Tertolaknya Amalan Baru dalam Agama

Tertolaknya Amalan Baru dalam Agama
ilustrasi

MAU tahu hadits tentang bidah dan bahayanya yang membuat amalan tertolak?

Dari Ummul Mukminin, Aisyah radhiyallahu anha, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak." (HR. Bukhari dan Muslim) [HR. Bukhari, no. 20 dan Muslim, no. 1718]

Dalam riwayat Muslim, disebutkan, "Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak." [HR. Muslim, no. 1718]

Faedah Hadits:
- Syarat diterimanya amalan itu ada dua yaitu ikhlas dan ittiba (mengikuti tuntunan). Syarat ikhlas ini yang dibahas dalam hadits pertama dalam Al-Arbain An-Nawawiyah "innamal amaalu bin niyaat". Sedangkan ittiba ini yang dibahas dalam hadits kali ini. Hadits "innamal amaalu bin niyaat" adalah timbangan untuk amalan batin, sedangkan hadits nomor lima kali ini adalah timbangan untuk amalan lahiriyah.
- Mengamalkan amalan yang tidak ada tuntunannya, maka amalan tersebut mardudun (tertolak), tidak diterima di sisi Allah.
- Kalimat "man ahdatsa" berarti mengadakan amalan yang baru dalam agama.
- Kalimat "fii amrinaa" bermakna dalam agama.
- Dari dalil ini dapat disimpulkan bahwa semua bidah itu madzmumah (tercela), tidak diterima di sisi Allah. Sehingga pembagian bidah menjadi bidah hasanah dan bidah sayyiah atau membaginya menjadi lima sesuai dengan hukum taklif (wajib, sunnah, haram, makruh, dan mubah) tidaklah tepat. Ditambah lagi dalam hadits disebutkan celaan pada setiap macam bidah di mana disebut "kullu bidatin dholalah", setiap bidah itu sesat. Kata "kullu" di sini maknanya umum, artinya semua bidah itu tercela.
- Amalan bidah itu ada beberapa macam:
- ada yang bidahnya pada pokok amalan artinya ia mengamalkan amalan yang asalnya tidak ada tuntunan, maka amalan tersebut tidak diterima;
- ada yang bidahnya pada tambahan namun amalan pokoknya tetap disyariatkan, maka amalan tambahan ini tertolak, adapun amalan pokoknya diterima jika memang tidak dirusak dengan amalan tambahan;
- pokok amalan asalnya ada tuntunan, namun seseorang mengerjakannya menyelisihi ketentuan syariat, amalan tersebut tidak diterima; seperti berpuasa dari berbicara, maka tidak ada tuntunan;
- sudah sesuai dengan ketentuan pokok syariat dan caranya, namun jumlahnya yang berbeda dengan ketentuan; seperti mengamalkan dzikir pagi petang dibaca seribu kali untuk bacaan istighfar, maka ini menyelisihi ketentuan;
- amalannya disyariatkan namun menyelisihi dalam hal mengistimewakan hari dan tempat, seperti berpuasa pada hari Selasa karena dianggap sebagai hari lahirnya, maka amalan tersebut tidak diterima.
- Jika ada yang melakukan ibadah dengan cara yang terlarang yang tidak disyariatkan apakah amalan tersebut diterima ataukah tidak, perlu dirinci:
- jika larangan yang dilakukan di luar dari ibadah seperti berhaji dengan harta haram atau berwudhu dari bejana yang terbuat dari emas, ibadahnya sah, namun berdosa karena melakukan yang haram;
- jika larangan tersebut masuk dalam ibadah, misalnya shalat di rumah hasil rampasan, maka yang dilakukan adalah perbuatan yang haram dan pelakunya berdosa. Namun jumhur ulama menyatakan tetap mendapatkan pahala. Sedangkan Imam Ahmad menganggap shalatnya tidaklah sah.

[baca lanjutan] 

Loading...