Duh, Tiap Tahun Jumlah ODHA di Purwakarta Meningkat

Duh, Tiap Tahun Jumlah ODHA di Purwakarta Meningkat
net

INILAH, Purwakarta – Jumlah orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di Kabupaten Purwakarta terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat mencatat, sampai saat ini sudah ada lebih 600 ODHA di wilayah ini. Jumlah ODHA ini merupakan akumulasi dari data tahun-tahun sebelumnya.

Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan Kabupaten Purwakarta Meisera Pramayanti mengakui, jika penyebaran virus HIP/AIDS di daerahnya terus meningkat. Dia mencatat, dari awalnya 79 kasus pada 2013 itu menjadi 518 kasus pada 2018.

“Di 2019 ini, jumlahnya kembali meningkat. Jika diakumulasikan, saat ini totalnya lebih dari 600 ODHA,” ujar Meisera kepada wartawan, belum lama ini.

Meisera menjelaskan, ratusan ODHA yang terinfeksi virus mematikan ini merupakan yang tercatat di puskemas dan dinkes. Dengan kata lain, mereka merupakan warga yang rutin memeriksakan dirinya ke petugas. 

Adapun dari jumlah ODHA tersebut, 60% di antaranya merupakan kaum laki-laki. Sisanya, 40% di antaranya merupakan kaum perempuan usia produktif dan ibu rumah tangga.

Menurutnya, mayoritas ibu-ibu yang memeriksakan diri itu yang latar belakangnya punya suami berisiko tinggi terhadap HIV/AIDS. Atau, suaminya sering 'jajan' di luar. 

Pihaknya bersyukur karena para pengidap HIV/AIDS yang tercatat itu sebagian ada yang bersedia bekerjasama dengan dinas kesehatan. Terutama, di bidang penyuluhan HIV/AIDS. Bahkan, mereka menjadi agen untuk mengajak rekan-rekannnya. Minimalnya, bersedia memeriksakan diri.

Untuk itu, pihaknya sangat menghimbau kepada masyarakat. Terutama, yang punya kebiasaan beresiko, seperti sering jajan seks diluar, lebih baik segera memeriksakan diri. Supaya, bisa diketahui sejak dini, apakah warga tersebut terinfeksi HIV/AIDS atau tidak.

Dia menambahkan, saat ini kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri ke dokter terkait HIV ini cenderung meningkat. Salah satu indikatornya, semakin banyak warga yang bersedia melakukan tes antiretroviral (ARV). Selain itu, stigma negatif dari masyarakat juga tidak sedahsyat dulu.

“Para penderita, kebanyakan masih usia produktif. Yakni, di kisaran 18-35 tahun,” pungkasnya. (Asep Mulyana)

Loading...