Pekerja di Bawah Umur Marak, Pemerintah Diminta Buka Mata

Pekerja di Bawah Umur Marak, Pemerintah Diminta Buka Mata

INILAH, Bandung- Maraknya pekerja anak di bawah umur saat ini menjadi satu diantara perhatian dunia internasional, tidak terkecuali di Indonesia. Pelanggaran terhadap hak-hak dan kekerasan pada anak menjadi tantangan utama.

Demikian disampaikan, Ketua DPD KNPI Kota Bandung Hendra Guntara, usai menghadiri acara Forum Diskusi yang digelar pihaknya dan Karang Taruna Kecamatan Sukaluyu dengan tema "Pencegahan dan Perlindungan Pekerja Anak Bawah Umur" di Jalan PH Mustofa, Kota Bandung, Selasa (19/11/2019).

"Anak ini harus mendapatkan haknya dari mulai dia balita satu diantaranya hak nya juga untuk mendapatkan pendidikan," ucap Hegun sapaan akrab Hendra Guntara

Lebih lanjut, Hegun mengungkapkan, saat ini Kota Bandung sudah masuk kategori sebagai kota layak anak, namun demikian apakah perusahaan yang ada di Kota kebang ini sudah benar-benar tidak memperkejakan anak di bawah umur.

"Sehingga melalui acara FGD yang digelar KNPI bersama karang taruna ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman tentang peraturan perlindungan anak di bawah umur, sebagai Komitmen mewujudkan Indonesia Bebas Pekerja Anak Pada Tahun 2022," ujar Hegun.

Selain itu, Hegun menambahkan, diskusi seperti ini penting bagi pemerintah bersama Stakeholder terkait untuk duduk bersama mencari persoalan mengapa masih ada anak-anak memilih bekerja daripada mereka menyelesaikan sekolah.

"Apa memang tidak terfasilitasi pendidikannya, atau masalah ekonomi. Mudah-mudahan dari acara ini bisa menghasil pokok rekomendasi dan soslusi untuk masalah ini," ungkap Hegun.

Hegun juga menambahkan, salah satu langkah nyata pihaknya dalam mewujudkan Kota Bandung bebas pekerja anak dibawah umur. DPD KNPI Kota Bandung juga telah melakukan upaya dengan bergabung di dinas pemberdayaaan perempuan dan perlindungan anak, untuk bergabung di gugus tugas tindak pidana perdagangan orang, kalau ada perusahaan yang mempekerjakan anak dibawah umur.

"Tapi dari pemerintah harus mencarikan solusi, Kota bandung saya kira sudah mendapatkan penghargaan kota layak anak," pungkasnya.

Sementara itu, Psikolog dari Unisba (Universitas Islam Bandung) Yunita Sari menambahkan, dilihat dari sisi psikologis, anak dibawah umur rentan sekali depresi akibat tekanan di dunia kerja yang sangat kompleks. Pasalnya, umur dan kedewasaan anak dibawah umur dinilainya belum mampu menanggung beban berat dari sebuah pekerjaan.

"Ini harus dipikirkan yah, bagaimana sisi psikologis anak itu sendiri, karena anak ini kan cepat bosan, dan bukan tidak mungkin akibat tekanan dapat depresi," ujar Yunita.

Bahkan, lanjut Yunita, jika seorang anak dibiarkan depresi akibat sebuah tekankan pekerjaan. Anak tersebut berpotensi juga mengalami gangguan kesehatan jiwa lainnya.

"Banyak dampak, misalnya jika depresi berlebihan anak itu bisa menjadi tertutup dan cenderung tidak bersosialisasi, bahkan bisa sampai bunuh diri," tandas Yunita. (Ridwan Abdul Malik)
 

Loading...