Menguntungkan, Petani Bawang Didorong Terapkan Pola TSS

Menguntungkan, Petani Bawang Didorong Terapkan Pola TSS
Foto: INILAH/Asep Mulyana

INILAH, Purwakarta – Sektor pertanian di Indonesia, terutama holtikultura, berkembang pesat. Sebagai produsen benih holtikultura, PT East West Indonesia (Ewindo) berupaya menciptakan benih-benih unggulan.

Managing Director PT East West Indonesia (Ewindo) Glenn Pardede, mengatakan, perusahaannya telah memproduksi lebih dari 150 jenis benih holtikultura. Bahkan sebagian benih tersebut menjadi kebutuhan ekspor. Adapun benih yang paling populer untuk diekspor, di antaranya kacang panjang, paria, labu, dan mentimun.

“Kali ini, kami mengembangkan benih bawang merah menggunakan biji, atau benih True Shallot Siid (TSS),” ujar Glenn kepada INILAH di kantornya, (14/11/2019).

Glenn menjelaskan, berkembangnya perusahaan tak lepas dari dukungan dan peran para petani lokal. Sebab, mayoritas benih yang diproduksi merupakan hasil penelitian dan penangkaran yang tersebar di sejumlah wilayah di Nusantara.

Menurut dia, pengembangan benih TSS sebenarnya dilakukan sejak 2006. Adapun keunggulan dari benih tersebut, salah satunya bisa menekan biaya produksi dan meminimalisasi pemakaian umbi bibit untuk perkebunan bawang.

“Dengan teknik TSS, bisa menghemat biaya produksi dan meningkatkan produktivitas,” jelas dia.

Dia mencontohkan, jika menggunakan pola tanam umbi bibit, kebutuhan produksinya sekitar 1,5 ton per hektare. Jika diuangkan, kebutuhannya sekitar Rp 45 juta. Namun, berbeda jika menggunakan pola TSS ini karena kebutuhan benih bijinya, hanya 5 kilogram per hektare atau sekitar Rp10 juta jika diuangkan.

Dia berpendapat, dengan pola TSS ini biaya produksi petani bawang bisa ditekan. Selain itu, dapat mengurangi ketergantungan petani terhadap bibit umbi. Biaya yang dikeluarkan pemerintah untuk mengimpor bibit umbi bawang bisa ditekan.

Sementara itu, Dirjen Holtikultura, Kementerian Pertanian RI Prihasto Setyanto menuturkan, peluang pengembangan bawang merah cukup menjanjikan. Apalagi, di tahun 2019 pemerintah telah menyiapkan lahan seluas 1.100 hektare untuk dijadikan central perkebunan bawang mereh.

“Kita dorong pengembangan perkebunan bawang merah ini, terutama di daerah yang selama ini bukan merupakan sentra bawang merah,” ujar Prihasto.

Dalam pengembangan bawang merah ini, pihaknya juga akan mendorong para petani supaya menggunakan teknis TSS. Karena menurutnya, dari segi keuntungan pun pola TSS sangat luar biasa.

“Dengan Pola TSS, kami rasa akan menguntungkan petani. Karena, kebutuhan produksi mereka berkurang, di sisi lain produktivitas dan keuntungannya luar biasa,” jelas dia.

Dia menambahkan, dengan pola TSS produksi bawang akan meningkat. Perbandingannya, jika menggunakan bibit umbi, itu hasilnya hanya 10 ton per hektare. Tapi, jika memakai pola TSS atau benih biji, produksinya bisa mencapai 19-20 ton per hektare.

“Kekurangannya, mungkin dari waktu penanamannya ya. Karena kan prosesnya perlu disemai dulu setelah jadi umbi, dipindahkan. Tapi, hasilnya sudah kami lihat sendiri,” tambah dia. (Asep Mulyana)

Loading...