(Sikap Kami) Urang Sunda Incar Istana

(Sikap Kami) Urang Sunda Incar Istana

MENCUAT kembali keinginan masyarakat Jawa Barat agar urang Sunda memimpin Bangsa Indonesia. Peluang itu ada, tapi selalu sulit diwujudkan. Apa sesungguhnya yang terjadi?

Ada yang bilang, urang Sunda itu tidak suka mencitrakan diri. Tidak mau membangga=banggakan pencapaiannya. Banyak yang berhasil di Jawa Barat, tapi ketika tampil di panggung nasional tak bisa berbuat banyak karena tak bisa “membusungkan dada”.

Padahal, dalam politik kekinian, pencitraan itu demikian pentingnya. Masyarakat pemilih bisa tertipu hanya karena pencitraan yang terus-menerus. Pencitraan itu bahkan dibangun dengan memanfaatkan seluruh sumber daya sehingga menjadi sebuah kekuatan yang dahsyat.

Orang Sunda itu juga cenderung memiliki kejujuran. Padahal, dalam politik kekinian, sedikit bohong-bohongan menjadi semacam bumbu penyedap rasa. Menghadirkan mimpi di awang-awang cukup ampuh menarik minat pemilih, urang Sunda jarang yang bisa seperti itu.

Padahal, secara hitung-hitungan pemilih, suara urang Sunda itu cukup signifikan. Dalam tataran kewilyahan provinsi, Jawa Barat bahkan menjadi daerah dengan pemilih terbesar. Tahun lalu saja, 26,8 juta pemilih adalah warga Jawa Barat. 

Itu sebabnya Jawa Barat jadi rebutan kontestan pemilihan presiden. Selain karena suaranya paling besar, juga tersebab tak ada figur-figur asal Jawa Barat terlibat kontestasi, setidaknya dalam tiga pilpres terakhir.

Sebenarnya, dalam kontestasi kepemimpinan nasional, idealnya tak perlu menyoal asal-usul daerah. Yang penting, figur yang dicalonkan adalah mumpuni, jujur, dan berintegritas kuat. Tapi, naif juga menafikan politik kedaerahan di tengah situasi politik yang tak ideal ini.

Maka, dalam konteks seperti itu, kita mendukung segenap upaya pihak manapun untuk mendorong urang Sunda maju pada kontestasi kepemimpinan nasional. Salah satu caranya, karena penentuan kandidat calon ada di tangan partai politik, maka yang perlu “dipegang” dulu adalah partai politik.

Dukungan kita bukan sebagai bentuk politik kewilayahan yang sempit. Kita ingin di tengah bangsa ini, potensi-potensi figur asal Tanah Sunda, juga diberi kesempatan untuk membuktikan kemampuannya sebagai pemimpin bangsa. (*)