Eks Mendag Jokowi Dorong Jepang Genjot Investasi

Eks Mendag Jokowi Dorong Jepang Genjot Investasi
Wakil Ketua DPR bidang Koordinasi Industri dan Pembangunan, Rachmat Gobel. (Inilahcom)

INILAH, Jakarta - Mantan Menteri Perdagangan di Kabinet Kerja yang kini menjabat Wakil Ketua DPR bidang Koordinasi Industri dan Pembangunan, Rachmat Gobel mengajak Keidanderan atau organisasi dunia usaha Jepang untuk meningkatkan kontribusi investasi di Indonesia.

"Indonesia tengah melakukan restorasi ekonomi dalam upaya mendorong transformasi dari negara berpenghasilan menengah (middle income) menuju negara berpenghasilan tinggi (high income) melalui visi Indonesia Emas 2045," kata Rachmat dalam keterangan pers di Jakarta, Kamis (12/12/2019).

Rachmat didampingi sejumlah Anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan Aceh, Maluku Utara dan Papua dan Gorontalo, berkunjung ke Tokyo, Jepang, pada 5-19 Desember 2019, untuk mempelajari kemajuan ekonomi dan pariwisata di Negeri Sakura itu khususnya dalam melestarikan lingkungan hidup, pertanian dan usaha menengah dan kecil (UKM).

Saat diterima Wakil Ketua Federasi Organisasi Ekonomi Jepang (Keidanren), Ken Kobayashi, Rachmat menyampaikan bahwa transformasi di Indonesia membuka berbagai peluang usaha dan investasi dalam jumlah besar, yang merupakan prospek kerja sama ekonomi yang saling menguntungkan bagi kedua negara

"Sejak Indonesia membuka peluang investasi melalui UU PMA pada 1968, Jepang adalah negara pertama yang merespon positif dengan mendirikan berbagai perusahaan patungan dengan Indonesia. Salah satu milestone pembangunan sektor industri manufaktur di Indonesia dimulai dengan industri otomotif, elektronika dan tekstil," ujarnya.

Kerja sama ini terus berlangsung selama ini telah berkontribusi sangat siginifikan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dunia usaha Jepang yang selama ini telah menanamkan modalnya di Indonesia. Investasi ini telah banyak memberi dampak positif dalam menggerakkan dan memajukan perekonomian Indonesia.

"Parlemen dan Pemerintah Indonesia, dalam waktu dekat akan membahas omninbus law yang tujuan memberi kemudahan bagi dunia usaha berinvestasi di Indonesia," katanya.

Sementara itu Wakil Ketua Keidanren yang juga Ketua Komite Ekonomi JepangIndonesia, Ken Kobayashi mengatakan, kemajuan ekonomi yang telah dicapai oleh Indonesia harus dibarengi pola pikir yang berubah, khususnya bagi anak-anak muda yang ingin bekerja.

"Dunia telah berubah. Indonesia yang melimpah dengan sumber daya alam, harus lebih maju daripada Jepang yang tidak memiliki sumber daya alam seperti Indonesia. Mari kita garap bersama dan maju bersama," kata Kobayashi.

Dunia usaha Jepang merupakan investor kedua terbesar di Indonesia. Berdasarkan data Jakarta Japan Club (JJC), dalam 10 tahun terakhir nilai investasi Jepang di Indonesia mencapai US4 31 miliar atau sekitar Rp450 triliun.

Investasi ini telah membuka lebih banyak lapangan kerja. Pada 2018 lalu, tidak kurang dari 7,2 juta angkatan kerja Indonesia yang bekerja di perusahaan Jepang, naik sekitar 53% dibandingkan 2015 sebesar 4,7 juta. Kontribusi perusahaan Jepang terhadap PDB Indonesia naik dari 6,1% pada 2015 menjadi 8,5% pada 2018, atau naik dari US$52,5 miliar menjadi US$85,9 miliar.

Jepang juga tercatat sebagai negara kreditor terbesar pemerintah Indonesia dalam berbagai pembangunan infrastruktur. Pinjaman lunak yang diberi melalui Japan International Cooperation Agency (JICA) sangat membantu Indonesia dalam membangun berbagai infrastruktur.

Perfektur Shiga
Selain melakukan pembicaraan dengan berbagai pihak, Rachmat Gobel juga mengunjungi Perfektur Shiga, menjajaki peluang kerja sama dengan pemerintahan daerah Shiga dalam revitalisasi danau yang menjadi prioritas pemerintah ke depan.

Di lingkungan internasional, daerah ini dikenal telah berhasil revitalisasi Danau Bhiwa, yang tidak hanya sukses menjadi obyek wisata tapi juga menjadi sumber air minum dan pertanian.

Ia akan mendorong kerja sama Perfektur Shiga dengan pemerintah daerah pemilihannya yaitu Provinsi Gorontalo, untuk melakukan revitalisasi Danau Limboto. Danau ini mempunyai peran strategis untuk wilayah Gorontalo, namun kini tengah mengalami krisis.

Karena terjadi pendangkalan, luas danau yang dulunya 8.000 ha kini menyusut menjadi 3.000 ha. Kedalaman yang semula mencapai 12 meter, kini tinggal 3 meter. "Oleh karena itu perlu penggerukan untuk menyelamatkan danau ini agar bisa kembali berpotensi sebagai daya tarik pariwisata Gorontalo," kata Rachmat. [Inilahcom]