Biblioterapi, Pilihan untuk Terapi Kesehatan Mental

Biblioterapi, Pilihan untuk Terapi Kesehatan Mental
Ilustrasi (net)

Beberapa waktu lalu Indonesia digemparkan kasus bullying (perundungan) yang dialami remaja perempuan berusia 14 tahun di Pontianak, oleh sekelompok remaja SMA. Apapun alasan yang mendasari, tindakan perundungan tidak bisa dibenarkan bagi pelaku.

Intimidasi, ancaman, kekerasan baik secara fisik, mental, ataupun verbal, terjadi karena adanya ketidakharmonisan sosial sehingga timbul pihak kuat dan pihak lemah. Seiring perkembangan zaman, tindakan perundungan tidak hanya kita dapati di lingkungan nyata seperti di sekolah, lingkungan tempat tinggal, komunitas, akan tetapi mulai bergerak ke dunia digital atau cyber bullying.

Dampak yang ditimbulkan sama bahayanya bagi korban, mulai dari hilangnya rasa kepercayaan terhadap diri akibat tekanan dari pelaku, stres, trauma, depresi, hingga memunculkan sugesti negatif yang mendorong korban mengambil jalan pintas untuk mengakhiri hidup atau pembunuhan oleh pelaku.

Di dunia pendidikan sering kita dapati tindakan perundungan oleh sesama murid. Tidak heran lagi jika ruang lingkup sekolah menjadi tempat yang menyeramkan bagi korban. Menyedihkan memang ketika mendapati hal ini di ruang lingkup sekolah.

Anak adalah aset regenerasi masa depan sebuah bangsa, maka akan sangat mengerikan wajah bangsa kita di masa mendatang jika hal ini terus terjadi. Degradasi moral tak terhindarkan.

Dalam kasus ini kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan anak sebagai pelaku perundungan karena seorang anak yang masih dalam masa transisi belum mampu menilai baik atau buruk, dan akibat apa yang akan timbul.

Mereka hanya tahu dan merasa diri paling kuat dan berkuasa ketika melakukan itu. Di sinilah pentingnya peran orang tua dalam pendidikan moral dan karakter terhadap anak. Seperti diketahui, sebelum mendapat pendidikan sekolah, awal mula pendidikan seorang anak adalah keluarga.

Orang tua berkewajiban dan bertanggung jawab untuk memberikan pendidikan karakter dan penanaman nilai budi pekerti kepada anak, hal ini diatur dalam pasal 26 butir (d).

Pendidikan informal dari orang tua menjadi sesuatu yang sangat penting bagi pembentukan karakter anak, sebab mereka cenderung mengikuti apa yang diajarkan, dilihat, dan dirasakan. Anak dalam masa peralihan sangat rentan, oleh sebab itu mereka butuh bimbingan dengan pendekatan secara emosional.

Jika dalam lingkungan keluarga terjadi ketidakharmonisan antar anggota keluarga, seperti kekerasan dalam rumah tangga, terbiasa mendengar kata-kata tidak pantas, sikap ketidakpedulian orang tua terhadap anak karena kesibukan kerja, akan mengakibatkan anak menjadikan hal itu sebagai sesuatu yang wajar karena telah terekam di dalam otak.

Maka menjadi tidak asing lagi, jika di kemudian hari anak tersebut melakukan hal yang sama sebagai sebuah tindakkan untuk mencari perhatian atau perlawanan terhadap keadaan yang mendominasi.

Kondisi kejiwaan setiap anak tidak sama, ada yang agresif, ada juga yang pasif. Anak dengan kondisi kejiwaan yang cenderung agresif akan dengan sangat mudah meniru hal-hal yang biasa didapati dalam keseharian dan mendominasi keadaan di lingkungan ia berada. Potensi untuk menjadi pelaku perundungan menjadi dominan.

Sedang anak dengan kondisi jiwa yang cenderung pasif dia akan diam sehingga sangat rentan menjadi korban perundungan karena sikap pasifnya. Jika ditilik dari segi hukum, anak-anak yang menjadi pelaku perundungan ini tidak mendapatkan pendidikan karakter dan moral dari keluarga, terutama orang tua.

Orang tua tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana diatur dalam undang-undang, bahkan orang tua yang membiarkan ini bisa dikatakan menghilangkan hak anak untuk mendapat pendidikan sebagaimana mestinya. Jika ini dibiarkan terus menerus, akibatnya anak akan kehilangan karakter dan moral yang baik.

Untuk orang-orang yang mengalami trauma, terlebih jika trauma tersebut tergolong berat, akan sangat sulit bagi penderitanya memulai dan menjalani kehidupan baru akibat ingatan dan pengalaman buruk yang sulit dihilangkan dari ingatan.

Pengalaman buruk yang membekas akan berimbas pada kehidupan di masa mendatang jika tidak segera ditangani. Salah satu cara penanganan trauma adalah dengan konsultasi kepada psikiater. Namun dalam dunia penanganan kejiwaan, metode bibliotheraphy bisa menjadi pilihan sebagai solusi, sebab metode penyembuhan trauma dengan cara ini bisa dilakukan sendiri dengan pendampingan dari seseorang yang kompeten di bidangnya.

Salah seorang yang bisa berperan untuk membantu penanganan dengan biblioterapi adalah pustakawan. Bibliotheraphy adalah metode penggunaan buku “self help” untuk tujuan terapi pada seseorang yang mengalami gangguan emosional dan psikologis.

