Seni Ukir Wayang Golek, Produk Kebudayaan Unggulan di Purwakarta

Seni Ukir Wayang Golek, Produk Kebudayaan Unggulan di Purwakarta
Bupati Purwakarta Anne Ratna Mustika (kanan) saat berkunjung ke perajin seni ukir wayang golek. (Asep Mulyana)

INILAH, Purwakarta – Di Kabupaten Purwakarta, ternyata banyak terdapat seniman atau perajin handal yang masih konsisten menggaungkan kemasyuran produk kebudayaan asli dari Jawa Barat. Sebut saja di antaranya, kerajinan wayang golek.

Mungkin tak banyak yang tahu, jika salah satu seni tradisi Tatar Sunda ini pernah mengharumkan nama beberapa desa di Kabupaten Purwakarta. Misalnya, Desa Sukamaju, Kecamatan Sukatani. Terkenalnya desa ini akan seni tradisi tersebut, bukan karena banyaknya dalang di wilayah itu. Melainkan, banyaknya para perajin seni ukir wayang golek.

Desa tersebut dulunya merupakan sentra kerajinan ukir wayang golek dan kerajinan ukir lainnya. Makanya, saat itu hampir semua penduduk di kampung tersebut membuat wayang dan kerajinan lainnya.

Era 70 sampai 80-an, mungkin menjadi masa keemasan untuk desa ini. Mengingat, kala itu pesanan wayang ukir (untuk pagelaran dalang) meningkat signifikan. Karena kabarnya, dari mulai dalang kahot, seperti mendiang Asep Sunandar Sunarya sampai dalang pinggiran desa memesan wayangnya ke desa itu.

Namun sayang, seiring berjalannya waktu para perajin di desa itu banyak yang gulung tikar, karena terimbas krisis ekonomi saat itu. Bahkan banyak di antara para perajin lebih memilih meninggalkan desa untuk mengembangkan bakatnya di daerah lain.

Abah Jani (58), adalah salah satu dari puluhan perajin wayang golek di desa itu yang masih konsisten dengan karyanya. Saat ini, dirinya ‎diberdayakan oleh pemkab untuk membuat seni ukir wayang golek di Galeri Wayang sekitar perkantoran Setda Purwakarta. 

Saat berbincang dengan INILAH, pria paruh baya inipun lantas menceritakan perjalanan karirnya membuat seni ukir wayang golek. Kisahnya berawal, sejak 1980 silam. Saat itu, dirinya berkeinginan dibuatkan wayang golek dengan tokoh Astrajingga (si Cepot) oleh kakeknya yang juga merupakan ahli pembuat wayang golek. Namun, keinginannya itu ditolak oleh kakeknya. Saat itu, kakeknya meminta dia untuk membuatnya sendiri.

Saat itu, Jani kecil pun membuat sendiri tokoh wayang yang diidolakannya itu. Dengan berbekal sedikit pengetahuan dari sang kakek, Abah Jani pun dengan telaten menyerut bongkahan kayu menjadi sebuah wajah tokoh pewayangan tersebut.

Memang, Abah Jani tak lantas begitu saja mahir dalam membuat wayang golek. Merasa pengetahuannya tentang pembuatan wayang ini masih kurang kake renta ini memilih pergi ke Bogor untuk belajar tentang wayang kepada para dalang yang ada di wilayah itu.

"Di Bogor, abah lumayan cukup lama. Hingga tahun 1980, Abah bertemu dengan Dalang Ahim, seorang dalang sepuh di daerah itu. Kepadanya beliau, abah belajar banyak tentang pewayangan," ujar Abah Jani.

Setelah dirasa cukup pengetahuan tentang seni ukir wayang, akhirnya Abah Jani dipercaya membuat tokoh-tokoh wayang untuk digunakan dalam pertunjukan Dalang Ahim. Bahkan, dirinya pun membuatkan wayang untuk pertunjukan dalang kahot Asep Sunandar Sunarya.

Kepiawaiannya membuat seni ukir wayang golek ini, ternyata terdengar hingga peloksok daerah. Dedikasi Abah Jani, akhirnya mengantarkan dia ke Taman Nusa Gianyar Bali. Di sana, tepatnya pada 2014 lalu, dia diminta untuk membuat wayang golek untuk dipamerkan. Hasil karyanya itu, tak hanya untuk dipamerkan di etalase-etalase Taman, tapi juga untuk keperluan saat ada event atau festival di Taman tersebut.

“Kemudian, di 2016 saya diminta pulang untuk menempati galeri Wayang di Pemda Purwakarta,” kata dia.

Bupati Purwakarta, Anne Ratna Mustika, baru-baru ini juga sempat berbincang dengan sang maestro seni ukir wayang golek tersebut. Anne terkesan, apalagi karya ukir Abah Jani turut mengharumkan nama kabupaten yang dipimpinnya.

“Wayang Golek, selama ini jadi produk unggulan di wilayah kami. Kami akan terus lestarikan,” ujar Anne.

Anne menjelaskan, pihaknya tentu akan turut membantu pengembangan produk kebuyadaan tersebut. Supaya, kerajinan khas ini bisa dikenal secara luas. Salah satunya, dengan menyiapkan segala fasilitas untuk pemasarannya. (Asep Mulyana)

Loading...