Kapankah Sesuatu Disebut Bid'ah Terlarang?

Kapankah Sesuatu Disebut Bid'ah Terlarang?

UNTUK melengkapi definisi bidah sebelumnya, kita harus memahami tiga syarat kapankah suatu amalan disebut bidah. Tiga syarat ini asalnya disimpulkan dari dalil-dalil berikut ini.

Pertama: Hadits Al Irbadh bin Sariyah radhiyallahu anhu, dalam hadits tersebut disebutkan sabda Rasul shallallahu alaihi wa sallam, "Hati-hatilah dengan perkara yang diada-adakan karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bidah dan setiap bidah adalah sesat." (HR. Abu Daud, no. 4607 dan Tirmidzi, no. 2676. Syaikh Al-Albani mengatakan hadits ini shahih)

Kedua: Hadits Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhu, dalam hadits tersebut Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Amma badu. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (bidah) dan setiap bidah adalah sesat." (HR. Muslim, no. 867)

Ketiga: Hadits Aisyah radhiyallahu anha, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak." (HR. Bukhari, no. 20 dan Muslim, no. 1718)

Keempat: Dalam riwayat lain dari Aisyah, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak." (HR. Muslim, no. 1718)

Dari hadits-hadits tersebut dapat disimpulkan apa yang dimaksud bidah yang terlarang dalam agama, yaitu:
- Sesuatu yang baru (dibuat-buat).
- Sesuatu yang baru dalam agama.
- Tidak disandarkan pada dalil syari.

[baca lanjutan]

Loading...