Tamasya Rp 5.000 di Museum Gedung Sate

Tamasya Rp 5.000 di Museum Gedung Sate
INILAH, Bandung-Apa yang terbayang ketika anda mendengar kata museum? Tentunya tak sedikit yang menggambarkan dengan kesan kuno, sepi bahkan angker.
 
Namun tidak seperti itu kondisi di Museum Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung. Justru yang terasa adalah kesan lawas yang dibalut sentuhan futuristik. Dijamin anda akan takjub di tempat ini. Maka, tak ada salahnya menjadikan Museum Gedung Sate sebagai destinasi wisata selama liburan kali ini.
 
Para pengunjung bisa melihat sinergi artefak sejarah yang kuno dengan kecanggihan teknologi di museum yang berada di kantor Pemerintah Provinsi Jawa Barat ini. 
 
Museum ini terletak di basement sayap kanan Gedung Sate. Plang “Museum Gedung Sate” akan menyambut anda sebelum memasuki museum. Ketika melangkah area depan, anda akan melihat Instalasi lini waktu perjalanan Kota Bandung lengkap dengan deskripsi sejarah di berbagai sudut Kota Kembang. Ditambah foto-foto tempo dulu hingga rekaman audiovisual. 
 
Jika anda menengok ke sisi kanan, akan ditemukan instalasi serupa, namun menampilkan informasi mengenai kondisi geografis Kota Bandung dan sekitarnya.
 
Pengunjung langsung dibuat terkagum-kagum di awal memasuki museum oleh diorama sejarah terbentuknya gedung yang dulu bernama Gouvernement Bedrijven ini. Dari mulai pencitraan tiga dimensi, hingga augmented reality disajikan di dalam museum.
 
Setelah itu, pengunjung bakal melihat jejak sejarah Gedung Sate lewat tampilan teknologi visual digital dan video mapping yang cukup canggih seperti yang terdapat di ruang film, ruang architarium, ruang augmented reality, ruang virtual reality dan ruang display.
 
Para pengunjung pun bisa mengetahui rahasia material bangunan dan teknik yang digunakan para arsitek-arsitek zaman dulu ketika membangun Gedung Sate yang sejak tahun 1924 hingga hari ini masih berdiri kokoh.
 
Kasubag Urusan Dalam Bagian Rumah Tangga Biro Umum Setda Provinsi Jabar, Ebet nugraha mengatakan jumlah pengunjung ke Museum Gedung Sate ini cenderung bertambah sejak dibuka pada 8 Desemner 2017 lalu. Dia mengklaim, rata-rata ada sekitar 200 pengunjung yang datang setiap hari.
 
"Dihitung selama satu tahun dibuka kita sudah menyedot sekitar 117.000 pengunjung," ujar Ebet kepada Inilahkoran, Jumat (21/22/2018).
 
Dia memprediksi, di akhir tahun ini jumlah pengunjuk akan bertambah banyak. Mengingat, memasuki libur panjang Natal dan Tahun Baru.
 
"Sebetulnya sudah satu minggu terakhir pengunjung semakin banyak. Estimasi kita palung di angka 300-500 (pengunjung) seperti hari ini," katanya.
 
Dikatakan, di mulai 5 Juli 2018 lalu masyarakat yang hendak datang Museum Gedung Sate ini diperkenankan membayar Rp 5000. Itu sesuai dengan Peraturan Daerah yang berlaku. 
 

"Kalau untuk reservasi, masyarakat bisa melalui web museum gedung sate," pungkasnya.

Loading...