STIDC-ITB Bekerja Sama dalam Design Training Program 2019

STIDC-ITB Bekerja Sama dalam Design Training Program 2019
Dekan FSRD ITB Dr. Imam Santosa, M.Sn. (okky adiana)

INILAH, Bandung - Masih rendahnya kesadaran industri akan pentingnya desain sebagai competitive advantage membuat industri ini lebih berorientasi kepada pemenuhan pesanan (job order business) daripada pengembangan produk baru sebagai media promosi desain untuk meningkatkan citra bangsa.

Dekan FSRD ITB Dr. Imam Santosa, M.Sn mengatakan, untuk memenuhi kebutuhan pasar akan desain-desain furnitur yang baru untuk memenuhi selera pasar global, maka pada tahun 2018 lalu disepakati sebuah perjanjian kerja sama antara STIDC (Sarawak Timbre Industry Development Center) dan ITB (Institut Teknologi Bandung)

Kerja sama tersebut dalam rangka meningkatkan kemampuan SDM desainer furnitur STIDC, yang selanjutnya mereka sebut sebagai Poyod (Pool Young Designers) melalui kegiatan Design Training Program yang diselenggarakan oleh Faculty of Art and Design ITB.

"Dipilihnya ITB sebagai mitra kerja sama dilakukan dengan mempertimbangkan bahwa FSRD telah memiliki reputasi di bidang desain secara global dan telah menghasilkan desainer yang berkontribusi dalam pembangunan industri kreatif nasional yang berkarakter dan berciri khas. Pada kegiatan ini, STIDC mengirim 6 orang desainernya (salah satunya berkebangsaan Indonesia) untuk belajar lebih mendalam tentang desain furnitur dari berbagai aspek," papar Imam.

Imam Santosa mengatakan, kurikulum training disusun oleh Tim ITB untuk masa pembelajaran selama setahun yang terbagi menjadi sebuah design project dalam tiap semesternya. Pada semester pertama, peserta membuat kursi santai dengan bahan utama kayu. Selanjutnya di semester kedua para peserta membuat set furnitur berbahan utama kayu dengan kombinasi bambu maupun rotan.

Masing-masing peserta dibimbing oleh dosen dan desainer profesional yang memiliki reputasi tinggi dalam desain furniture. Aspek desain yang dipelajari meliputi daya tarik visual, karakteristik pengguna, material dan teknologi, selera pasar, dan design sustainability.

Imam menambahkan, untuk melengkapi kegiatan tersebut, dalam proses pembelajarannya peserta dilibatkan dalam kegiatan perancangan di studio, pengukuran faal di laboratorium ergonomi.

Kemudian, observasi lapangan di lingkungan industri furnitur kayu Wisanka Solo dan komunitas Small and Medium Enterprises di Garut, Tasikmalaya dan Jepara, attachment activities di firma atau konsultan desain ternama di Jakarta (PT Vivere) dan pembuatan serta pengujian prototipe serta mandiri di dalam workshop kerja.

"Selain itu, peserta juga menyempatkan mengikuti workshop desain di Jepang yaitu di Musashino Art University dan mini seminar desain di System Planning Laboratory di Chiba University serta mengunjungi spot-spot desain lainnya di Tokyo," ucapnya.

Tujuan utama dari kegiatan training ini, kata Imam, untuk memberikan pembekalan kepada desainer Poyod agar mereka mendapatkan informasi terkini tentang perkembangan desain furnitur dan wawasan desain secara luas dan komprehensif agar setelah kembali ke Serawak dapat diaplikasikan ke dunia industri melalui kegiatan pendampingan desain untuk industri dan dapat bersama-sama mengembangkan desain baru yang memiliki potensi baru dan serapan pasar yang tinggi.

Sebagai kulminasi dari kegiatan ini, hasil pengembangan desain akan dipamerkan pada kegiatan pameran di Tortona Milan Design Week di Italia yang akan diselenggarakan pada April 2020. Product exposure yang akan dipamerkan tersebut diharapkan mampu menumbuhkan iklim sadar desain di lingkungan industri furnitur di Serawak dari hasil yang dicapai oleh anak bangsa.

"Diharapkan pula dari kegiatan ini adalah semakin mempererat kerja sama pengembangan desain antarbangsa yang dapat meningkatkan citra desain Asia, khususnya ASEAN," tambahnya. (okky adiana)