OJK Ingatkan Konsumen, Investasi Syariah Ini Aman?

OJK Ingatkan Konsumen, Investasi Syariah Ini Aman?
Ketua Satgas Waspada Investasi OJK, Tongam L Tobing. (Inilahcom)

INILAH, Medan - Satuan Tugas Waspada Investasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memprediksikan, penawaran investasi ilegal bakal semakin meningkat. Polanya semakin canggih, masyarakat harus lebih waspada.

"Peningkatan penawaran investasi ilegal sejalan dengan perkembangan teknologi informasi bahkan hingga ke desa," ujar Ketua Satgas Waspada Investasi OJK, Tongam L Tobing di Medan, Sumatera Utara, Kamis (12/12/2019).

Jaringan internet yang semakin meluas dan penggunaan android yang semakin banyak membuat komunikasi ke masyarakat semakin mudah. "Perusahaan gampang menawarkan dan sebaliknya masyarakat semakin mudah mengakses ke perusahaan termasuk yang menawarkan investasi ilegal," katanya.

Didampingi Humas OJK Kantor Regional 5 Sumbagut, Yovie Sukanda, Tongam menjelaskan, penawaran investasi ilegal terus meningkat. Pada 2017 terdeteksi 80 entitas dan tahun 2018 sudah naik menjadi 108 entitas serta 2019 terdeteksi 444 entitas ditambah 68 Pegadaian ilegal yang sudah diblokir.

Tongam mengakui, selain penawaran investasi ilegal, penawaran multi level marketing (MLM) dan financial technology (fintech) ilegal meningkat. Dewasa ini, katanya, ada144 fintech yang dapat izin OJK dan ribuan ilegal. Berdasarkan data, jumlah pinjaman online sebanyak 14 juta orang dengan outstanding pinjaman mencapai Rp10,1 triliun.

Awas Investasi Syariah Abal-abal
Imam Shamsi Ali, tokoh Muslim yang bermukim di Amerika Serikat (AS), memperingatkan kaum Muslim di Indonesia untuk tidak mudah percaya kepada industri jasa keuangan yang menganut sistem syariah.

Putera asal Kajang, Sulawesi Selatan ini, menyoroti sepak terjang Hartadinata, pendiri Stern Resources (SR) Group yang merambah bisnis syariah di Indonesia, melalui sistem pembayaran syariah bernama Syariah Islam (SI) LLC.

Melalui akun twitter @ShamsiAli2, dia mempermasalahkan Hartadinata yang merupakan putera Richardus Harianto yang non Muslim, tapi berbisnis keuangan syariah di Indonesia. Selain itu, dia meragukan kegiatan bisnis dari SR Group. Artinya, perusahaannya memang terdaftar namun tidak ada usahanya.

Bahkan, sempat menggalang dana dari investor untuk mendirikan channel TV di AS namun gagal. Alhasil, investor merasa dibohongi dan menuntut dananya dikembalikan. Dengan kata lain, rekam jejak bisnisnya cukup meragukan.

Dalam twitter, Shamsi Ali yang kini tengah menggagas pembangunan pondok pesantren di AS itu, mencuitkan begini. "Sekarang menjual syariah, masuk pesantren, pakai kopiah haji. Mau bisnis haji/umrah....hati-hati wahai umat Islam! Banyak penipu, Scam!"

Dikutip dari Times.co.id, pada 10 Septemner 2019, Stern Resources (SR) Group meluncurkan sistem pembiayaan syariah (SI LLC) di Ponpes Nurul Khidmah, Tandes, Surabaya, Jawa Timur. Dalam acara tersebut, dihadiri ulama, kiayi, developer, partner SR Group dari berbagai pelosok Tanah Air serta umat. Mereka turut menjadi saksi lahirnya terobosan layanan inovasi finansial tersebut.

Informasi saja, SR Group berkantor pusat di New York, bisnis utamanya adalah pendanaan proyek pembangunan di Indonesia yang sedang berkembang pesat dengan empat produk yaitu properti syariah, healthcare syariah (rumah sakit dan klinik), halal tourism (haji dan umrah), serta agro bisnis. "Kami ingin memberikan layanan pembiayaan syariah terbaik dan terbesar sebagai media sharing ekonomi untuk mencapai kesejahteraan bersama," terang Hartadinata.

Dalam tiga bulan SI LLC akan menyelesaikan lima puluh project di dua bidang yakni 48 properti syariah dan dua project healthcare. Properti akan menyasar segmen perumahan subsidi menyentuh masyarakat bawah.

Stern Resources Group menangkap peluang pembiayaan syariah dengan membuka cabang di beberapa kota besar dan kabupaten sebagai kantor perwakilan.

Sepak terjang perusahaan raksasa di Amerika tersebut tidak perlu diragukan lagi. Beberapa gedung apartemen dan hotel di New York City, seperti Four Point Hotel, Holiday Inn Hotel dan Westin Hotel telah digarap secara serius oleh perusahaan investasi berskala internasional ini.

Perusahaan ini memang terdaftar di Departemen Commerce Negeri Paman Sam. Informasi saja, izin mendirikan perusahaan di AS, cukup mudah. Asalkan punya Security Social (SS). Masalahnya, ketika masuk ke Indonesia, harusnya terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Jadi, sebaiknya jangan mudah tergiur dengan tawaran investasi. Tentu saja, termasuk tawaran dari investasi yang berbasiskan syariah. Sebelum menjadi korban investasi bodong atau abal-abal, sebaiknya lakukan cek dan ricek ke pihak yang berwenang. [inilahcom]