IHSG Ada Peluang Bangkit

IHSG Ada Peluang Bangkit
Ilustrasi/Net

INLAH, Jakarta - IHSG berpotensi rebound di awal pekan ini, yang terdorong dengan penguatan bursa saham AS dan efek neraca dagang surplus pada akhir pekan lalu.

Praktisi pasar modal, Stefanus Mulyadi Handoko menyarankan perhatikan level support 6.062 dan resistance 6.305. Sebab ini akan menentukan arah IHSG selanjutnya apakah mau ke bawah (bearish) atau ke atas (bullish). "Selama belum terjadi penembusan batas atas atau bawahnya, maka IHSG masih bergerak dalam pola konsolidasinya," seperti mengutip dari hasil catatannya.

Secara teknikal, dari weekly chart IHSG terlihat masih bergerak dalam fase konsolidasi membentuk pola symmetrical triangle, dengan level support saat ini di kisaran 6.062 dan resistance sementara dikisaran 6.305. Indikator teknikal MACD masih cenderung bergerak menurun, mengindikasikan bahwa IHSG masih cenderung melemah menguji area supportnya.

Apabila IHSG dapat bertahan di support 6.062 dan menguat lagi, terbuka peluang bagi indeks untuk rebound ke resistance level 6.305 lagi. Penembusan keatas 6.305 nantinya akan membuat IHSG keluar dari konsolidasinya dan mulai bergerak naik (bullish), sehingga berpeluang menuju level tertinggi sepanjang masa di 6.693.

Namun apabila IHSG gagal bertahan di support 6.062 dan bergerak turun menembus ke bawah level psikologis 6.000, maka indeks berpotensi akan melanjutkan downtrendnya dengan menuju kisaran 5.750 sebagai target penurunannya.

Untuk pekan ini, pelaku pasar akan mencermati pertemuan BI pada hari kamis. BI berpotensi akan menahan suku bunga acuannya tetap atau tidak berubah di level 5%, setelah sebelumnya telah menurunkan 4 kali berturut-turut sebesar 25 bps.

Sementara dari luar negeri, data dan agenda ekonomi penting yang akan menjadi perhatian dari investor pada pekan ini diantaranya adalah:
- Selasa 19 November 2019, Kebijakan moneter Australia
- Rabu 20 November 2019, Rilis data perdagangan Jepang, Laporan meeting The Fed
- Kamis 21 November 2019, Kebijakan moneter ECB
- Jumat 22 November 2019, Rilis data inflasi Jepang, Rilis data GDP Jerman, Pernyataan Presiden ECB Lagarde, Rilis data manufaktur zona euro, Rilis data manufaktur AS.

Rekor Tertinggi Baru
Bursa saham AS pada akhir pekan lalu menguat dan berhasil mencapai level rekor tertinggi baru pada penutupan perdangangan akhir pekan. Rekor ini dipicu oleh optimisme atas potensi kesepakatan perdagangan AS-China yang semakin positif.

Selain itu kenaikan besar pada saham perusahaan kesehatan yang dipicu pengumuman dari Presiden AS Donald Trump tentang transparansi harga layanan kesehatan.

Dow Jones berhasil mencetak rekor dan menyentuh level 28.000 untuk pertama kalinya, setelah penasehat ekonomi pemerintah AS Larry Kudlow mengatakan bahwa China dan AS semakin dekat untuk mencapai kesepakatan perdagangan.

Komentarnya yang muncul setelah beberapa laporan menyatakan kedua belah pihak berselisih mengenai persyaratan perjanjian perdagangan fase satu, menjadi dorongan bagi pasar. Dow Jones ditutup naik 222,93 poin (+0,8%) menjadi 28.004,89.

Sedangkan indeks S&P 500 dan Nasdaq juga ke level tertinggi sepanjang masa baru, setelah masing-masing naik 23,83 poin (+ 0,77%) menjadi 3.120,46 dan 61,81 poin (+0,73%) menjadi 8.540,83. Secara mingguan ketiga indeks utama saham AS berhasil membukukan penguatan dengan Dow Jones naik +1,17%, S&P 500 menguat +0,89% dan Nasdaq menguat +0,77%.

IHSG Turun Beruntun
Sementara dari dalam negeri, IHSG berakhir naik 29,395 poin (+0,48%) ke level 6.128,345 pada perdagangan akhir pekan. Investor asing mencatatkan net buy setelah membukukan pembelian senilai Rp22 miliar di pasar reguler.

Namun untuk sepanjang minggu kemaren, IHSG tercatat masih mengalami penurunan sebesar -0,8%, dengan diikuti oleh net sell investor asing sebesar Rp1,28 triliun di pasar reguler.

Secara mingguan, IHSG melanjutkan pelemahan dalam 3 pekan berturut-turut. Pergerakan IHSG dipengaruhi oleh sentimen global maupun lokal.

Kelanjutan drama perang dagang yang diwarnai oleh kesimpangsiuran dalam negosiasi dagang antara AS-China, masih menjadi sentimen utama penggerak indeks saham dunia. Dari regional, gerakan aksi protes massa di Hongkong yang kembali panas dan memicu kekerasan menjadi sentimen negatif bagi bursa saham kawasan Asia.

Sementara dari dalam negeri, turunnya saham-saham BUMN terutama sektor perbankan yang dipicu oleh kabar bahwa emiten-emiten plat merah diminta untuk menyelamatkan Bank Muamalat dan Asuransi Jiwasraya dari permasalahan keuangan yang kini sedang menerpanya, menjadi sentimen negatif bagi IHSG.

Meski akhirnya IHSG mampu bangkit di akhir pekan berkat rilis data neraca perdagangan bulan Oktober yang secara tak terduga mencatatkan surplus sebesar US$ 160 juta. Namun akibat koreksi di tengah pekan, membuat kinerja IHSG tercatat melemah secara mingguan. (Inilahcom)

Loading...