Komunitas MyBebe’B Milenial Peduli Lingkungan Bandung

Komunitas MyBebe’B Milenial Peduli Lingkungan Bandung
Ilustrasi (okky adiana)

INILAH, Bandung - Namanya Komunitas MyBebe’B Milenial Peduli Lingkungan Bandung. Setelah berdiri selama 3 tahun, tepatnya pada 5 November 2016, komunitas ini sudah banyak kontribusi, salah satunya adalah mengurangi penggunaan plastik dan mengolah limbah menjadi benda yang bermanfaat.

Pendiri Komunitas MyBebe’B Milenial, Didin Hasanudin Afif mengungkapkan, bencana alam yang kerap terjadi diberbagai wilayah salah satunya akibat budaya membuang sampah sembarangan, sehingga mengganggu keseimbangan ekosistem dan menimbulkan berbagai bencana.

"Seperti, pencemaran air, banjir, timbulnya berbagai penyakit, dan dampak lainnya,” ujar Didin, pada Selasa (10/12/2019).

Komunitas ini memang terbilang baru, namun Didin sudah mempunyai inovasi bernama Ecobrick yang mampu mengubah sampah plastik menjadi bahan baku pembuatan furnitur.

Ecobrick adalah botol plastik yang diisi padat memakai limbah non-biological untuk membuat blok bangunan yang dapat digunakan kembali. Ecobrick juga menjadi salah satu solusi dalam menanggulangi sampah lokal.

“Sampah-sampah ini diolah langsung oleh para anggota, mulai dari menyiapkan sampah plastik hingga botol plastik. Setelah sampah terkumpul, isi botol dengan plastik sampai padat dan tidak berubah bentuk saat ditekan, kemudian tutup kembali botol,” tuturnya.

Ecobrick ini, menurutnya, dapat dimanfaatkan sebagai material bangunan karena mempunyai sifat plastik yang awet, kuat, dan tahan air.

Komunitas MyBebe’B Milenial yang melibatkan generasi milenial ini sudah berjumlah 101 orang, terdiri dari kalangan siswa sekolah menengah atas (SMA)/sederajat di Bandung Timur, Kabupaten Bandung, dan sebagian wilayah Sumedang. Selain itu, ada juga mahasiswa (saat itu masih berstatus pelajar SMA di wilayah Cicalengka, red) di beberapa kampus.

Seperti Universitas Indonesia, Institut Pertanian Bogor, Institut Teknologi Bandung, Universitas Gadjah Mada, Unpad, UPI Bandung, Undip Semarang, UIN SGD Bandung, STAI Al Jawami Bandung, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Unikom Bandung, Poltek Piksi Ganesha Bandung, bahkan hingga universitas di Cina dan Taiwan.

“Ada juga anggota dari kalangan pelajar sekolah menengah pertama (SMP)/sederajat dan pekerja profesional milenial,” ujarnya.

Didin yang dibantu istrinya, Rani Pardiani dalam mengelola komunitas ini, dalam waktu dekat berencana memberi berbagai pelatihan. Antara lain, pelatihan mengolah sampah organik menjadi kompos, praktik penerapan biopori serta berpartisipasi dalam Gerakan Bandung Menanam dan Jabar Masagi.

Selain itu, digelar pelatihan ecopreneur bagi pemuda dan ecoliterasi bagi anggota komunitas serta menggelar seminar dan konsultasi pendidikan berbasis teknologi 4.0 dan akademi komunitas. (okky adiana)