Kenalkan Nilai-nilai Kepahlawanan, TP2GD Putar Film Dokumenter Tiga Tokoh Daerah

Kenalkan Nilai-nilai Kepahlawanan, TP2GD Putar Film Dokumenter Tiga Tokoh Daerah
Foto: Zainulmukhtar

INILAH, Garut - Guna memupuk rasa cinta Tanah Air dan mengenalkan nilai-nilai kepahlawanan nasional, Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD) Kabupaten Garut menggelar pemutaran film dokumenter. Sosok para tokoh daerah Garut yakni Raden Ayu Lasminingrat, H Hasan Arif Cimareme, dan Pangeran Madrais itu dikenalkan kepada para generasi muda. 

Pemutaran tiga film dokumenter tersebut digelar di lantai dua aula Gedung KNPI Garut Jalan Ahmad Yani Garut, Kamis (20/11/2019). Pemutaran film tersebut dihadiri ratusan pelajar SMP, kalangan veteran, dan tamu undangan. Para penonton tampak antusias menyimak penayangan ketiga film garapan Studio Seni Proklamasi yang masing-masing berdurasi 30 menit.

Ketua TP2GD Ubun Sjachbun mengharapkan, pemutaran film perjuangan ketiga tokoh berpengaruh itu bisa memberikan edukasi. Setidaknya, dari penayangan film itu dapat memupuk, menggugah semangat, dan kecintaan generasi sekarang terhadap bangsa dan Tanah Airnya untuk kehidupan mendatang yang lebih baik.

Dia menuturkan, Raden Ayu Lasminingrat (1843-1947) seorang tokoh intelektual perempuan pertama. Dia merupakan pelopor pendidik bumi putera sekaligus sastrawati pada zaman kolonial Belanda era 1870-an. Dia ada sebelum Raden Ajeng Kartini (1879) dan Raden Dewi Sartika (1884) lahir.  

Dengan kecerdasan dan karya-karyanya, istri Bupati Garut Raden Adipati Aria Wiratanudatar VII itu berjuang meningkatkan kehidupan bangsa khususnya kesetaraan kaum perempuan melalui dunia pendidikan.  

Pada 1907, dia berhasil mendirikan sekolah Keutamaan Istri di ruang gamelan Pendopo Kabupaten Garut dengan materi pelajaran berupa baca, tulis, dan pemberdayaan perempuan. Kini, sekolah didirikannya berubah menjadi SDN Regol VII dan X.

“Saat ini, kita sedang berupaya mendorong agar Raden Ayu Lasminingrat dapat diangkat menjadi Pahlawan Nasional,” kata Ubun.

Sedangkan, Haji Hasan Arif (1853-1919) merupakan tokoh utama peristiwa banjir darah di Cimareme Garut (1919). Dia dikenal akibat penolakannya terhadap kesewenang-wenangan pemerintah kolonial Belanda terkait peraturan penjualan padi kepada Belanda. Peristiwa tersebut membawa pengaruh besar terhadap perkembangan sejarah Indonesia di awal abad ke-20. Hasan Arif bersama pengikutnya dikepung dan ditembak mati di dalam rumahnya oleh tentara KNIL.

“Terkait film Pangeran Madrais kita tampilkan, itu untuk mengenalkan bahwa tokoh ini juga seorang pahlawan yang berjuang tidak melalui senjata melainkan budaya. Dia sempat masantren di Banyuresmi Garut dan punya istri orang Garut. Ada kontroversi yang sebenarnya pembunuhan karakter oleh Belanda terhadap Pangeran Madrais,” kata Sekretaris TP2GD Dedi Efendi.

Pangeran Madrais (1870-1935) merupakan tokoh sarat kontroversi pencetus agama Jawa Sunda atau Sunda Wiwitan. Putra Pangeran Sutajaya Alibassa Kusumah Wijayaningat alias Pangeran Kesultanan Gebang Cirebon itu aslinya bernama Sadewa yang kemudian diganti dengan nama Muhamad Rais. Karena dinilai terlalu panjang, belakangan orang memanggilnya dengan sebutan Madrais.

Dia disebut-sebut terlibat pemberontakan terhadap Belanda di Tambun Bekasi pada 1869. Dia bermukim dan memusatkan penyebaran ajarannya di Cigugur Kuningan.

Pada 6 Oktober 1926, terbit rekomendasi pemerintah Hindia Belanda berkaitan diterimanya ajaran Madrais sebagai agama baru bernama Agama Djawa Soenda Pasundan. Belakangan, ajaran itu dikenal dengan nama Agama Djawa Soenda. Ajaran Madrais merupakan perpaduan antara ajaran peribadatan, kebatinan, filosofis, dan budaya masayarakat Jawa dan Sunda tempo dulu. (Zainulmukhtar) 

Loading...