Banjir Bandang Kertasari karena Ulah Petani, Bupati Dadang Berang

Banjir Bandang Kertasari karena Ulah Petani, Bupati Dadang Berang
Banjir bandang di Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung, Jumat (6/12) sore WIB. (dani r nugraha)

INILAH,Bandung- Banjir bandang di Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung, Jumat (6/12) sore WIB diduga akibat ulah para petani. Bupati Dadang Naser pun berang.

“Kasus longsor di Kertasari bukan kali pertama, namun sudah beberapa kali sehingga merepotkan kami. Pemerintah sudah sering direpotkan,” kata Bupati Bandung Dadang M Naser, Minggu (8/12/2019).

Menurut Dadang, telah terjadi kerusakan di darat dan lautan akibat ulah tangan manusia. Jadi masyarakat harus introspeksi dalam kejadian ini. “Terutama para petani yang menggarap lahan di Kecamatan Kertasari,” ujarnya.

Dadang meminta, semua pihak harus sama-sama memahami tentang penyebab terjadi bencana, terutama dengan kaitan pola tanam.

“Intinya pola tanam tanpa terasering atau sengkedan, tanah yang di pinggir pematang dan di pinggir tebing masih ditanami sayur mayur akan terjadi bencana,” katanya.

Dadang menilai, keserakahan petani yang menggarap lahan di Kecamatan Kertasari dampak buruk bagi alam, jadi jangan hanya mementingkan keuntungan sendiri

“Kita jangan serakah dan tamak, sisakan satu setengah meter untuk terasering. Ini untuk kepentingan sabuk gunung yang ditanami tanaman keras,” katanya.

Dadang menyontohkan, di Bali sangat bagus kondisi lingkungannya, karena mereka benar-benar peduli.

“Islam mengajarkan tentang lingkungan. Ini tolong para haji, para bandar, para petani mikir sedikit, supaya tidak terjadi seperti ini, repot kita semua,” ujarnya.

Dadang mengimbau, mulai sekarang cabut daun bawang yang ada di pematang dan tebing. Kemudian setengah meter korbankan untuk keselamatan masa depan dengan membuat sengkedan dan menanam tanaman keras.

“Ini bisa terjadi lagi tiap tahun. Saya datang ke sini bukan kali ini, saya datang ke sini berkali-kali. Pasir Munding sudah aman karena sudah dibeli oleh Pemkab, yah walaupun jumlahnya belum luas baru sekitar tujuh hektar. Di sana tidak ada longsor lagi karena sudah dibeli. Ada juga di Cihawuk, ada anggaran dari PU tapi hanya 3,5 hektar,” katanya.

Menurut Dadang, dulu ada perkebunan kina di Kertasari, namun kini tidak ada lagi. Belanda sangat bijak dalam memelihara lingkungan. Di dataran tinggi di tanami kina, di sabuk gunung ditanami teh dan barulah sayuran.

“Kalau sekarang sayur mayur di puncak gunung. Tanaman penting, ketahanan cadangan makanan penting, tapi ya cara tanamnya harus aman,” ujarnya.

Dadang melanjutkan, dalam hal ini, hendaknya jangan saling menyalahkan, sekarang harus saling perbaiki.Ia bersyukur, tidak ada korban saat banjir bandang.

“Kalau sudah bencana seperti ini masa harus kami biarkan, jalan tertutup lumpur dan menutup beberapa hari, tapi kita kan tidak demikian. Kalau ada korban kita yang disalahin. Jalan sudah kami beton ke sini tinggal gunung yang dijaga bersama sama," katanya. (rd dani r nugraha).