Mencari Kiai Lain Demi Mencari Pembenaran

Mencari Kiai Lain Demi Mencari Pembenaran
ilustrasi

KEBENARAN dan pembenaran adalah sama-sama berasal dari kata dasar yang sama, yaitu kata benar. Yang pertama adalah yang dicari-cari oleh orang yang berjalan di atas jalan yang benar, sementara yang kedua adalah yang dicari-cari oleh orang yang merasa salah namun ingin dianggap benar. Dua-duanya tidaklah sepi dari peminat. Pembedanya adalah niat.

Sebagaimana kita ketahui, perbedaan pendapat dalam segala hal adalah sesuatu lazim. Mencari fatwa hukum yang berbeda-beda atas satu peristiwa hukum yang sama adalah sesuatu yang biasa. Karenanya jika kita kita memusuhi orang yang mengambil pendapat berbeda dengan kita maka kita layak disebut fanatik buta dan bahkan keras kepala.

Meski demikian, mencari-cari pendapat yang hanya "menguntungkan" kita walaupun kita dalam posisi salah adalah sikap oportunis nan culas. Lalu bagaimanakah seharusnya? Terimalah kebenaran sebagai kebenaran walau pahit terasa, di ujungnya nanti pasti akan rasakan manis. Janganlah demi manis sekejap, lalu mencari kiai dan ustadz lain yang bisa dijadikan sebagai pembenar. Namun, begitulah perilaku sebagian orang.

Mari kita ambil contoh yang sangat sederhana. Seorang ustadz mengikuti pendapat bahwa rokok itu adalah makruh, tidak haram karena memang tidak ada dalil yang eksplisit menyatakan keharamannya. Penjelasan hukumnya bisa panjang, namun kita cukupkan dulu sampai di situ. Ustadz itu bukan perokok, dan tak suka jika ada orang merokok di area publik yang mengganggu hak orang lain untuk bernafas lega. Di suatu perjalanan ibadah haji/umrah, ustadz itu ditanya hukum merokok. Ustadz menegaskan bahwa selama haji/umrah maka tidak boleh merokok. Puaskah sang jamaah?

Jamaah perokok berkeliling mencari kiai dan ustadz yang membolehkan merokok. Merekapun akhirnya merokok sembunyi-sembunyi. Ketika ketahuan sedang merokok, ustadz itu menegur dan bertanya mengapa merokok. Mereka menjawab dengan agak malu semi takut: "Termasuk larangan haji adalah berdebat. Jadi jangan debat bab rokok saat ini." Ustadz itu geleng kepala dan pergi.

Namun ustadz itu lalu tersenyum ringan dan bergumam: "Untung saya hukum tidak boleh, sehingga kalaupun mereka merokok, mereka lakukan sembunyi-sembunyi. Andai dari awal dinyatakan boleh, maka pastilah merokok dengan seenaknya sendiri." Memberikan fatwa itu lebih baik memilih yang berhati-hati dan mengandung kemaslahatan lebih besar.

Bagi semua perokok, sebagaimana Anda ingin nyaman dengan merokok, jagalah hak dan kenyamanan orang lain yang tidak suka asap rokok. Merokoklah di tempat yang tepat, tidak mengganggu siapapun. Itu lebih bijak dan bermartabat. Bukankah membuat orang lain nyaman dan bahagia adalah berpahala?

Saya senang kini sudah banyak yang mengatur di mana boleh merokok dan di mana tak boleh merokok. Tak senangnya juga ada, yakni ketika tahu masih banyak yang tak paham tulisan "dilarang merokok," "no smoking," atau "mamnu' tadkhin." Sebuah hotel berbintang di Madinah memasang peraturan tidak boleh merokok itu. Di suatu lantai, kompak ada beberapa orang sedang merokok. Ketika ditegur bahwa tidak boleh, salah seorang di antara mereka menjawab dengan marah: "Panggil petugas hotel, katakan saya merokok." Saya geram dan geleng kepala melihat tingkah orang itu.

Beda kasus dengan tetangga Mat Kelor yang diharam-haramkan dengan kasar saat merokok sendirian di tangga darurat hotel. Dia menjawab: "Anda benar. Haram ini rokok. Makanya saya bakar satu per satu sejak tadi. Saya mau membakar pabriknya sekalian ya saya tidak mampu, takut dihukum." Yang menegur diam lalu tersenyum kecut. Merokoklah di tempatnya ya, salam. AIM. [KH Ahmad Imam Mawardi]