NABI YUSUF AS: Pengelolaan Ekonomi, Salah Satu Aset Menuju Tampuk Kekuasaan

NABI YUSUF AS: Pengelolaan Ekonomi, Salah Satu Aset Menuju Tampuk Kekuasaan
Ilustrasi (net)

“Berkata Yusuf: Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan.” (QS Yusuf [12]: 46)

Raja Mesir menambatkan masa depan Mesir kepadanya. Yusuf as dianggap sebagai orang yang tepat dan siap menghadapi krisis ekonomi yang akan dideranya 7 tahun ke depan. Yusuf didaulat menjadi bendaharawan negara. Ia diberi kewenangan untuk berencana, mengatur, dan mengambil kebijakan-kebijakan teknis dan strategis. 

Bahkan, Raja senantiasa menyampaikan kepada Yusuf  agar setiap tindakan bisa sinergis demi menjaga dan menyelamatkan Mesir yang dicintainya. Tampillah Yusuf menjadi “jantung” yang menyuplai segenap kebijakan yang ditetapkan di sana.
Masa tujuh tahun pertama (yaitu masa berlimpah) terlampaui. 
Berikutnya bersiap menghadapi masa paceklik. Seluruh wilayah Mesir dan sekitarnya mulai merasakan. Berkat keterampilan Yusuf as, Mesir mampu menyimpan cadangan kebutuhan ekonomi tidak hanya untuk menghidupi Mesir. bahkan membantu wilayah lain yang juga kekurangan.

Banyak utusan luar Mesir datang. Mereka berniat meminta bahan pokok dengan cara barter, termasuk para saudaranya yang tinggal di Palestina. Nabi Yusuf mengenal mereka, namun mereka tidak mengenalnya. Kesempatan ini Nabi Yusuf gunakan untuk menyambung tali silaturahim yang dulu diputuskan saudaranya. 

Nabi Yusuf memenuhi kebutuhan para saudaranya tanpa mengindahkan barang tukaran mereka. Beliau meminta para saudaranya untuk membawa adik kandungnya (Bunyamin) jika mau menukar kembali barangnya. 

Sesampainya di rumah, saudara Nabi Yusuf memberikan bahan pokok kepada ayahnya dan menceritakan keadaan di sana. Mereka pun menyampaikan mereka diperbolehkan kembali menukarkan barang seandainya membawa Bunyamin ke sana. 

Nabi Ya’qub as awalnya menolak. Setelah ia memberikan nasihat agar bertakwa kepada Allah Swt, barulah membolehkan mereka membawa Bunyamin. Bahkan, ia menambahkan nasihatnya agar memasuki gerbang Mesir melalui pintu yang berbeda.

Tatkala Nabi Yusuf melihat Bunyamin yang sedang berjalan di salah satu jalan di Kota Mesir, ia segera memanggilnya dan menyampaikan identitasnya. Bunyamin sangat gembira dan menceritakan keadaan ayahnya. 

Lalu, Nabi Yusuf menyampaikan ia akan membawa ayah dan keluarganya untuk bersama-sama menetap di Mesir. Diawali dengan skenario Bunyamin, ia membuat rencana agar Bunyamin bisa tetap tinggal di Mesir.

Rencana pun dijalankan. Setelah para saudara Nabi Yusuf as cukup dengan kebutuhannya dan berniat pamit, seorang penjaga tiba-tiba menyampaikan barang kerajaan ada yang hilang. 
Sontak semua yang mendengar kaget. Dengan demikian, diadakanlah pemeriksaan kepada seluruh pendatang dan akan menindaklanjuti pelakunya dengan tidak memperbolehkannya keluar dari Mesir. 

Para petugas cekatan memeriksa setiap karung dan mengeluarkan barang yang dicari. Sampai tiba di karung yang dimiliki Bunyamin. Ternyata, barang yang dicari yaitu piala raja ada di dalamnya. Dengan demikian, Bunyamin dinyatakan bersalah dan tidak boleh keluar dari Mesir. 

Para saudaranya berupaya kuat membebaskan Bunyamin. Mereka memohon agar Nabi Yusuf as berkenan membebaskannya demi ayahnya di Palestina yang akan bersedih karena kehilangan anak kedua kalinya. Namun Nabi Yusuf menolak permohonannya dan meminta mereka meninggalkan Mesir tanpa Bunyamin. 

Di rumah, Nabi Ya’qub menunjukkan rasa terpukul dan bersedih hati. Ia bersedih atas kehilangan kedua buah hatinya (Nabi Yusuf dan Bunyamin). Setiap harinya menunjukkan kesedihan yang semakin dalam sehingga matanya memutih dan menjadi buta. Ia meminta para saudaranya agar menginformasikan setiap kabar terbaru tentang Bunyamin.

Begitulah selanjutnya, saudara Nabi Yusuf bolak-balik dari Palestina menuju Mesir guna mendapat tukaran bahan pokok dan mengetahui kabar Bunyamin, hingga suatu saat Nabi Yusuf as memanggil mereka dan menyampaikan identitas dirinya. 

Para saudaranya malu dan meminta maaf. Mereka menyampaikan keadaan Nabi Ya’qub as. Maka, Nabi Yusuf memerintahkan mereka untuk membawa Nabi Ya’qub tinggal bersamanya (memimpin) di Mesir dalam panduan petunjuk-Nya. Wallahu a’lam. (Ustaz Edu)

Loading...