasional itu ada ketahanan sosial, politik, ekonomi, seni budaya, bahkan dari sisi pertahanan.

Inci menjelaskan, seni budaya yang ada di tiap daerah itu mempunyai potensi masing-masing, juga penguatan dalam budaya masing-masing, siapa lagi yang akan menggiatkan budaya kalau bukan masyarakatnya. Jika tidak, maka akan runtuh ketahanan nasional dari sisi seni budaya.

Hari ini, lebih jauh Inci menjelaskan, pihaknya melibatkan pendidik, dari wakil kepala sekolah bidang kesiswaan, elemen mahasiswa, dan guru bahasa Sunda supaya bersatu bekerja sama, bagaimana menguatkan ketahanan budaya itu, terutama untuk budaya Sunda.

"Kita hadirkan Tedi Mutaqien akademisi dari Unpad dan Ceu Popong yang notabene dari segi pengalaman, senioritas, yang sudah malang melintang baik dalam politik maupun pengembangan budaya khususnya di Jabar dan nasional dengan memberikan wawasan supaya kita tetap waspada," jelasnya.

"Saya kira penguatan harus di mulai dari diri sendiri, dari lingkungan keluarga sampai pada tingkat nasional," ujarnya. Inci menilai, saat ini pihaknya melihat generasi muda lebih bangga terhadap budaya luar daripada budaya diri sendiri.

Dikatakan Inci, masyarakat harus peka terhadap ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan. Kenapa? Supaya bisa mempertahankan seni budaya yang dimiliki. "Arus budaya asing yang masuk ke negara kita bisa menggeser budaya yang ada. Solusinya kita harus saling bahu-membahu mempertahankan budaya kita," kata Inci.

"Kita juga adakan lomba untuk pelajar, supaya mereka paham tentang seni budaya. Kemudian kita adakan roadshow dan membuat diskusi. Sedangkan untuk 2020 sedang kita susun dengan konsep yang lebih menarik dan melibatkan para pelajar," papar Inci.

Dia menambahkan, Indonesia punya harta budaya yang sangat berharga di masing-masing daerah yang harus dijaga dan harus menjadi bagian membanggakan sampai generasi berikutnya. "Kita juga mengetahui arti penting bagaimana menjaga dan melestarikan kearifan budaya lokal. Pemerintah bisa bersinergi dengan masyarakat dan pendidik untuk bersama-sama mengembangkan budaya lokal yang ada," pungkas Inci.

Sementara itu, Popong Otje Djundjunan atau Ceu Popong sapaan akrabnya menuturkan, pihaknya akan berbicara mulai dari satu ungkapan 'Hilang Budayanya, Hilang Bangsanya', memang ada benarnya, bagaimana orang Sunda akan mengatakan orang Sunda itu ada, kalau budayanya saja sudah tidak ada. Apakah itu keseniannya, busananya, kulinernya, atau filosofisnya, karena memang sudah tidak ada  bagaimana akan membuktikan jika Sunda itu ada.

"Jadi jawabannya, siapapun dia, suku bangsa apapun dia, dan etnis apapun dia, harus berusaha supaya ciri-cirinya itu tidak hilang, ciri budaya dalam arti luas," ungkap Ceu Popong.

Ceu Popong menuturkan, kalau sudah hilang mau disebut apa? Alhamdulillah sekarang sudah ada Undang-undang tentang Pemajuan Kebudayaan yang bergitu jelas, ada pasalnya, ada ayatnya, ada kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan baik provinsi, kota, atau kabupaten. "Maksudnya supaya budaya Indonesia tidak hilang, yang disebut budaya Indonesia itu kumpulan budaya lokal," tuturnya.

Ceu Popong menilai, solusinya sangat simpel, setiap etnis, setiap suku bangsa memelihara, dan mempertahankan budaya masing-masing, hanya dengan cara itu Indonesia bisa langgeng dan bisa terus bisa ada.

Budayawan senior Sunda ini mengimbau, sekarang itu era globalisasi, ada positif ada negatif, negatifnya kalau globalisasi merangsek masuk ke budaya lokal sampai musnah. Positifnya apa yang baik dari budaya, apakah itu filosofinya, apakah budayanya, harus diglobalkan kepada negara lain.

"Kita itu punya filosofi Silih Asih, Silih Asah, Silih Asuh, Silih Aping, dan Silih Geuing. Ayo kita globalkan itu, begitu anggun begitu luhur," imbaunya.

Di era globalisasi, lanjut Ceu Popong menerangkan, dirinya semua pihak mengangkat sisi positifnya, karena sifatnya universal, itu kan filosofi Sunda, kalau selama ini dansa sudah merebak, kenapa tidak jaipong mulai globalkan, kenapa tidak pencak silat diglobalkan.

"Ini peranan pendidikan yang sangat penting, baik di lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat, kalau tanpa melalui pendidikan, jangan mimpi budaya kita terawat dengan baik," terang Ceu Popong.

Ceu Popong menambahkan, budaya itu hanya bisa di transfer lewat pendidikan. Menurutnya, budaya bisa tetap bertahan itu bergantung pada orangnya, semua kembali lagi pada persepsi orangnya, kalau semua orang punya, maka sikap dan langkahnya pun akan sama. Kalau persepsi masih berbeda tidak akan berjalan.

"Harapan saya cuma satu, taati pasal demi pasal yang ada dalam Undang-undang tentang Pemajuan Kebudayaan karena sudah komplit dari A sampai Z. Untuk seluruh kepala daerah laksanakan UU Pemajuan Kebudayaan, karena sudah ada budayanya, ada programnya, dan ada ahlinya," tandas Ceu Popong. (Agus SN)

Loading...