Jadi Tersangka Meikarta, Toto Curhat di Youtube

Jadi Tersangka Meikarta, Toto Curhat di Youtube
Mantan Presiden Direktur Lippo Cikarang Bartholomeus Toto mengenakan rompi tahanan KPK usai menjalani pemeriksaan di Gedung KPK, Jakarta, Rabu (20/11/2019). (Antara Foto)

INILAH, Bandung- Usai resmi mengajukan praperadilan ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan,  tersangka kasus suap Meikarta jilid II, Bartholomeus Toto secara mengejutkan muncul dalam sebuah vlog di akun Youtube atas nama Rully Sutisna.

Seolah ingin memberitahu publik secara langsung, Bartholomeus Toto menceritakan bagaimana dirinya bisa sampai dijadikan tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) lewat tiga video yang diunggah pada kamis (28/11/2019).

Ketiga video tersebut diberi judul berbeda-beda sesuai isi daripada curhatan Bartholomeus Toto. Diantaranya, video pertama berjudul Toto dan Meikarta, video kedua babak baru kasus Meikarta episode rekayasa dan ketiga, bedah kasus kenapa saya ditersangkakan.

Dalam video pertama, Toto menjelaskan terlebih dahulu mengapa dirinya kerap kali dikaitkan dengan Meikarta. Hal itu dikarenakan, ia merupakan mantan Presiden Direktur PT Lippo Cikarang.

"Saya mantan Presiden Direktur PT Lippo Cikarang. Jika dicari di Google nama saya, maka akan terkait Meikarta bahwa saya terlibat memberi suap pada Bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasi‎n terkait izin IPPT," ucap Toto dalam video pertamanya.

Kemudian, Toto juga menjelaskan mengapa dirinya membuat video tersebut. Satu di antaranya alasan nama baik keluarganya dan resiko bekerja dalam dunia investasi di Indonesia.

"Alasan pertama agar anak-anak dan keluarga besar kerabat serta teman-teman saya dapat tahu fakta yang terjadi dan prinsip yang saya yakini. ‎Agar teman-teman profesional eksekutif bisa tahu resiko yang terjadi saat bekerja dan berinvestasi di Indonesia. Last not least, nama baik almarhum orang tua saya," ujar Toto.

Dalam video tersebut, Toto juga meyakini bahwasannya, ka tidak pernah memberikan uang 10,5 miliar pada Neneng Hasanah Yasin via Kepala Divisi Land Ackuisition Permit PT Lippo Cikarang, Edy Dwi Soesianto.

Di persidangan pada tanggal 14 Januari 2019, Edy menyebut ia menerima uang dari Melda Peni Lestari selaku sekretaris direksi PT Lippo Cikarang uang Rp 10,5 miliar.

Sepengetahuan Toto uang itu setelah sebelumnya, diminta ajudan Neneng yang meminta imbalan atas pengurusan IPPT. Atas uang itu pun Neneng sudah divonis bersalah dalam kasus suap Meikarta.

"Sebagai perusahaan publik yang keuangannya diaudit dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), mana mungkin saya keluarkan uang tidak resmi sebesar itu. Saya juga tidak punya otoritas untuk menganggarkan uang di luar yang sudah dianggarkan," ungkap Toto.

Ia mengakui bukan pria dengan pendidikan ilmu hukum. Melainkan perbankan. Ia menganalisa soal keberadaan uang Rp 10,5 M yang disebutkan diberikan Melda Peni Lestari, sekretaris Direksi PT Lippo Cikarang. Uang diberikan di helipad ke Edy atas sepengetahuan Toto.

"Saya akan pakai analisa follow the money.  Uang Rp 10,5 miliar itu besar, tidak ada asal usul soal uang. Padahal kalau dicari tahu, untuk ambil di bank Rp 500 juta saja harus ada KTP. Belum tentu bank bisa keluarkan uang Rp 10,5 miliar. Kalau dicicil,  ambil senilai itu perlu 20 kali bolak balik ke bank," ujar Toto

Padahal kata dia, fakta soal uang suap itu sebesar Rp 1,5 m saat KPK operasi tangkap tangan terhadap Taryudi dan Neneng Rahmi.

"Jadi sumber uang Rp 10,5 M itu dari mana," ujarnya.

Lanjut, dalam video tersebut Toto menegaskan, penetapan tersangka kepada dirinya dinilai tidak objektif. Pasalnya, KPK hanya memiliki satu alat bukti yaitu kesaksian Edy Dwi Soesianto.

Dihubungi terpisah, Kuasa Hukum Bartholomeus Bartholomeus Toto, Supriyadi pun membenarkan ketiga video tersebut. Memurutnya, orang dalam ketiga video itu merupakan kliennya.

"Betul di video itu memang pak Toto. Cuma saya tidak tahu itu video rekamannya diambil dimana," ujarnya. (Ahmad Sayuti)

 

 

Loading...