Sesuatu yang Baru dalam Agama Tanpa Ada Dalil

Sesuatu yang Baru dalam Agama Tanpa Ada Dalil
ilustrasi

TIGA syarat bidah yang terlarang dalam agama telah kita temukan pula dalam perkataan para ulama berikut.

Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah berkata, "Setiap yang dibuat-buat lalu disandarkan pada agama dan tidak memiliki dasar dalam Islam, itu termasuk kesesatan. Islam berlepas diri dari ajaran seperti itu termasuk dalam hal itiqod (keyakinan), amalan, perkataan yang lahir dan batin." (Jaami Al-Ulum wa Al-Hikam, 2:128)

Beliau rahimahullah juga berkata, "Yang dimaksud dengan bidah adalah sesuatu yang baru yang tidak memiliki landasan (dalil) dalam syariat sebagai pendukung. Adapun jika didukung oleh dalil syari, maka itu bukanlah bidah menurut istilah syari, namun bidah secara bahasa." (Jaami Al-Ulum wa Al-Hikam, 2:127)

Ibnu Hajar rahimahullah berkata, "Sesuatu yang memiliki landasan dalil dalam syariat, maka itu bukanlah bidah. Maka bidah menurut istilah syariat adalah tercela berbeda dengan pengertian bahasa karena bidah secara bahasa adalah segala sesuatu yang dibuat-buat tanpa ada contoh sebelumnya baik terpuji maupun tercela." (Fath Al-Bari, 13:253)

Setelah memahami yang dikemukakan di atas, pengertian bidah secara ringkas adalah, "Sesuatu yang baru (dibuat-buat) dalam masalah agama tanpa adanya dalil." Inilah yang dimaksud dengan bidah yang tercela dan dicela oleh Islam. Lihat Qowaid Marifah Al-Bida, hlm. 22. Pembahasan pada point ini juga diringkas dari Qowaid Marifah Al-Bida, hlm. 17-22.

Semoga benar-benar dapat memahami bidah lebih dekat.

[Referensi: Mengenal Bidah Lebih Dekat. Muhammad Abduh Tuasikal]

Loading...