Berwisata ke Titik Lelah Tol Semarang-Batang

Berwisata ke Titik Lelah Tol Semarang-Batang
Ilustrasi/Antara Foto

INILAH, Jakarta- Jemari Thomas Ramadhan bergerak lincah menggapai satu per satu dawai bass mengimbangi gebukan drum Gusti Hendy yang menghentak keras.

Dewa Budjana berdiri tenang di sisi kanan panggung membungkus harmoni lagu lawas "Perdamaian" lewat petikan gitar 'Parker Fly Saraswati' miliknya.

Dari jarak pandang sekitar 50-an meter di seberang panggung, Direktur Utama PT Jasa Marga Persero (Tbk) Desi Arryani bersama sejumlah pegawainya sesekali bergoyang lincah terbawa alunan musik rock Band Gigi.

Sound system berkapasitas 20.000 watt pada panggung 8x6 meter persegi seketika senyap pada lagu keempat yang menandai peresmian operasional Rest Area KM360 B Tol Semarang-Batang, Sabtu (7/12/2019).

"Kalian paham gak, apa itu Roadster Green? Ini adalah konsep baru dari tempat istirahat (rest area) yang punya fasilitas terlengkap dan ramah lingkungan," kata sang vokalis, Armand Maulana di hadapan 2.000-an penonton sore itu.

Gelaran konser musik yang menghadirkan Band Gigi dan penyanyi dangdut Via Vallen itu mengangkat tema "Roadster Green Festival".

Rest Area KM360 B berdiri pada lahan seluas 7,6 Hektare dilengkapi 51 fasilitas layanan bagi pengguna jalan yang Sinergi BUMN antara PT Jasamarga Related Business (JMRB), kelompok usaha PT Jasa Marga (Persero) Tbk, bersama PT PP Properti, PT PP (Persero) dan PT Perkebunan Nusantara (Persero) sejak 2018.

Bahkan, Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) memberi gelar sebagai rest area terlengkap di Indonesia saat ini berdasarkan surat keputusan Nomor 9723/R.MURI/XI/2019 atas rekor sebagai Rest Area dengan Fasilitas Terbanyak.

Lantas, apa istimewanya Rest Area seharga Rp70 miliar ini bila dibandingkan dengan fasilitas peristirahatan serupa yang saat ini ada?

Direktur Utama PT Jasa Marga Rest Area Batang, Irwan Artigyo Sumandio, menyebut setidaknya ada beberapa pembeda seperti taman bermain anak, kolam ikan hias yang luas, fasilitas ruang istirahat khusus bagi difabel dan lansia, hingga kebun binatang mini.

"Kami punya 51 fasilitas, misalnya ada tempat lansia bisa istirahat, difabel juga. Kami juga punya pengolahan limbah plastik, taman yang asri," katanya mengawali perbincangan.

Mengenai destinasi wisata, lokasinya berada di belakang rest area melalui pemanfaatan hutan milik PT Perkebunan Nusantara.

"Kita sedang bekerja sama dengan Taman Safari Indonesia untuk membuat kebun binatang di sini," katanya.

Kebun binatang berskala mini akan menempati lahan seluas 3.000 meter per segi yang memungkinkan pengunjungnya untuk budidaya lebah hingga interaksi dengan berbagai satwa.

"Saat ini baru dirintis hewan-hewan jinak seperti burung dan beberapa reptil. Rencananya Januari 2020 akan kita kembangkan secara optimal," katanya.

Selain kebun binatang, rest area berjarak 1 jam perjalanan dari Kota Semarang ke arah Batang juga dilengkapi fasilitas olah raga seperti lapangan futsal dan jogging track yang berada di dekat tempat pengolahan sampah plastik.

Libatkan UKM

Seakan kurang puas hanya bertukar obrolan, pria paruh baya bertubuh tambun itu pun mengajak penulis menyambangi kios SS 360 yang menyajikan kuliner andalan berupa Soto Lamongan dan ayam goreng kampung.

Adalah Susianti (51) pemilik sekaligus peracik bumbu dari Soto Lamongan. Masakannya menyajikan isian lengkap toge, soun, kol, dan suwiran ayam kampung. Taburan bubuk koya yang disebar di atas aneka topping soto membuat kuah kaldu semakin kaya rasa.

Suguhan ayam gorengnya pun tak kalah istimewa. Menggunakan ayam kampung, teknik memasak dengan cara diungkep lalu digoreng menggunakan minyak panas, membuat bumbu-bumbu meresap hingga ke dalam daging ayam. Makin nikmat menyantap ayam goreng ini dengan cocolan sambal.