Secara umum bibliotheraphy diartikan sebagai penggunaan buku untuk membantu seseorang mengatasi konflik emosional, penyakit, dan perubahan-perubahan dalam kehidupan (Paderk, 1994). Bibliotheraphy berasal dari bahasa Yunani “biblion” yang artinya buku dan “oupatted” yang artinya terapi.

Metode ini pertama kali digunakan oleh Crothes pada tahun 1917. Jika ditelusur ke belakang, metode ini sudah digunakan sejak zaman Aristoteles. Metode ini menjadi terapi yang efektif untuk mengurangi stres, kecemasan, dan aneka keadaan yang di alami tentara-tentara setelah Perang Dunia I dan II (Lucas, 2004 : Shechtman, 2009; Sherrill dan Harris, 2014).

National Institute for Clinical Excellence (NICE) merekomendasikan Bibliotheraphy sebagai pengobatan pada orang dewasa, misalnya depresi ringan sampai sedang, ansietas dan panik, gangguan makan (eating disorder) OCD (Obsesive Compulsive Disorder), fobia, hubungan pernikahan dan masalah seksual, kemarahan (anger), stres, parenting, pascatrauma seksual, dan rasa rendah diri (low self-esteem).

Terkait anak dan keluarga, Bibliotheraphy digunakan untuk mengatasi masalah tingkah laku, kemarahan, perundungan, kehilangan, rasa percaya diri, perceraian, latihan BAB BAK, kesedihan, persaingan saudara kembar, gangguan tidur, saudara tiri, masalah remaja, dan kecemasan.

Bibliotheraphy tidak hanya digunakan untuk penyembuhan penyakit mental, akan tetapi juga digunakan sebagai metode penyembuhan penyakit fisik. Metode Bibliotherapy bisa dilakukan dengan cara membaca atau menulis, baik fiksi maupun nonfiksi.

Bibliotheraphy dikenal pula dengan istilah “poetry theraphy” (terapi puisi) atau “therapeutic storytelling” (dongeng yang menyembuhkan). Pada awalnya bibliotheraphy dipercaya hanya mampu menyelesaikan problem-problem emosi dan kejiwaan. Tapi penelitian lebih lanjut menyatakan bahwa wilayah penyembuhan yang bisa dicakup juga menjangkau penyakit fisik seperti kanker, jantung, dan sebagainya.

Kesimpulan global dari hasil sebuah penelitian yang dilakukan Universitas Emory menunjukkan bahwa ketika membaca, bagian-bagian otak seperti cortex cerebri, hipotalamus, dan thalamus menjadi aktif.

Membaca dapat merangsang daya imajinasi, meningkatkan kemampuan berempati, menstimulasi otak yang salah satunya bisa menghindarkan manusia dari penyakit dementia dan Alzheimer, membangun mekanisme pertahanan terhadap stres, dan memperkuat daya ingat atau melatih memori.

Sedang manfaat menulis beberapa di antaranya adalah membantu menyalurkan emosi, mengubah cara berpikir menjadi lebih baik, meningkatkan kualitas tidur, mempertinggi kelancaran berbicara, membuat kesehatan pikiran dan tubuh lebih baik, menajamkan imajinasi dan kreativitas, dan memperbaiki aura positif dalam tubuh.

Secara umum, buku memiliki efek bagi pembaca. Namun dalam konteks penyembuhan, dibutuhkan buku spesifik yang relevan, terkait dengan keluhan atau penderitaan yang dihadapi. Yang paling kerap direkomendasikan adalah buku-buku fiksi.

Meski demikian, buku-buku nonfiksi pun memiliki efek terapeutik, namun bersifat kondisional. Dalam wilayah ilmu psikologi, kondisi keterhanyutan secara emosional ketika membaca kemudian larut dalam cerita dan situasi tokohnya disebut experience-taking.

Pada level tertentu, rasa empati yang kuat serta keterikatan dengan tokoh atau jalan cerita bisa berdampak membawa perubahan positif dalam sikap. Inilah yang menjadi bagian terpenting dalam mekanisme penyembuhan, yang akan meningkatkan kondisi mental dan emosi yang semula buruk bergerak membaik. Terlebih jika cerita menggambarkan kisah yang mirip dengan apa yang sedang dialami.

Dengan membaca seseorang bisa mengenali dan memahami siapa dirinya. Pengetahuan yang didapatkan pada saat proses mencerna setiap kalimat yang dibaca akan menjadi sebuah rangsangan untuk memecahkan masalah yang sedang dialami.

Ketika membaca, secara alami otak akan berimajinasi untuk menggambarkan apa yang disajikan penulis dalam bukunya, Kegiatan ini dapat mendorong pembaca untuk berperilaku positif. Membaca akan memperoleh pengetahuan tentang sikap yang dapat memecahkan masalah dan membantu untuk lebih memahami siapa diri.

Membaca juga mampu membuat seseorang sadar bahwa ketika sedang mengalami suatu masalah ada begitu banyak cara untuk menyelesaikan. Membaca bisa membangkitkan kembali rasa percaya diri untuk mengomunikasikan hal tersulit dan terberat yang sedang dihadapi karena takut, malu, merasa bersalah.

Lewat membaca, ia akan tergerak untuk berkomunikasi tanpa rasa malu karena rahasia yang paling rahasia dalam dirinya diketahui oleh selain dirinya. Jadi orang yang memiliki trauma dapat dicoba untuk disembuhkan traumanya sedikit demi sedikit dengan metode terapi menggunakan buku.

Oleh: Nurul Asiah, Pustakawan Ahli Pertama, Fikom Unpad.

Loading...