Gelapkan Onderdil Pesawat, 5 Karyawan PT DI Dituntut 1 hingga 3 Tahun

Gelapkan Onderdil Pesawat, 5 Karyawan PT DI Dituntut 1 hingga 3 Tahun
JPU Kejari Bandung menuntut lima karyawan PT Dirgantara Indonesia (DI) hukuman penjara bervariatif mulai dari 1 hingga 3 tahun penjara. (Ahmad Sayuti)

INILAH, Bandung- JPU Kejari Bandung menuntut lima karyawan PT Dirgantara Indonesia (DI) hukuman penjara bervariatif mulai dari 1 hingga 3 tahun penjara.

Kelimanya terbukti bersalah melakukan penggelapan dalam jabatan dengan kerugian Rp 5,4 miliar. 

Hal itu terungkap dalam sidang lanjutan kasus penggelapan onderdil milik PT DI dengan total Rp 5,4 miliar di Pengadilan Negeri Klas 1A Khusus Bandung, Jalan RE Martadinata, Kamis (21/11/2019).

Kelima terdakwa, yakni Agus Zaenudin (staf gudang),  Indra Nanda Lesmana (staf gudang), Mochamad Randenaswara (staf umum), Dian Hadiansyah (supervisor quality inspection), dan  Wawan Kriswana (karyawan kontrak). 

Dalam persidangan JPU Kejari Bandung Melur Kimaharandika dan Lucky Afgani membacakan amar tuntutan secara bergantian. JPU menyatakan para terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan penggelapa  dalam jabatan secara berkelanjuta  sebagaimana Pasal 374 KUHPidana Jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHPidana Jo Pasal 64 ayat 1 KUHPidana.

"Menuntut terdakwa satu Agus Zaenudin dan terdakwa dua Moch Radenaswara hukuman tiga tahun penjara dikurangi masa tahanan," katanya.

Swmentara terdakwa Wawan Kriswana dan Dian Hardiansyah dituntut hukuman dua tahun penjara, dan terdakwa Indra Nanda Lesmana dituntut hukuman penjara selama satu tahun. 

Hal yang memberatkan perbuatan para terdakwa merugika  negara Rp 5,4 miliar. Sedangkan yang meringankan, para terdakwa sopan, kooperatif dan mengakui perbuatannya.

Atas tuntutan tersebut para terdakwa mengajuka  pembelaan atau pleidoi. Sidang yang dipimpin Yulia ditunda pekan depan dengam agenda pembelaan. 

Dalam uraiannya JPU menyatakan terdakwa Agus Zaenudian dan empat terdakwa lainnya  (berkas terpisah), antara Mei 2018 sampai September 2018,  bertempat di Gudang CH, Gudang CG dan Gudang Ex Repair Area PT Dirgantara Indonesia dengan sengaja melawan hukum memiliki barang yang bukan hak miliknya.

”Yakni spare part pesawat terbang yang nilainya mencapai USD 374.266.53 atau jika dirupiahkan mencapai Rp 5, 426.864.685,” katanya.

Adapun barang yang milik PT DI yang digelapkan oleh para terdakwa itu totalnya sebanyak 19 item, dan diperjualbelikan tanpa melalui standar operasional prosedur (SOP) dan izin manajer PT DI.  

Dari 19 spare part pesawat terbang yang dikeluarkan, sebanyak 18 item diberikan kepada Mochamad Randenamara yang merupakan staff divisi fasilitas umum PT DI dengan cara Mochamad Randenaswara terlebih dahulu menghubungi terdakwa dan menginformasikan spare part pesawat yang dibutuhkan untuk diambil dari gudang.

Kemudian pada saat Jam istirahat atau setelah pegawai yang lain pulang dan kondisi ruangan sedang sepi, terdakwa mengambil spare part pesawat yang dipesan dan memasukkannya ke dalam tas punggung dan diberikan kepada Radenaswara.

”DI Hanggar fasilitas kerja Mochammad Radenaswara, terdakwa bertukar tas. Atau terkadang trasnsaksi dilakukan di toilet lantai dasar Geudng Air Craft Integration jika barang yang dipesan berupa konektor pesawat terbang yang bisa disimpan di saku baju produksi terdakwa,” ujarnya.

Sementara itu, khusus spare part berupa empat buah konektor terdakwa berikan kepada Indra Lesmana selaku staff gudang CG PT DI untuk mengambil spare part tersebut dengan menawarkan fee/keuntungan sebanyak Rp. 500.000 untuk satu buah konektor.

Ia mengungkapkan, 18 spare part yang diberikan kepada Mochamad Randenaswara, dijual secara bertahap  ke luar, yakni ke  Darmawan Als Budi Als Anduk, iwan Als Beke dan Beni Als Benjol (DPO) dengan total penjualan senilai Rp 429 juta.

“Saksi Mochamad Randenaswara serahkan kepada terdakwa sebesar Rp. 358 juta, dan sisanya Rp. 71 juta keuntungan pribadinya,” ujarnya.

Selain kepada M Radenaswara, terdakwa juga menjual satu buah buah inverter yang digunakan untuk pesawat CN 235, produksi GE Aviation System kepada Dian Hadiansyah yang merupakan supervisor quality inspection production shop and sub assy di divisi quality assurance senilai Rp 45 juta, dan dijual oleh Dian ke Wawan karyawan kontrak PT DI senilai Rp 50 juta. (Ahmad Sayuti)
 

Loading...