Ini Syarat dari Menhub Bagi Sriwijaya Air

Ini Syarat dari Menhub Bagi Sriwijaya Air
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi. (Antara Foto)

INILAH, Jakarta - Kementerian Perhubungan meminta PT Sriwijaya Air membnerikan laporan keuangannya sebelum mengakhiri Kerja Sama Manajemen dengan PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA).

Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi mengatakan laporan keuangan Sriwijaya Air itu akan menjadi tolak ukur bagi mitra perusahaan. Isinya seperti data tentang penyedia avtur dan bengkel pesawat dalam memberikan pelayanan kepada Sriwijaya Air. Jika laporan keuangan positif, mitra perusahaan tentu tenang karena pembayaran dijamin lancar.

Laporan keuangan juga akan memberikan gambaran kepada regulator terkait utang Sriwijaya Air kepada perusahaan lain. Karena itulah, menurut Menhub Budi Karya, pihaknya akan minta laporan keuangan Sriwijaya Air. "Jadi, tanggung jawab ke pihak lain juga tercatat di situ."

Budi menyatakan pihaknya akan terus memantau operasional penerbangan Sriwijaya Air ke depan. Ada beberapa hal yang harus dipenuhi oleh entitas penerbangan itu, salah satunya sumber daya manusia (SDM). "SDM harus memenuhi syarat, presiden direkturnya, direktur operasional, dan direktur perawatan itu kami klarifikasi. Itu sudah selesai."

Sriwijaya Air juga harus mendapatkan jaminan dari pihak lain untuk perawatan hingga penyediaan avtur. Pasalnya, perawatan pesawat wajib dilakukan secara berkala. Secara reguler akan ada inspeksi di bandara-bandara tertentu.

Dalam penilaian Menteri Budi Karya Sumadi, keputusan Garuda Indonesia dan Sriwijaya Air yang mengakhiri kerja sama manajemen (KSM) akan membuat pasar lebih kompetitif. Pasalnya, jumlah operator semakin banyak selepas keduanya bercerai. Dengan masing-masing berdiri sendiri, kata dia, ada kompetisi, Garuda fokus dengan perusahaannya dan Sriwijaya juga.

Seperti diketahui Garuda Indonesia-Sriwijaya Air akhirnya sepakat mengakhiri KSM, yang dijalin sejak 2018, sebagai buntut kisruh dalam kerja sama mereka. Pihak Sriwijaya mengklaim, berkolaborasi dengan Garuda, bukannya buntung tetapi malah buntung.

Sebaliknya, pihak Garuda menganggap pemegang saham Sriwijaya terlalu jauh ikut campur, sehingga direksi baru hasil KSM tidak bebas bekerja. Tetapi, Garuda mengklaim, utang Sriwijaya berkurang dari pengelolaan baru itu. [Inilahcom]

Loading...