"Sehari itu kadang 50 porsi aja kurang. Kalau lagi liburan bisa naik sampai empat kali lipatnya," ujar Susianti.

SS 360 adalah satu dari 36 Usaha Kecil Menengah (UKM) yang difasilitasi berdagang di sisi barat rest area dengan total kapasitas lahan mencapai 1.300 meter persegi.

Mereka ada yang berdagang oleh-oleh, kuliner, hingga pakaian. Selain itu, terdapat pula zona kuliner premium yang ditempati tujuh pengusaha di luar Kabupaten Batang.

"Saya berani jamin, kalau anda datang ke cafe and garden Tinari, Anda tidak sadar kalau sebenarnya anda sedang ada di rest area jalan tol," ujarnya. ​​​​​

Tinari adalah Restoran dengan konsep taman dan kebun pertama yang ada di Rest Area sepanjang Trans Jawa. Diapit Pantai Utara dan kawasan perbukitan, membuat suasana taman terasa asri dan bersih.

Berjarak selemparan batu dari Tinari, sejumlah anak-anak riang bermain perosotan dan papan 'enjot-enjotan' sambil ditemani orang tua mereka yang asik menyantap makanan beralaskan tikar.

Irwan mengatakan seluruh pengusaha binaan PT Jasamarga Related Business (JMRB) itu direkrut selama sebulan. Tidak kurang dari 100 pendaftar berebut lapak di sana.

Tingginya peminat usaha di rest area dipengaruhi jumlah lintasan kendaraan di Tol Semarang-Batang yang tercatat mencapai hingga 20.000 unit kendaraan per hari.

"Rest area kita ini berada di lintasan 'titik lelah' pengendara di perbatasan Provinsi Jawa Barat dan Jawa Tengah. Pengendara baru akan ketemu rest area berikutnya 100 kilometer," kata Irwan seraya berpamitan kepada wartawan untuk menemani Dirut Jasa Marga.

Titik lelah

Usai Shalat Maghrib, Agus Setiawan masih mengikat erat tali sepatunya saat beberapa wartawan menghampiri di depan Masjid Assalam Rest Area 360. Pria yang menjabat Sekretaris Perusahaan PT Jasa Marga itu berbincang tentang evolusi rest area sebagai tempat singgah pengendara di 'titik lelah' perlintasan tol.

"Angka kecelakaan di tol dengan jarak panjang, rata-rata mencapai 1.000 kejadian per tahun, bisa dikatakan, sehari bisa sampai dua atau tiga kali kejadian," katanya.

Tol Semarang-Batang yang membentang 75 kilometer menghubungkan Kota Semarang dengan Kabupaten Batang, Jawa Tengah menjadi salah satu lintasan panjang yang menjadi bagian dari Tol Trans Jawa.

Agus menyebut Faktor kelelahan pengendara kerap dirasakan supir saat melaju dari Merak, Banten, hingga Banyuwangi, Jawa Timur.

Hasil kajian pihaknya berdasarkan 'black spot' atau titik rawan kecelakaan, idealnya setiap kurang dari 180 kilometer wajib dibuat rest area.

"Setiap dua jam perjalanan atau kurang dari 180 kilometer, seorang pengendara harus beristirahat. Itulah kenapa kita sediakan rest area," katanya.

Namun dalam aplikasinya, kata dia, tidak sedikit pengendara yang enggan memanfaatkan rest area sebab ingin cepat sampai tujuan.

Pada Tol Trans Jawa terdapat 21 rest area, namun belum seluruhnya memiliki kelengkapan fasilitas layaknya di KM360 B Tol Semarang- Batang.

"Dulu ada yang bilang rest area kurang fasilitas, sekarang kita lengkapi fasilitasnya. Ada pula yang bilang rest area jaraknya terlalu jauh, sekarang kita tambah lagi agar saling berdekatan jaraknya," katanya.

Lintasan tol yang kini semakin panjang di Indonesia, tidak hanya menjadi 'angin segar' bagi perekonomian nasional, tapi sekaligus menjadi ancaman serius bagi penggunanya bila tidak berhati-hati serta menjaga kebugaran stamina saat berkendara.

Kehadiran rest area KM360 B Tol Semarang-Batang agaknya menjawab kebutuhan masyarakat terhadap fasilitas yang lengkap serta nyaman untuk disinggahi. (antara)