Ekonomi 2019 Nyungsep, Jangan Remehkan Ramalan RR

Ekonomi 2019 Nyungsep, Jangan Remehkan Ramalan RR
Ekonom senior Rizal Ramli. (Inilahcom)

INILAH, Jakarta - Menjelang berakhirnya Tahun 2019, perkembangan ekonomi nasional, belum cukup menggembirakan. Paling banter pertumbuhan ekonomi nasional hanya 5%, kalau bagus lebihnya sedikit.

Sembilan bulan lalu, ekonom senior DR Rizal Ramli sempat melontarkan prediksi ekonominya. Dia bilang, pertumbuhan ekonomi Indonesia bakal nyungsep di akhir 2019.

Tepatnya pada 31 Maret 2019, saat menghadiri acara deklarasi alumni Perguruan Tinggi se-Sumsel pendukung 02 di Palembang, Sumatera Selatan, Rizal mengkritik keras kebijakan Menteri Keuangan Sri Mulyani.

Menurutnya, kebijakan ekonomi makro yang diterapkan menteri berpredikat terbaik dunia itu salah arah, sehingga membuat ekonomi mentok di 5%, dan cenderung nyungsep ke level 4%. "Ekonomi sedang melambat, budget malah dipotong, pajak diuber, itu bikin ekonomi nambah nyungsep," kata Bang RR, sapaan akrab Rizal Ramli.

Di satu sisi, tidak ada gebrakan atau strategi baru dari menteri yang disebutnya sebagai menteri terbalik itu dalam mengubah kondisi. Padahal saat itu, Jokowi perlu meyakinkan publik untuk menang di Pilpres 2019 melawan Prabowo Subianto, yang menjanjikan ekonomi bisa tumbuh 8% dalam 100 hari.

Prabowo, menurutnya, berpikir revolusioner kala itu. Sebab, ketum Partai Gerindra mengupayakan sejumlah hal demi mencapai tujuan. Mulai dari menurunkan tarif listrik, sehingga ibu-ibu dapat menghemat Rp500 ribu-Rp600 ribu per bulan, hingga rencana menurunkan harga sembako yang mampu menghemat pengeluaran rumah tangga hingga Rp50 ribu per hari atau sebulan Rp1,5 juta.

Alih alih melakukan gebrakan sama, pemerintah justru menwarkan solusi konyol. Jokowi meminta petani karet, sawit, dan kopra yang harganya anjlok beralih menanam jengkol dan pete. "Ini jelas sekali solusi pemerintah tidak cerdas," tegas mantan Menko Kemaritiman Kabinet kerja Jokowi itu.

Kini, ramalan mantan Menko Ekuin era Presiden Gus Dur ini, tak meleset jauh. Sejumlah sekuritas kakap asing, memproyeksikan bahwa perekonomian Indonesia akan tumbuh di bawah 5% pada 2019. Hal itu senada dengan prediksi Rizal Ramli. Semisal, JPMorgan Chase memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 4,9% pada 2019. Sementara, Deutsche Bank menaruh proyeksinya di level 4,8%.

Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu), Suahasil Nazara memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang tahun ini sebesar 5,05% secara tahunan (year on year). Atau lebih rendah ketimbang 2018 sebesar 5,17%.

Lagi-lagi faktor ketidakpastian perekonomian dunia dijadikan dalih kementerian keuangan, terkait perlambatan pertumbuhan ekonomi nasional 2019. "Indonesia tumbuh 5,02 persen pada kuartal ketiga 2019. Itu terbilang baik di tengah kondisi global seperti sekarang ini. Estimasi akhir tahun sebesar 5,05 persen juga bukan rendah, melainkan bisa memberikan momentum cukup," kata Suahasil.

Suahasil mengatakan, proyeksi pertumbuhan ekonomi 2019 sebesar 5,05%, terbilang optimistis. Hal itu karena negara-negara ekonomi sepadan (peers) mengalami perlambatan jauh lebih dalam ketimbang Indonesia. Misalnya, India, ataupun negara maju Cina. [ipe]