(Sikap Kami) Kemana Moral Kita?

(Sikap Kami) Kemana Moral Kita?

APAKAH sebenarnya yang sedang terjadi di negeri ini? Sebagian orang tidak lagi punya rasa malu, bahkan mempertontonkan (maaf) kemaluan itu.  Kemana moral dan adab kita?

Sungguh, rasanya kita malu karena peristiwa-peristiwa memalukan, bahkan menjijikkan itu. Itu terjadi di halaman kita, di Tanah Pasundan, wilayah yang secara administratif bernama Jawa Barat ini.

Belum cukup rupanya rasa malu kita atas peristiwa menjijikkan yang terjadi di Tasikmalaya. Kini, di Baleendah, Kabupaten Bandung, peristiwa yang menunjukkan terjadinya dekadensi moral itu terulang pula.

Siapapun pelakunya, bagaimanapun kondisinya, kita patut mengutuk aksi menjijikkan tersebut. Buat kita, apa yang terjadi itu, sama sekali bukan menunjukkan sifat dan sikap masyarakat Jawa Barat.

Tetapi, mengecam, mengutuk saja, tidaklah menyelesaikan persoalan. Harus ada langkah-langkah dari pemerintah, tokoh-tokoh masyarakat, tokoh-tokoh agama, tokoh-tokoh pendidik, bahkan pers, mengembalikan moralitas sebagai salah satu dasar berpijak kita.

Persoalan ini, buat kita, jauh lebih besar daripada hiruk pikuk soal kolam renang di rumah dinas gubernur itu. Persoalan ini, semestinya juga membuat gubernur tidak asyik dengan kolam renang, melainkan mengambil langkah-langkah lugas untuk ikut mengatasinya, sebagai pemimpin Jawa Barat.

Kita memahami, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten dan kota, telah mengambil sejumlah langkah untuk memperbaiki moralitas warganya. Subuh berjamaah, magrib mengaji, dan sebagainya. Tapi, ternyata itu saja belum cukup, setidaknya dengan contoh dua kasus yang terjadi hanya dalam rentang waktu tak lebih dari seminggu ini.

Itu sebabnya, kita memandang tugas berat ini –bahkan menurut kita jauh lebih berat ketimbang soal radikalisme—harus dipikul bersama-sama. Tidak cukup hanya gubernur, bupati, wali kota. Semua pihak harus memainkan perannya. Tokoh masyarakat dan pendidik mengajarkan budi, tokoh agama menularkan akhlak, pers juga kita sarankan tidak membesar-besarkan kasus-kasus yang menyangkut pornografi dan pornoaksi ini.

Dunia memang terkembang. Teknologi membuat siapapun bisa mengakses apapun. Itu kondisi yang tak terbantahkan. Tapi, kita masih memiliki pagar-pagar melalui keteladanan para tokoh, tokoh pemerintahan, agama, pendidikan, masyarakat, agar moralitas generasi kita, generasi mendatang itu, tak tergerus semakin dalam. Agar kita tak lagi dipermalukan oleh peristiwa-peristiwa semacam ini. (*)


 

Loading...