13 Santri di Bogor Terjangkit Hepatitis A

13 Santri di Bogor Terjangkit Hepatitis A

INILAH, Bojonggede - Sebanyak 13 orang santri Pondok Pesantren Nurul Ilmi di Desa Bojong Baru, Bojonggede Kabupaten Bogor terjangkit penyakit menular hepatitus A atau infeksi hati.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor Mike Kartalina mengatakan sebenarnya santri laki - laki yang terduga terjangkit ada 48 orang. Namun setelah dilakukan pemeriksaan, hanya 13 santri yang positif terjangkit hepatitis A.

"Kamis (7/11) 48 orang santri laki - laki Pondok Pesantren Nurul Ilmi dibawa ke Puskesmas Bojonggede dengan dugaan menderita sakit hepatitis A namun setelah dicek darah dan pemeriksaan lainnya ternyata hanya 13 orang santri yang terjangkit penyakit hepatitis A," kata Mike kepada wartawan di kantornya, Kamis (21/11).

Mantan Direktur Utama RSUD Cileungsi ini menerangkan setelah positif terjangkit penyakit hepatitis A, 13 orang santri laki - laki tersebut langsung dirujuk ke rumah sakit terdekat.

"Karena butuh perawatan yang lebih intensif, 13 orang santri laki - laki yang terjangkit penyakit hepatitis A tersebut langsung kami rujuk ke rumah sakit terdekat dari asal domisili santri namun paling banyak mereka kami rujuk ke Rumah Sakit (RS) Citama, Kota Depok dan setelah dirawat semua santri tersebut saat ini sudah kembali ke rumah atau Pondok Pesantren Nurul Ilmi," terangnya.

Mike menjelaskan para santri laki - laki yang berusia 10 hingfa 14 tahun ini terjangkit penyakit hepatitis A karena tidak melaksanakan Pola Hidup Bersih Sehat (PHBS) seperti tidak mencuci tangan sebelum makan, wadah makanan atau minuman yang tidak bersih.

"Penyakit hepatitis A berasal dari virus yang penyebarannya bisa melalui nyamuk ataupun karena sama-sama memakai  makan. Oleh karena itu kami sarankan mereka dalam aktivitas makan, mencuci tangan terlebih dahulu dan makan serta minum dengan piring atau gelas masing - masing," jelas Mike.

Ia melanjutkan jajarannya melalui Puskesmas dan tenaga medis lainnya akan mensosialisasikan pentingnya PHBS kepada masyarakat luas agar penyakit hepatitis A ini tidak tersebar ke desa atau kecamatan lainnya.

"Walaupun lenyakit hepatitis A ini bukan penyakit endemis dan mematikan namun karena penyebarannya bisa ke daerah mana saja baik panas maupun dingin kami pun menhimbau masyarakat aga melaksanakan PHBS ini wajib dilakukan oleh masyarakat baik untuk mencegah penyebaran penyakit hepatitis A ataupun penyakit lainnya," lanjutnya. (Reza Zurifwan)
 

Loading...