Inilah Para Juara Pasanggiri Pop Sunda Damas Cakaba 2019

Inilah Para Juara Pasanggiri Pop Sunda Damas Cakaba 2019
Pasanggiri Pop Sunda 2019 Daya Mahasiswa Cabang Kabupaten Bandung (Damas Cakaba) sukses digelar di Mountain Breeze Clubhouse di Jalan Raya Banjaran beberapa waktu lalu. (rd dani r nugraha)

INILAH, Bandung - Pasanggiri Pop Sunda 2019 Daya Mahasiswa Cabang Kabupaten Bandung (Damas Cakaba) sukses digelar di Mountain Breeze Clubhouse di Jalan Raya Banjaran beberapa waktu lalu. Sebelumnya di tempat yang sama, audisi dilaksanakan Selasa (26/11) dan Rabu (27/11) karena antusiasnya peserta yang mendaftar.

Di babak final dilombakan kategori usia 15- 18 tahun pria/wanita dan 10-14 tahun pria/wanita, dengan menghadirkan Girang Pangajen atau tim juri Dian Hendrayana dan Rosyanti.

Berikut adalah para juara pada Pasanggiri Damas Cabang Kabupaten Bandung, kategori usia 15-18 putri: 1) Shofi Yanti, 2) Lastri, 3) Salma. Kemudian juara laki laki: 1) Mudilla Hadyaar, 2) Adam Jaelani, 3)  Dadang Husaeni. Selanjutnya, adalah kategori usia 10-14 putri: 1)  Kania Nayla Anggraeni, 2) Nayla Putri Aurelia, 3) Putri Rahayu. Sedangkan juara pria: 1) M Ariel Sidik, 2) Wawan Maulana, 3) Salman Riyadi

Para juara ini mendapatkan piala tetap dan piala bergilir dari Bupati Bandung dan Ketua DPRD Kabupaten Bandung, serta sejumlah uang pembinaan.

Ketua Dewan Juri, Dian Hendrayana mengatakan, dari hasil final pasanggiri ini dapat dilihat peserta yang mendaftar terbanyak dari kalangan perempuan. Dominasi ini juga menurut Dian tak lepas dari anggapan dalam urusan nyanyi, suara perempuan dianggap lebih eksotis.

“Paling banyak dari kalangan perempuan pesertanya. Ini menunjukkan memang urusan kawih atau lagu itu kaum perempuan lebih dominan. Sehingga dalam final ini pun baik dari segi kuantitas maupun kualitas, persaingan ketat terjadi di kategori perempuan, dan membuat kami lumayan kesulitan untuk menentukan juara,” kata Dian.

Dian yang juga  alumni Damas ini menilai dari para juara pasanggiri ini sudah layak untuk menjadi bintang dan masuk rekaman atau industri musik. “Waktu mereka masih panjang usia mereka paling tinggi 18 tahun, kesempatan masih begitu terbuka dan potensi mereka untuk menjadi penyanyi sangat terbuka,” ujarnya.

Dian mengapresiasi terselenggaranya Pasanggiri Pop Sunda ini karena merupakan salah satu kegiatan strategis dalam pemeliharaan potensi budaya dan pemajuan kebudayaan. “Hanya saja Pasanggiri Pop Sunda ini harus diimbangi dengan pembinaan, baik itu dari kalangan sekolah atau pemerintah daerah melalui dinas terkaitnya, termasuk organisasi seperti Damas ini,” ujarnya.

Dian berharap dalam Pasanggiri Pop Sunda ke depan peserta harus membawakan lagu wajib dan lagu pilihan yang lebih berkualitas. “Lagu berkualitas itu dilihat dari indikator kontur melodinya secara musikal, juga secara verbal, termasuk lirik-lirik lagu yang mengandung nilai sastra tinggi,” katanya.

Anggota tim juri Rosyanti menambahkan, dirinya sebagai juri merasa bangga terhadap semua peserta Pasanggiri Pop Sunda yang masih besar minatnya terhadap seni pop Sunda. Meski begitu, ia memberi masukan kepada peserta dan pendampingnya, dalam tembang pop Sunda tidak boleh terlepas estetika dan ornamentasi atau vibrasi kawih sunda, sehingga harus berbeda dibanding pop Indonesia maupun pop barat.

“Juga dalam membawakan lagu, bukan berarti para peserta harus sama persis dengan pembawa lagu yang aslinya. Artinya, peserta pun harus bisa berimprovisasi, tapi tidak menghilangkan estetika dari lagu yang dibawakannya, atau tidak terlalu banyak mengubah gaya lagu aslinya. Ini tentu merupakan salah satu poin penilaian tim juri,” katanya.

Babak final Pasanggiri Pop Sunda 2019 ini makin meriah dengan hadirnya bintang tamu penyanyi Pop Sunda milenial Maliq Ibrahim yang menghibur para hadirin. Pasanggiri Pop Sunda 2019 merupakan hasil kerja sama Daya Mahasiswa Sunda Cabang Kabupaten Bandung (Damas Cakaba) dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Bandung. (rd dani r nugraha)