Selain Akses Pasar, 1.074 Ponpes OPOP Dikucuri Modal Rp50 Miliar

Selain Akses Pasar, 1.074 Ponpes OPOP Dikucuri Modal Rp50 Miliar
Foto: Rianto Nurdiansyah

INILAH, Bandung - Selain akses pasar, ribuan pondok pesantren peserta program One Pesantren One Product (OPOP) akan mendapatkan permodalan mencapai Rp50 miliar. Diketahui, saat ini terdapat 1.074 pondok pesantren yang menjadi peserta program tersebut. 

Kepala UPTD P3W Diklat Perkoperasian dan Wirausaha Jabar Deni Handoyo mengatakan, program OPOP ini juga akan memberikan hadiah pada 1.074 ponpes tersebut selain berupa penguatan modal usaha. Namun, hadiah itu termasuk pelatihan dan pemagangan, pendampingan, promosi produk, hingga temu bisnis.

Adapun pelatihan dan pemagangan sudah dilakukan September hingga akhir Oktober 2019. Lokasi yang dipilih untuk pelatihan dan pemagangan yaitu di Koperasi Pesantren Al Ittifaq (Ciwidey), Daarut Tauhiid (Bandung), Husnul Khotimah (Kuningan), Al-Idrisiyah (Tasikmalaya), dan Nurul Iman (Bogor).

“Lima pesantren ini dipilih karena dianggap menjadi percontohan dari peogram OPOP. Usahanya sudah berjalan lama dan profit,” ujar Deni dalam konferensi pers di De Braga Artotel, Kota Bandung, Kamis (12/12/2019).

Lebih lanjut, dia mengatakan terdapat lima ponpes yang menjadi percontohan mendapatkan kesempatan untuk memanjangkan produknya di Halal Expo di Istanbul, Turki. Dalam kesempatan itu, lima pesantren bertemu dengan pembeli dari berbagai negara.

“Mereka mendapat kesempatan langsung bertemu buyer di sana. Ada yang sudah menjajaki kerja sama untuk ekspor produknya,” tutur dia.

Selain itu, kata dia, pendampingan usaha juga dilakukan melalui utusan dari Pemprov Jabar. Termasuk juga penyediaan bantuan modal usaha mencapai Rp50 miliar untuk 1.074 ponpes.

“Kita menyiapkan bantuan Rp50 miliar untuk program OPOP tahun ini,” ucap dia.

Sementara itu, Ketua Koperasi Pesantren Daarut Tauhid Bandung Peri Risnandar mengaku mendapatkan peluang kerja sama dengan dengan sejumlah negara saat mengikuti Halal Expo di Turki. Di antaranya kerja sama dengan Jordania, Serbia dan Nigeria.

“Ada perusahaan teavel dari Jordania. Sangat tertarik datang membuat paket halal. Serbia kebutuhan 10 ribu tas gendong. Nigeria ngajak pasaran produk kita di sana,” kata Peri.

Dia mengaku, saat ini Koperasi di Daarut Tauhid beromset Rp25 miliar per tahun. Menurutnya, penghasilan tersebut berasal dari berbagai lini usaha yang ada di ponpes pimpinan Abadullah Gymnastiar (Aa Gym) tersebut. 

“Kalau untuk koperasi sendiri Rp25 miliar. Kalau secara keseluruhan saya kurang tahu,” ujar Peri. 

Pengamat kewirausahaan sekaligus Dosen SBM ITB Wawan Dhewanto mengatakan OPOP adalah program inovatif. Sebab, melalui OPOP, pesantren dibina dan difasilitasi agar bisa mandiri dan memiliki daya saing ekonomi.

"Saya melihat OPOP ini satu program yang inovatif. Karena secara umum pondok pesantren adalah lembaga pendidikan dan pengajaran agama. Tapi ketika bisa masuk ke arah ekonomi, itu sebuah pendekatan yang out of the box, sesuatu yang inovatif," jelas Wawan. (Rianto Nurdiansyah)