Tahadduts Binni’mah

Tahadduts Binni’mah
KH Abdullah Gymnastiar

Salah satu tanda seorang ahli syukur adalah tahadduts binni’mah atau menyampaikan, menampakkan atau menceritakan nikmat Allah SWT. Tujuan kita menceritakan nikmat Allah ini untuk mengingatkan diri kita sendiri pada kekuasaan Allah, sehingga kita semakin yakin hanya Allah Yang Maha Memiliki segalanya lagi Maha Mencukupi Rezeki seluruh makhluk-Nya. 

Allah SWT berfirman, “Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan.” (QS. adh-Dhuha [93]: 11)

Tahadduts binni’mah jelas berbeda dengan riya’. Kalau riya’ itu menampakkan, menceritakan keberuntungan yang kita dapatkan dengan tujuan supaya orang lain kagum dan mereka memuji kita. Orang yang syukur itu tidak ada beban di hatinya, ringan-ringan saja. Sedangkan orang yang riya’ itu ada beban di hatinya karena ingin diakui, dikagumi dan dipuji orang lain. 

Orang yang syukur, ketika dia sampaikan tentang nikmat Allah yang ia rasakan, maka semakin dalam keyakinannya kepada Allah, semakin deras rasa empatinya untuk membantu orang lain. Sedangkan orang yang riya’, semakin ia menceritakan keberuntungannya pada orang lain maka semakin ia haus akan pujian, dan semakin berat rasa memilikinya pada dunia ini. 

Orang yang syukur akan tenang hatinya, dan ketenangan ini terpancar melalui ucapan dan perbuatannya. Sehingga orang lain pun dibuat nyaman berada di dekatnya. Sedangkan orang yang riya’ tidak tenang hatinya, dan ketidaktenangan ini terpancar dalam ucapan dan sikapnya. Orang lain pun tidak akan nyaman berada di dekatnya.

Sebagai contoh perbedaan antara tahadduts binni’mah dengan riya’ adalah kasus seperti ini. Ada seseorang yang akan berangkat haji. Kemudian, ia mengundang keluarga dan tetangganya dengan maksud syukuran. Pada acara tersebut ia memberikan sambutan, “Saudara sekalian, atas undangan dan izin Allah, alhamdulillah kami ditakdirkan menjadi salah satu jamaah haji pada tahun ini. Keberangkatan kami ke tanah suci hingga kembalinya kami nanti ke tanah air tiada lain karunia dari Allah dan semua terjadi mutlak dalam kekuasaan-Nya. Kami doakan semoga Allah takdirkan siapa pun di antara kita yang belum berkesempatan berhaji, untuk bisa beribadah haji. Mohon doakan kami agar menjadi haji yang mabrur dan semoga amal ibadah kita semua diridai Allah SWT. Aamiin yaa Rabbal’aalamiin.”

Mari bandingkan dengan yang berikut ini, “Alhamdulillah, bapak ibu sekalian di satu kelurahan ini hanya saya dan suami yang terpilih menjadi peserta ibadah haji. Memang takdir orang berbeda-beda ya. Seperti kami yang sudah berhaji beberapa kali ini, padahal untuk berhaji kan prosesnya bukan gampang, bahkan harus menunggu antrean bertahun-tahun. Tapi karena usaha kami yang keras akhirnya kami bisa berhaji lagi. Nanti kami doakan dari sana supaya bapak ibu sekalian bisa berhaji.”

Dari dua contoh kalimat di atas, kita bisa membedakan mana yang syukur dan mana yang riya’. Orang yang tahadduts binni’mah karena syukur itu tidak akan terbebani hatinya, hatinya tetap tenang dan ringan. Sedangkan orang yang riya’ terbebani hatinya karena ia mencari pujian dan penghargaan makhluk. Akibat dari ketidaknyamanan hatinya itu maka sikapnya dan ucapannya pun tidak nyaman pula, baik itu bagi dirinya sendiri maupun bagi yang mendengarnya.

Utarakan nikmat Allah yang kita rasakan dengan niat lillaahita’ala. Apa yang kita miliki adalah dari Allah, dan untuk digunakan dijalan yang Allah ridai. Keberuntungan, keberhasilan, kesuksesan yang kita raih adalah karunia dari Allah sebagai sarana bagi kita untuk lebih dekat kepada-Nya. 

Saudaraku, menjadi pribadi yang bersyukur adalah dambaan kita semua. Karena hanya pribadi yang bersyukurlah yang bisa menjalani hidup ini dengan ringan, penuh ketenangan, bahagia dan senantiasa mendapat pertolongan Allah SWT. Semoga kita termasuk hamba-hamba Allah yang pandai bersyukur. Aamiin yaa Rabbal’aalamiin. (KH Abdullah Gymnastiar)