Akses Jalan Buruk Kendala Kunjungan Wisata ke Taman Satwa Cikembulan

Akses Jalan Buruk Kendala Kunjungan Wisata ke Taman Satwa Cikembulan
Akses jalan buruk hingga kini masih menjadi kendala bagi  peningkatan jumlah kunjungan wisatawan ke Taman Satwa Cikembulan.

INILAH, Garut- Akses jalan buruk hingga kini masih menjadi kendala bagi  peningkatan jumlah kunjungan wisatawan ke Taman Satwa Cikembulan.

Padahal jumlah kunjungan wisatawan ke satu-satunya lembaga konservasi satwa di Jawa Barat itu terus meningkat dari tahun ke tahun.

Maklum, Taman Satwa Cikembulan terus berkembang bukan hanya sebagai lembaga konservasi namun juga wisata edukasi yang terus memanjakan kebutuhan pengunjungnya. Sehingga menjadi salah satu daerah tujuan wisata favorit keluarga.

Bukan hanya pengunjung lokal Garut melainkan dari luar Garut bahkan luar Pulau Jawa. Tak jarang bahkan pengunjung mancanegara menyempatkan diri menikmati keindahan suasana Taman Satwa di Desa Cikembulan Kecamatan Kadungora itu.

Tak heran keluhan pengunjung maupun pengendara lainnya pengguna jalan bersangkutan kerap mewarnai aktivitas pariwisata ke Taman Satwa Cikembulan karena merasakan ketidaknyamanan, dan rawan menimbulkan kecelakaan. Baik di musim kemarau maupun musim hujan.

Di musim hujan, kubangan air bersebaran di banyak titik. Pada kondisi kering di musim kemarau, batu-batu besar, dan tajam  tampak menonjol siap mengancam pengendara.

Ironisnya, Pemkab Garut terkesan melakukan pembiaran atas kerusakan jalan akses menuju Taman Satwa Cikembulan yang kali pertama dibuka sejak 2009 itu.

Alih-alih melakukan perbaikan atas kondisi jalan yang rusak tersebut, Pemkab Garut malah membuka sodetan baru jalur alternatif Kadungora-Leuwigoong-Leles dengan alasan untuk mengurai kemacetan yang sering terjadi di perempatan jalur masuk menuju Taman Satwa Cikembulan di Kiara Dodot.

Sempat disebut-sebut Pemkab Garut akan melakukan perbaikan jalan akses menuju Taman Satwa Cikembulan pada 2019. Namun hingga 2019 segera berakhir, tak ada tanda-tanda akan dilakukan perbaikan jalan tersebut.

“Aneh, jalan baru Kadungora-Leuwigoong-Leles terus dibenahi disempurnakan. Sedangkan jalan ke Taman Satwa yang juga terhubung ke Situ Cangkuang tak juga diperbaiki. Padahal lokasinya berdekatan,” sesal Hidayat (65) asal Samarang, Selasa (10/12/2019).

Senada dikemukakan Billy (27) pengunjung asal Bandung. Dia menyatakan keheranannya atas kondisi kondisi akses jalan ke Taman Satwa Cikembulan dibiarkan rusak bertahun-tahun. Padahal sejak lama, jalur jalan sepanjang kurang dari 10 kilometer itu sendiri merupakan urat nadi mobilitas transportasi moda pengangkut hasil pertanian maupun komoditas ekonomi masyarakat dari banyak desa.

Manajer Taman Satwa Cikembulan Rudy Arifin pun sama merasakan keheranan.

“Diakui atau tidak, Taman Satwa Cikembulan ini telah menjadi ikon edu-wanawisata primadona di Jawa Barat, khususnya di Garut. Bukan sekadar tempat berekreasi keluarga, tapi lembaga yang dapat mengedukasi anak seputar konservasi satwa. Mengenalkan anak akan berbagai jenis satwa dilindungi, dan terancam punah,” ujarnya.

Selain itu, kata Rudy, keberadaan Taman Satwa Cikembulan juga telah mendorong tumbuhnya aktivitas ekonomi warga sekitar dengan berbagai jenis usahanya. Baik terlibat langsung dalam pengelolaan taman satwa maupun aspek pendukung bagi pemenuhan berbagai kebutuhan, dan kenyamanan para pengunjung.(zainulmukhtar)