BMKG Pastikan Erupsi Anak Krakatau Penyebab Tsunami Selat Sunda

BMKG Pastikan Erupsi Anak Krakatau Penyebab Tsunami Selat Sunda
Erupsi Anak Krakatau jadi penyebab tsunami di Selat Sunda

INILAH, Jakarta - Kepala BMKG Dwikorita Karnawati memastikan material longsoran erupsi Gunung Anak Krakatau adalah penyebab gelombang Tsunami di Selat Sunda.

Hal itulah yang kemudian membuat aktivitas tsunami tidak terpantau oleh BMKG. "Benar apa yang kami sampaikan sebelumnya, tsunami ini berkaitan dengan erupsi vulkanik. Jadi tidak dapat terpantau oleh sensor gempa tektonik yang ada di BMKG," katanya saat jumpa pers di kantornya, Senin (24/12/2018).

Selama ini, BMKG menyampaikan adanya potensi gelombang tsunami setelah terjadi gempa bumi tektonik.

"Lebih dari 90 persen kejadian tsunami di Indonesia itu akibat gempa tektonik. Kami bisa menginformasikan maksimal 5 menit setelah gempa apakah berpotensi tsunami atau tidak," ungkapnya.

Sementara itu, Badan SAR Nasional (Basarnas) mencatat 334 orang meninggal dunia akibat gelombang tsunami yang menerjang perairan Selat Sunda, Provinsi Banten, Sabtu (22/12) malam.

"Korban yang meninggal itu jumlah sementara dan kemungkinan bertambah," kata Fahrizal, petugas pendataan dan komunikasi Basarnas di Posko Labuan, Pandeglang, Senin (24/12).

Ia mengatakan temuan tentang jumlah korban meninggal dunia meningkat, sebelumnya tercatat 252 orang meninggal dunia, 757 luka-luka, dan 30 hilang.

Namun, laporan dari lapangan yang diterima pada pukul 11.00 WIB menunjukkan angka itu bertambah menjadi 334 orang meninggal dunia, 764 luka-luka, dan 61 hilang.

"Kami yakin jumlah korban tsunami terus bertambah, karena masih banyak yang belum ditemukan dan hilang," ujarnya.

Loading...